Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Iran Kuasai Taktik Rusia dari Ukraina untuk Lumpuhkan Starlink

2026-01-16 | 20:14 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-16T13:14:04Z
Ruang Iklan

Iran Kuasai Taktik Rusia dari Ukraina untuk Lumpuhkan Starlink

Pemerintah Iran telah secara signifikan meningkatkan upayanya untuk melumpuhkan layanan internet satelit Starlink di tengah gelombang protes nasional yang terus berlanjut, dengan menerapkan teknologi jamming tingkat militer yang oleh para ahli dan peneliti disamakan dengan taktik yang digunakan oleh Rusia untuk mengganggu konektivitas Starlink di Ukraina. Langkah ini merupakan eskalasi terbaru dalam perang informasi yang bertujuan untuk mengisolasi populasi Iran dari dunia luar dan menekan perbedaan pendapat.

Penyebaran sistem elektronik militer ini menargetkan puluhan ribu terminal Starlink yang telah diselundupkan ke Iran sejak tahun 2022, menawarkan jalur komunikasi penting bagi aktivis dan warga negara untuk melewati pemadaman internet yang diberlakukan pemerintah. Para ahli menyatakan bahwa teknologi jamming yang digunakan Iran, yang biasanya hanya terlihat di zona konflik seperti Ukraina, secara khusus mengganggu sinyal GPS yang diandalkan Starlink untuk berfungsi. Upaya jamming ini dilaporkan telah mengganggu 30% dari lalu lintas uplink dan downlink Starlink pada awalnya, dengan beberapa laporan menunjukkan gangguan meningkat menjadi lebih dari 80% di area-area tertentu dalam hitungan jam.

Starlink, yang dioperasikan oleh SpaceX milik Elon Musk, menjadi sangat penting di Iran, terutama setelah pemerintah memutus akses internet bagi 90 juta penduduk negara itu pada 8 Januari 2026, di tengah meluasnya protes atas masalah ekonomi. Aktivis seperti Mehdi Yahyanejad, salah satu pendiri Net Freedom Pioneers, menekankan peran penting Starlink dalam memungkinkan video dan gambar protes serta tindakan keras pemerintah dapat tersebar ke seluruh dunia. Diperkirakan antara 50.000 hingga lebih dari 100.000 terminal Starlink telah diselundupkan ke Iran, meskipun penggunaannya ilegal di bawah peraturan telekomunikasi Iran.

Paralel dengan taktik Rusia di Ukraina sangat mencolok. Rusia telah berulang kali berupaya mengganggu layanan Starlink di Ukraina sejak invasi skala penuh pada Februari 2022, dengan upaya jamming yang semakin canggih. Pasukan Ukraina melaporkan bahwa layanan Starlink yang macet menghambat kemampuan mereka untuk berkomunikasi dengan cepat, mengumpulkan intelijen, dan melakukan serangan drone, terutama selama operasi ofensif besar. Mykhailo Federov, menteri digital Ukraina, menyatakan bahwa Rusia sedang "menguji mekanisme yang berbeda untuk mengganggu kualitas koneksi Starlink karena itu sangat penting bagi kami," menggunakan "teknologi baru dan lebih canggih." Beberapa ahli dan laporan menunjukkan bahwa peralatan jamming canggih yang digunakan Iran kemungkinan telah dipasok oleh Rusia atau Tiongkok. Sistem Rusia seperti Krasukha-4, sebuah stasiun jamming seluler dengan jangkauan hingga 300 km yang beroperasi pada pita X dan Ku (frekuensi yang tumpang tindih dengan downlink Starlink), dan Tirada-2s, yang dirancang untuk jamming uplink, dikenal karena kemampuannya dalam perang elektronik.

Kapasitas Iran untuk melakukan perang elektronik telah berkembang selama dua dekade terakhir melalui akuisisi asing dan inovasi domestik. Iran telah mengembangkan berbagai sistem EW yang mampu mengganggu radar, tautan komunikasi, sinyal GPS, dan navigasi satelit. Negara ini memiliki sejarah panjang sensor internet, termasuk pemadaman total internet dan pengembangan Jaringan Informasi Nasional (NIN) untuk mengontrol akses dan membatasi media independen. Pemadaman internet pada 8 Januari 2026, adalah "penyebaran paling cepat dari kill-switch" yang pernah dilacak oleh NetBlocks di Iran, menurut direkturnya, Alp Toker.

Menanggapi gangguan tersebut, SpaceX dilaporkan mengalokasikan "sumber daya signifikan untuk memerangi upaya jamming Rusia" dan telah mendorong pembaruan perangkat lunak untuk mengurangi gangguan. Starlink menggunakan teknologi anti-jamming seperti "nulling" atau "aikido elektronik," yang melibatkan penyesuaian fase elemen antena untuk membatalkan sinyal dari sudut tertentu. Namun, ancaman terhadap Starlink di Iran tidak hanya bersifat teknis. Pemerintah Iran secara aktif memburu pengguna Starlink, menyita terminal, dan bahkan menetapkan kepemilikan perangkat tersebut sebagai tindakan spionase yang dapat dihukum hingga 10 tahun penjara berdasarkan undang-undang yang disahkan pada tahun 2025.

Implikasi dari tindakan Iran ini sangat luas. Bagi warga Iran, hal ini berarti pembatasan akses informasi yang lebih parah dan meningkatnya risiko bagi mereka yang berusaha terhubung ke dunia luar. Kerugian ekonomi dari pemadaman internet ini juga besar, diperkirakan mencapai $1,56 juta setiap jamnya bagi perekonomian Iran. Secara lebih luas, upaya Iran menantang asumsi tentang ketahanan internet satelit di wilayah yang diperebutkan, menyoroti tantangan yang dihadapi penyedia layanan seperti Starlink dalam lingkungan dengan perang elektronik yang canggih. Kasus ini menunjukkan perlombaan senjata teknologi yang sedang berlangsung antara penyedia layanan satelit yang berusaha memastikan konektivitas dan rezim yang bertekad untuk mengontrol aliran informasi.