Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Jebakan Setting HP Baru: Hindari Kekeliruan Fatal yang Sering Terlupakan

2026-01-09 | 17:31 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-09T10:31:22Z
Ruang Iklan

Jebakan Setting HP Baru: Hindari Kekeliruan Fatal yang Sering Terlupakan

Kegagalan mengoptimalkan konfigurasi awal perangkat baru saat pembelian seringkali meninggalkan celah keamanan serius, mengurangi kinerja jangka panjang, dan mengorbankan privasi data pengguna di tengah ekosistem digital yang semakin kompleks. Pengguna cenderung mengabaikan langkah-langkah krusial seperti pembaruan perangkat lunak, pengaturan privasi aplikasi, dan pembersihan bloatware, yang secara kolektif berpotensi menimbulkan kerugian signifikan di masa mendatang.

Secara historis, transisi ke perangkat baru selalu melibatkan transfer data dan personalisasi, namun dengan semakin canggihnya fitur smartphone, proses ini menuntut kehati-hatian lebih. Banyak pengguna, dalam euforia memiliki ponsel baru, terburu-buru menyalin seluruh isi ponsel lama, termasuk aplikasi yang tidak relevan atau jarang digunakan, tanpa seleksi. Praktik ini tidak hanya memenuhi memori perangkat baru secara tidak efisien, tetapi juga membawa serta potensi celah keamanan dari aplikasi usang.

Salah satu kesalahan paling fatal adalah menunda pembaruan perangkat lunak. Studi dari The Hidden Dangers of Outdated Software: A Cyber Security Perspective menunjukkan sekitar 32% serangan siber memanfaatkan celah dari perangkat lunak yang belum diperbarui. Google sendiri secara rutin merilis pembaruan keamanan penting yang menambal kerentanan, termasuk celah zero-day yang telah dieksploitasi penjahat siber. Tanpa pembaruan rutin, perangkat menjadi lebih rentan terhadap malware, pencurian data, hingga serangan ransomware. Pakar keamanan Lookout menekankan bahwa "ketika sebuah perangkat lunak memiliki kerentanan zero-day, Anda berisiko mengalami pelanggaran data yang merugikan dan mengorbankan keamanan". Selain itu, perangkat yang tidak diperbarui akan mengalami penurunan kinerja, aplikasi menjadi tidak kompatibel, dan masalah bug yang mengganggu akan menumpuk.

Aspek privasi juga sering terabaikan. Pengguna kerap memberikan izin notifikasi atau akses aplikasi secara sembarangan tanpa mempertimbangkan dampaknya. Survei Kementerian Komunikasi dan Informatika bersama Katadata Insight Center (KIC) pada Juli 2021 menunjukkan bahwa 55,5% pengguna Facebook membuka profil secara publik, dan 25,5% pengguna Instagram tidak mengubah pengaturan akun sejak bergabung. Survei yang sama juga menemukan bahwa sebagian kecil responden (15%) tidak sadar saat dimintai izin oleh aplikasi untuk mengakses mikrofon, kamera, dan data pribadi. Padahal, pengaturan izin akses aplikasi yang tidak perlu, seperti lokasi, kamera, atau mikrofon untuk aplikasi yang tidak membutuhkannya, dapat dievaluasi melalui menu "Security and privacy" atau "Privacy controls". Mengelola izin akses lokasi akurat dan mematikan iklan yang terpersonalisasi juga merupakan langkah krusial untuk menjaga privasi digital.

Selain itu, bloatware—aplikasi pra-instal yang seringkali tidak diinginkan atau tidak relevan—secara signifikan memengaruhi kinerja ponsel baru. Aplikasi ini menghabiskan ruang penyimpanan, menguras daya baterai, mengurangi kapasitas RAM, dan menyebabkan notifikasi berlebihan. Meskipun beberapa di antaranya dapat dihapus atau dinonaktifkan, banyak pengguna membiarkannya, sehingga memperlambat perangkat dan mengurangi pengalaman penggunaan secara keseluruhan. Irfan Asrar, peneliti keamanan ponsel pintar dari Appthority, menjelaskan bahwa keberadaan bloatware salah satunya disebabkan oleh margin keuntungan kecil yang diperoleh pabrikan gawai dari kerja sama dengan pengembang aplikasi untuk menginstal program mereka secara otomatis.

Implikasi dari kesalahan-kesalahan ini sangat luas. Dari sudut pandang keamanan, data pribadi, informasi perbankan, dan identitas digital dapat dengan mudah dicuri atau disalahgunakan. Sementara itu, dari sisi kinerja, perangkat baru yang seharusnya tangguh bisa menjadi lambat, baterai cepat habis, dan mengalami software rot—penurunan kualitas software secara bertahap—akibat pembaruan yang tertunda dan aplikasi yang tidak teroptimasi. Untuk mencegah risiko ini, aktivasi kunci layar yang kuat (PIN, pola, sidik jari, atau pengenalan wajah), mengaktifkan verifikasi dua langkah, dan melakukan pencadangan data secara berkala adalah langkah fundamental. Enkripsi data juga penting untuk melindungi informasi jika perangkat hilang atau dicuri. Mengabaikan pengaturan awal ini berarti membuka pintu bagi berbagai ancaman siber dan mengurangi nilai investasi pada perangkat baru.