
PT Telkomsel secara agresif memperkuat posisi IndiHome, layanan televisi protokol internet (IPTV) dan fixed broadband miliknya, melalui strategi konvergensi tetap-bergerak (Fixed Mobile Convergence/FMC) dan diversifikasi konten. Langkah ini diambil di tengah gempuran layanan video over-the-top (OTT) global seperti Netflix dan Disney+ yang mendisrupsi pasar hiburan digital Indonesia. IndiHome secara resmi terintegrasi ke dalam Telkomsel pada 1 Juli 2023, sebagai bagian dari inisiatif "Five Bold Moves" TelkomGroup untuk mengelola segmen Business-to-Consumer (B2C) sepenuhnya di bawah kendali Telkomsel.
Integrasi ini dirancang untuk menciptakan nilai bisnis tambahan dan mengonsolidasi pasar broadband TelkomGroup, memberikan pengalaman pelanggan yang lebih baik, efisiensi belanja modal (Capex) yang lebih optimal, serta integrasi data yang kuat. Telkomsel menargetkan penambahan 800.000 hingga 1 juta pelanggan IndiHome baru setiap tahun, meskipun persaingan di pasar fixed broadband semakin ketat. Pada akhir tahun fiskal 2024, basis pelanggan B2C IndiHome tumbuh 10,6% secara tahunan (YoY) menjadi 9,6 juta, dengan total penambahan pelanggan bersih sekitar 1 juta. Per September 2024, IndiHome menguasai 60% pangsa pasar pelanggan broadband tetap.
Strategi utama Telkomsel adalah Fixed Mobile Convergence (FMC), yang menggabungkan layanan broadband tetap IndiHome dan seluler Telkomsel dalam satu paket terpadu, seperti Telkomsel One. Pendekatan ini bertujuan meningkatkan loyalitas pelanggan dan pendapatan per rumah tangga. Tingkat penetrasi konvergensi meningkat signifikan dari 37% pada Juli 2023 menjadi 53% pada September 2024, menunjukkan keberhasilan awal strategi ini dalam mengikat pelanggan ke dalam paket konvergensi. CEO Telkomsel, Hendri Mulya Syam, menyatakan bahwa inisiatif FMC akan memperkuat posisi Telkomsel sebagai perusahaan telekomunikasi digital terkemuka di Indonesia, yang secara konsisten menghadirkan inovasi produk dan layanan konvergensi.
Namun, pertumbuhan jumlah pelanggan diiringi tekanan pada pendapatan rata-rata per pengguna (ARPU). ARPU IndiHome B2C menurun 6,0% YoY menjadi Rp237.600 pada FY2024 dari Rp252.700 pada 2023. Penurunan ini berlanjut pada 9M25, dengan ARPU dilaporkan turun 9,4% YoY menjadi Rp216.700, mencerminkan pergeseran perilaku pelanggan menuju paket internet saja dibandingkan paket bundling IPTV dan telepon. Pada semester pertama 2025, nilai ARPU mencapai Rp220.000.
Dalam menghadapi dominasi layanan streaming seperti Netflix, Disney+, dan Amazon Prime Video, IndiHome berinvestasi pada diversifikasi konten dan kemitraan. IndiHome telah menjalin kerja sama dengan Netflix, Disney+, Prime Video, Vidio, Viu, dan lainnya, menawarkan paket bundling yang memungkinkan pelanggan mengakses berbagai layanan hiburan digital melalui satu platform. Sebelumnya, IndiHome juga telah berkolaborasi dengan MNC Media untuk produksi, akuisisi, dan distribusi program televisi. Perusahaan ini juga memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan pengalaman pelanggan, mengoptimalkan kinerja jaringan, dan menghadirkan penawaran konten yang lebih personal.
Telkomsel juga fokus pada peningkatan infrastruktur teknis. Investasi dalam jaringan fiber optik dan teknologi 5G di berbagai wilayah strategis Indonesia menjadi bagian integral dari inovasi mereka untuk memastikan layanan berkualitas tinggi dan stabilitas koneksi. Jaringan fiber optik Telkom telah menjangkau 38 juta rumah tangga. Telkomsel juga menjalankan strategi pemasaran yang meliputi bundling, penjualan melalui saluran digital, kampanye promosi, dan pemasaran influencer, dengan fokus tambahan pada wilayah yang kurang terlayani untuk memperluas jangkauan pelanggan. Upaya ini juga mencakup pembangunan kembali kepercayaan merek yang sempat terpengaruh oleh persepsi ketidakstabilan jaringan di masa lalu.
Pasar OTT Indonesia menunjukkan pertumbuhan eksplosif, dengan proyeksi nilai pasar mencapai USD 16,39 miliar pada 2031, tumbuh pada tingkat majemuk tahunan (CAGR) sebesar 31,3% dari 2022. Netflix menduduki posisi teratas dalam pendapatan, sementara Disney+ Hotstar memimpin dalam jumlah pelanggan berbayar. Persaingan di pasar OTT sangat ketat, dengan lebih dari 50 penyedia layanan diperkirakan beroperasi pada 2024. Tantangan lain bagi penyedia TV berbayar tradisional dan platform OTT adalah pembajakan konten yang merajalela di Indonesia. Telkomsel berupaya mengatasi tantangan ini dengan mengedepankan integrasi layanan, inovasi produk, dan pengalaman pelanggan yang komprehensif. Upaya ini menjadi krusial dalam mempertahankan dan memperluas basis pelanggan IndiHome di tengah pergeseran preferensi konsumen ke layanan digital berbasis aplikasi.