:strip_icc()/kly-media-production/medias/1105336/original/016381800_1452248774-Spooring.jpg)
Memahami waktu yang tepat untuk mengganti ban mobil merupakan krusial dalam menjaga keselamatan berkendara serta efisiensi operasional kendaraan. Analisis Korlantas Polri per Juni 2024 menunjukkan kecelakaan akibat faktor ban masih menyumbang 18-22% dari total kasus, dengan tren peningkatan 2-3% di musim penghujan, menegaskan urgensi perhatian terhadap kondisi komponen vital ini. Para pakar keselamatan otomotif dan produsen ban secara konsisten menekankan bahwa menunda penggantian ban dapat berujung pada konsekuensi fatal, mulai dari menurunnya daya cengkeram hingga risiko pecah ban di kecepatan tinggi.
Secara umum, ban mobil memiliki masa pakai ideal sekitar 3 hingga 5 tahun atau menempuh jarak antara 40.000 hingga 50.000 kilometer, meskipun angka ini dapat bervariasi tergantung pada merek dan jenis pemakaian. Contohnya, Bagus Raditya, Supervisor Trijaya Ban 83, Jakarta Timur, menyatakan bahwa rata-rata ban mobil bisa dipakai hingga 50.000 km atau sekitar 4 tahun untuk penggunaan harian, namun ia juga mencatat kasus di mana ban mampu bertahan hingga 120.000 km dengan perawatan optimal. Produsen ban global seperti Michelin bahkan merekomendasikan penggantian ban setelah 10 tahun dari tanggal produksi, terlepas dari kondisi fisik atau jarak tempuh, sebagai langkah pencegahan.
Indikator paling konkret untuk penggantian ban adalah kedalaman tapak. Batas kedalaman tapak ban minimum yang aman secara legal dan direkomendasikan adalah 1,6 milimeter. Mochammad Fachrul Rozi, Customer Engineering Support Michelin Indonesia, menegaskan bahwa pada kedalaman 1,6 milimeter, alur ban masih memiliki rongga untuk mengevakuasi air, memastikan daya cengkeram tetap optimal, terutama saat melintasi jalan basah. Jika kedalaman tapak kurang dari angka tersebut, ban dianggap aus dan kemampuan mencengkeramnya berkurang drastis, meningkatkan risiko aquaplaning dan jarak pengereman yang lebih panjang. Banyak ban modern dilengkapi dengan Tread Wear Indicator (TWI) berupa tonjolan kecil di dalam alur tapak, yang berfungsi sebagai penanda visual ketika ban telah mencapai batas keausan.
Beberapa faktor mempercepat keausan ban. Tekanan angin yang tidak sesuai — baik terlalu rendah maupun terlalu tinggi — adalah penyebab umum keausan tidak merata dan berlebihan. Tekanan rendah menyebabkan kedua sisi pinggir ban aus lebih cepat, sementara tekanan berlebih membuat bagian tengah tapak menipis. Gaya mengemudi yang agresif, seperti pengereman mendadak dan akselerasi tajam, serta kondisi jalan yang buruk seperti berlubang atau berbatu, juga signifikan memperpendek umur ban. Rotasi ban secara berkala, idealnya setiap 8.000 hingga 10.000 kilometer atau setiap 6 bulan sekali, menjadi praktik penting untuk memastikan keausan merata pada semua ban, sehingga memperpanjang usia pakainya dan menjaga stabilitas kendaraan.
Dalam menghadapi tantangan keselamatan dan efisiensi, industri otomotif terus berinovasi. Sistem Pemantauan Tekanan Ban (TPMS) merupakan teknologi standar pada kendaraan baru di Eropa (sejak 2014) dan AS (sejak 2007), yang memberikan informasi tekanan ban secara real-time kepada pengemudi melalui layar dasbor atau lampu peringatan. Meskipun TPMS baru aktif ketika ban kehilangan sekitar 20% udaranya, teknologi ini secara signifikan mengurangi insiden yang disebabkan oleh tekanan ban yang tidak ideal. Lebih jauh lagi, pengembangan "Smart Tire" dengan sensor terintegrasi memungkinkan pemantauan suhu, tekanan, dan bahkan tingkat keausan secara real-time yang terhubung ke sistem kendaraan atau aplikasi seluler, memberikan data akurat untuk tindakan pencegahan. Inovasi lain seperti teknologi Run-Flat Tyre (RFT) yang memungkinkan kendaraan tetap berjalan aman setelah mengalami kebocoran hingga jarak tertentu, juga meningkatkan lapisan keamanan.
Peningkatan kesadaran akan dampak lingkungan juga mendorong pengembangan ban ramah lingkungan yang menggunakan material daur ulang dan desain yang mengurangi hambatan gulir (rolling resistance), berkontribusi pada efisiensi bahan bakar dan pengurangan emisi karbon. Transformasi teknologi ban ini menandai pergeseran paradigma menuju mobilitas yang lebih aman, efisien, dan berkelanjutan. Oleh karena itu, bagi setiap pemilik kendaraan, memahami batas ideal penggantian ban, didukung dengan pemanfaatan teknologi modern dan perawatan rutin, bukan lagi sekadar rekomendasi, melainkan sebuah keharusan untuk melindungi diri dan pengguna jalan lainnya.