:strip_icc():watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,573,20,0)/kly-media-production/medias/5472012/original/016843600_1768304137-20260113_142546.jpg)
Lenovo pada Selasa, 13 Januari 2026, mengungkapkan bahwa implementasi kecerdasan buatan hibrida (Hybrid AI) telah menjadi keharusan mutlak bagi perusahaan di Asia Tenggara, menyoroti pergeseran strategis dari sekadar eksperimen menuju adopsi berbasis hasil yang didorong oleh kebutuhan akan keamanan, latensi rendah, dan fleksibilitas operasional. Pernyataan ini disampaikan dalam ajang Lenovo Tech Day 2026 di Jakarta, di mana perusahaan juga memperkenalkan laporan tahunan CIO Playbook 2026.
Data terbaru dari studi Lenovo menunjukkan 68 persen organisasi di kawasan ASEAN+ telah memimpin dalam adopsi infrastruktur AI hibrida, melampaui rata-rata global sebesar 63 persen dan Asia Pasifik sebesar 65 persen. Preferensi ini muncul dari tuntutan untuk lingkungan yang aman, latensi rendah, dan kemampuan operasional yang adaptif dalam menjalankan beban kerja AI. Budi Janto, dari Lenovo Indonesia, menegaskan, "beban untuk load-nya itu sudah tidak mumpuni. Jadi hybrid AI itu bukan pilihan, tapi itu sudah keharusan bagi perusahaan-perusahaan yang di ASEAN."
Meskipun investasi AI di Asia Pasifik diperkirakan meningkat 3,3 kali lipat dan di ASEAN+ sebesar 2,7 kali lipat, adopsi AI secara keseluruhan di kawasan ini masih berada pada tahap awal. Sekitar 47 persen organisasi di ASEAN+ masih dalam tahap evaluasi atau perencanaan untuk mengimplementasikan AI dalam 12 bulan ke depan, sedikit tertinggal dari rata-rata Asia Pasifik (56 persen) dan global (49 persen). Tantangan utama yang menghambat percepatan adopsi adalah kesulitan dalam membuktikan pengembalian investasi (ROI), dengan perusahaan Asia Pasifik mengharapkan ROI rata-rata 3,6 kali dari proyek AI mereka.
Beyond the immediate technical shifts, the CIO Playbook 2025 Lenovo, yang disusun dari riset terhadap lebih dari 2.900 pembuat keputusan TI dan bisnis secara global, termasuk 900 dari 12 pasar Asia Pasifik, menyoroti pergeseran prioritas. Tata kelola, risiko, dan kepatuhan (GRC) telah melonjak 12 peringkat menjadi prioritas utama bagi CIO di Asia Pasifik untuk tahun 2025, mencerminkan fokus pada AI yang aman dan bertanggung jawab. Namun, implementasi kebijakan GRC AI yang sepenuhnya diterapkan masih rendah, hanya mencapai sekitar 24 hingga 25 persen organisasi secara global dan di Asia Pasifik.
Kesenjangan keahlian juga menjadi hambatan signifikan, dengan 41 persen organisasi melaporkan kekurangan personel terampil khusus sebagai penyebab kegagalan implementasi AI. Selain itu, kualitas data yang tidak dapat dipercaya atau buruk (40 persen) dan ketidakmampuan mengakses data karena pembatasan bisnis (36 persen) merupakan alasan utama kegagalan AI. Biaya yang terkait dengan pengembangan dan penyebaran AI juga tetap menjadi tantangan, memengaruhi sekitar 30 persen perusahaan.
Dalam konteks ini, Generative AI (GenAI) memainkan peran penting, dengan 42 persen investasi AI di ASEAN+ pada tahun 2025 dialokasikan untuk teknologi ini. Layanan pelanggan muncul sebagai kasus penggunaan GenAI terdepan di ASEAN+, sementara operasi TI mendominasi di kawasan Asia Pasifik yang lebih luas. Seiring dengan percepatan adopsi AI, para pemimpin bisnis di Asia Tenggara semakin sadar bahwa AI bukan lagi sekadar inovasi marginal, melainkan teknologi fundamental yang mendorong transformasi skala besar.
Implikasi jangka panjang dari adopsi AI hibrida di ASEAN sangat luas. McKinsey dan Boston Consulting Group memproyeksikan bahwa AI dapat menyumbang hingga $1 triliun pada PDB Asia Tenggara pada tahun 2030, menandai potensi ekonomi transformatif teknologi ini. Percepatan investasi dalam infrastruktur digital, termasuk pusat data, sedang berlangsung di seluruh wilayah, dengan Singapura mempertahankan posisinya sebagai pusat investasi dan inovasi AI. Lenovo, dengan visi "Smarter Technology for All", berkomitmen untuk memajukan solusi AI yang aman, etis, dan mudah diakses di seluruh domain konsumen, perusahaan, dan publik.
Meskipun optimisme mengenai potensi AI di Asia Tenggara tinggi, dengan negara-negara seperti Indonesia dan Thailand menunjukkan pandangan positif, tantangan seperti kerangka hukum dan peraturan yang terfragmentasi, kesenjangan infrastruktur digital, dan kepercayaan publik yang belum merata masih ada. Untuk mengatasi hambatan ini, pendekatan hibrida terhadap tata kelola AI, yang menggabungkan prinsip fleksibilitas dan inovasi dengan fondasi yang kuat dalam etika dan akuntabilitas, sangat diperlukan. Kemitraan strategis dan layanan AI profesional juga semakin penting, dengan 44 persen CIO ASEAN+ sudah memanfaatkan layanan ini untuk mengatasi kompleksitas manajemen data, kekurangan talenta, dan efisiensi biaya. Ini menunjukkan bahwa adopsi AI yang berkelanjutan di kawasan ini akan sangat bergantung pada kolaborasi, tata kelola yang kuat, dan investasi yang cermat dalam pengembangan kapabilitas.