:strip_icc():watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,573,20,0)/kly-media-production/medias/5437749/original/071044500_1765261691-Pakai_Gemini_untuk_Liburan_Akhir_Tahun_00.jpg)
Menjelang penutupan tahun 2025, jutaan individu di seluruh dunia masih bergulat dengan keputusan destinasi liburan akhir tahun, sebuah dilema yang kini semakin dipermudah oleh kemampuan kecerdasan buatan (AI) seperti Gemini AI. Pasar AI di sektor pariwisata telah mencapai valuasi US$4,3 miliar pada tahun 2025 dan diproyeksikan melonjak menjadi US$13,9 miliar pada tahun 2030, tumbuh pada tingkat tahunan sebesar 26,7%. Data terbaru menunjukkan bahwa 28% responden telah menggunakan AI untuk membantu perencanaan liburan, dengan 96% menyatakan kepuasan terhadap rekomendasi yang diberikan AI, mulai dari destinasi hingga rute perjalanan. Pergeseran signifikan ini mencerminkan bagaimana teknologi mulai mengisi kekosongan dalam proses pengambilan keputusan yang seringkali memakan waktu dan melelahkan.
Secara historis, perencanaan liburan akhir tahun seringkali menimbulkan stres akibat informasi yang terlalu banyak, kebutuhan untuk membandingkan harga secara manual, dan kesulitan menyelaraskan preferensi rombongan. Survei terbaru juga menunjukkan bahwa hampir 40% masyarakat Indonesia memilih untuk tidak berlibur akhir tahun ini, sebagian besar karena masalah biaya dan durasi liburan yang terbatas, mendorong tren "micro-tourism" atau wisata jarak dekat. Namun, bagi mereka yang tetap ingin bepergian, preferensi telah bergeser. Tren pencarian Google untuk liburan akhir tahun 2025 menunjukkan lonjakan minat pada destinasi seperti Bali dan Lombok, sementara tren lain mengindikasikan pergeseran ke aktivitas luar ruangan seperti berkemah di Subang, Jawa Barat, atau menikmati wahana salju buatan di pusat perbelanjaan Jakarta. Vice President of Research Populix, Indah Tanip, menjelaskan bahwa puncak liburan diprediksi bergeser ke awal Januari 2026 karena posisi hari libur Natal dan Tahun Baru yang jatuh di pertengahan minggu, mendorong sebagian pekerja untuk berlibur lebih awal di tahun baru.
Kemampuan Gemini AI dalam perencanaan perjalanan menandai babak baru. Gemini Advanced, layanan chatbot AI premium dari Google, kini dapat memanfaatkan data spasial dan penalaran untuk memprioritaskan serta mengambil keputusan dalam menyusun rencana perjalanan pribadi. Sissie Hsiao, Wakil Presiden dan Manajer Umum Gemini di Google, menyatakan bahwa Gemini semakin mendekati status asisten AI sejati dengan kemampuannya merencanakan dan mengambil tindakan. Mike Coletta, manajer senior riset dan inovasi Phocuswright, menyebut kemampuan Gemini untuk memahami tanggal, rentang waktu, dan jarak sebagai "perkembangan besar," membedakannya dari alat perencanaan lain yang seringkali kesulitan dalam aspek tersebut.
Fitur-fitur terbaru yang diperkenalkan Google pada Maret 2025, yang mencakup Gemini, Search, dan Maps, menawarkan rekomendasi perjalanan yang dipersonalisasi. Pengguna kini dapat memanfaatkan fitur "Gems" Gemini secara gratis untuk membuat asisten AI yang disesuaikan untuk tugas perencanaan perjalanan dan daftar pengepakan. Gemini juga mampu menghasilkan rencana perjalanan detail lengkap dengan foto, ulasan, dan peta yang dapat diperluas, serta memungkinkan ekspor ke Google Docs, Gmail, atau disimpan langsung di Google Maps. Ini termasuk pelacakan harga hotel, sebuah fitur yang sebelumnya hanya tersedia untuk penerbangan. Aplikasi GTP AI, misalnya, memanfaatkan API Gemini untuk menghasilkan rencana perjalanan terperinci dengan masukan minimal dari pengguna, mencakup lokasi kunjungan, tanggal, waktu, durasi, dan tautan Google Maps untuk setiap lokasi.
Meskipun potensi AI sangat besar, para ahli dan pejabat menyoroti pentingnya pendekatan yang seimbang. Agustini Rahayu, Direktur Kajian Strategis Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, menegaskan bahwa penerapan AI dalam pariwisata tidak akan menggantikan peran manusia. Sebaliknya, AI dirancang untuk membantu manusia, membuka peluang lapangan kerja baru berbasis teknologi, dan meningkatkan efisiensi dalam pemasaran, pelayanan, keamanan, serta pengelolaan wisata. Ia juga menambahkan bahwa AI membantu menganalisis data preferensi wisatawan, anggaran, dan riwayat perjalanan, yang mempermudah pemberian rekomendasi destinasi, akomodasi, dan aktivitas wisata yang relevan. Daniel Yudistya Wardhana dari Katadata.co.id menambahkan bahwa adopsi AI bertujuan memperkuat peran manusia dengan menangani tugas repetitif, memungkinkan staf fokus pada interaksi pelanggan yang kompleks. Namun, ia juga menekankan perlunya peningkatan kualitas sumber daya manusia yang melek teknologi serta regulasi yang tepat terkait etika dan privasi data.
Implikasi jangka panjang dari integrasi AI dalam pariwisata melibatkan pergeseran menuju model hibrida yang menggabungkan efisiensi teknologi dengan sentuhan humanis. Organisasi Pariwisata PBB (UN Tourism) telah menyoroti peran penting AI dalam pengambilan keputusan, pemasaran, promosi, dan penciptaan pengalaman perjalanan yang dipersonalisasi. Mereka juga akan menerbitkan analisis komprehensif tentang adopsi AI dalam pariwisata pada tahun 2025 dan memperkaya Akademi Daring Pariwisata dengan kursus AI canggih. Maskapai seperti Riyadh Air bahkan telah mengadopsi model "AI-native," beroperasi 100% dengan AI untuk mengoptimalkan profitabilitas rute dan mengelola sumber daya secara efisien. Meskipun demikian, kekhawatiran terkait privasi data, bias algoritma, dan ketimpangan digital tetap menjadi tantangan yang memerlukan perhatian serius dari regulator dan industri. Dengan pengelolaan yang tepat, AI berpotensi membuat perjalanan lebih efisien, terjangkau, dan pada akhirnya, mengubah pengalaman menjadi lebih personal dan bermakna.