:strip_icc()/kly-media-production/medias/5450588/original/080780800_1766148939-5.jpg)
Kendaraan listrik (EV) semakin populer di tengah kekhawatiran perubahan iklim, namun banjir yang meningkat frekuensi dan intensitasnya menimbulkan pertanyaan krusial mengenai ketahanan dan keselamatan EV saat menerobos genangan air. Meskipun dilengkapi dengan teknologi perlindungan air canggih, para ahli dan produsen menekankan pentingnya kewaspadaan dan pemahaman mendalam tentang batas aman operasional.
Secara fundamental, mobil listrik memiliki keunggulan desain dibanding kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE) dalam menghadapi air dangkal. EV tidak memiliki saluran masuk udara (intake) dan knalpot, dua komponen vital pada mobil bensin yang sangat rentan terhadap "water hammer" jika air masuk ke mesin. Motor listrik dan sistem kelistrikan utama pada EV umumnya tersegel rapat dengan standar Ingress Protection (IP) tinggi, seringkali IP67 atau lebih. Rating IP67 berarti komponen tersebut tahan debu sepenuhnya dan dapat bertahan terendam air hingga kedalaman 1 meter selama 30 menit tanpa kerusakan serius. Beberapa model, seperti Audi e-tron, bahkan memiliki kapasitas wading depth mencapai 500 mm.
Baterai lithium-ion, sebagai jantung EV, dirancang dengan perlindungan kedap air yang ketat. Sistem Manajemen Baterai (BMS) pada EV memantau kondisi baterai secara real-time dan akan secara otomatis memutus aliran listrik jika terdeteksi adanya kelembaban atau air masuk, mencegah korsleting atau kerusakan lebih lanjut. Kabel tegangan tinggi juga dilindungi isolasi kuat dan konektor tahan air. Data dari EV FireSafe, yang didukung oleh Departemen Pertahanan, menunjukkan belum ada kasus terekam mengenai sengatan listrik pada petugas darurat saat EV terendam air. Hal ini karena sistem tegangan tinggi DC pada EV didesain untuk mencari jalur kembali ke dirinya sendiri dan tidak memerlukan "grounding" eksternal, sehingga tidak akan menyetrum badan air.
Namun, keunggulan ini bukan berarti mobil listrik kebal banjir total. National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA) di Amerika Serikat dan para ahli menyarankan untuk selalu menghindari menerobos banjir. Air yang bergerak cepat, bahkan sedalam 15 cm, dapat menghentikan kendaraan, dan kedalaman 30 cm cukup untuk membuat mobil mengapung. American Automobile Association (AA) merekomendasikan tidak berkendara di air yang lebih dalam dari 10 cm (4 inci).
Risiko utama bagi EV saat banjir adalah jika air, terutama air asin, merusak integritas segel pada paket baterai, motor, atau inverter. Air asin sangat korosif dan dapat menyebabkan korsleting internal yang memicu "thermal runaway" atau peningkatan suhu tak terkendali pada baterai, yang dapat berujung pada kebakaran. Sebuah studi oleh Idaho National Laboratory (INL) atas permintaan NHTSA setelah Badai Ian tahun 2022 di Florida mengungkapkan bahwa dari 3.000-5.000 EV yang terdampak, 600 di antaranya dinyatakan total loss dan sekitar 36 EV terbakar karena thermal runaway setelah terendam air asin. Kebakaran ini bahkan dapat terjadi beberapa hari atau minggu setelah insiden perendaman.
Lung Lung, pemilik bengkel spesialis Dokter Mobil di Jakarta, menekankan bahwa inverter, komponen krusial yang mengatur aliran listrik dari baterai ke motor, tidak dirancang untuk terendam air. Jika terkena air, inverter berpotensi korsleting dan rusak. Ia juga memperingatkan bahwa listrik DC di mobil listrik bisa mencapai 600 volt, dan kontak langsung dengan sistem tegangan tinggi yang rusak bisa berakibat fatal.
Untuk memitigasi risiko, pengemudi EV wajib memperhatikan beberapa hal:
1. Hindari Banjir Total: Prinsip utama adalah "jika banjir, lupakan". Selalu cari rute alternatif.
2. Perhatikan Kedalaman Air: Jangan menerobos genangan air yang melebihi setengah tinggi ban atau sekitar 40 cm. Air bergerak lebih dari 7 km/jam juga berbahaya.
3. Berkendara Perlahan: Jika terpaksa melintasi genangan air dangkal, lakukan dengan kecepatan di bawah 10 km/jam untuk menghindari gelombang busur (bow wave) yang dapat mendorong air masuk ke komponen vital dan mencegah aquaplaning.
4. Matikan Sistem Tidak Penting: Matikan AC dan sistem kelistrikan lain yang tidak esensial untuk mengurangi beban pada elektronik kendaraan dan meminimalkan risiko korsleting.
5. Setelah Melintasi Air: Biarkan mobil berjalan pelan beberapa menit setelah keluar dari genangan untuk membantu mengeringkan kelembaban. Lakukan pengereman ringan beberapa kali untuk mengeringkan cakram rem.
6. Jika Terendam: Segera matikan kendaraan jika aman untuk melakukannya. Jangan sekali-kali mencoba menyalakan kembali EV yang telah terendam air, terutama air asin.
7. Pemeriksaan Profesional: Setelah terpapar air, EV harus segera dibawa ke bengkel resmi atau teknisi bersertifikasi untuk pemeriksaan menyeluruh. Kerusakan dapat terjadi secara tersembunyi dan memicu masalah berhari-hari atau berminggu-minggu kemudian.
8. Jarak Aman Pasca-Banjir: NHTSA merekomendasikan menjaga jarak aman minimal 15 meter (50 kaki) dari EV yang baru saja terendam air, terutama jika menunjukkan tanda-tanda kerusakan seperti asap, suara mendesis, atau cairan bocor, karena risiko kebakaran.
Perlindungan standar IP67/IP68 pada baterai dan motor EV memang memberikan tingkat ketahanan yang signifikan terhadap air. Namun, rating tersebut tidak menjamin kendaraan sepenuhnya kedap air dalam kondisi ekstrem atau perendaman jangka panjang, terutama di air asin yang dapat mengikis segel dan menyebabkan korosi. Oleh karena itu, kesadaran pengemudi dan tindakan pencegahan yang tepat tetap menjadi kunci untuk menjaga keamanan dan meminimalkan kerusakan pada mobil listrik saat menghadapi ancaman banjir.