Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Menkomdigi: Jaringan Nataru 2026 Optimal, Kecepatan Unduh Meroket 80,58 Mbps

2026-01-05 | 18:46 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-05T11:46:18Z
Ruang Iklan

Menkomdigi: Jaringan Nataru 2026 Optimal, Kecepatan Unduh Meroket 80,58 Mbps

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid pada Senin, 5 Januari 2026, mengumumkan bahwa layanan telekomunikasi nasional tetap stabil dan aman sepanjang periode Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru), dengan kecepatan unduh rata-rata mencapai 80,58 Mbps. Pernyataan ini disampaikan setelah penutupan Posko Bersama Pemantauan Kualitas Layanan Telekomunikasi di Kantor Pusat PT Pos Indonesia, Bandung, menyoroti peningkatan signifikan dalam kinerja infrastruktur digital di tengah lonjakan mobilitas masyarakat.

Pemantauan intensif dilakukan oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) bersama operator seluler sejak 19 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026. Cakupan pemantauan meliputi 104 kabupaten/kota yang tersebar di 35 provinsi, memastikan konektivitas digital terjaga di berbagai titik krusial, termasuk jalur mudik, destinasi wisata, dan pusat keramaian. Meutya Hafid menegaskan, hasil pengukuran menunjukkan kualitas layanan secara keseluruhan terpelihara dengan baik, tidak hanya pada kecepatan unduh 80,58 Mbps, tetapi juga kecepatan unggah rata-rata 35,36 Mbps. Meskipun Kabupaten Batang di Jawa Tengah mencatat kecepatan tertinggi hingga 188,13 Mbps dan Kabupaten Kulon Progo di Daerah Istimewa Yogyakarta terendah di 32 Mbps, Menkomdigi menyatakan layanan di wilayah dengan kecepatan lebih rendah tersebut tetap memadai untuk komunikasi.

Operator seluler juga menunjukkan kinerja yang bervariasi namun tetap tangguh dalam menghadapi peningkatan trafik. Telkomsel mencatat rata-rata kecepatan tertinggi 96,15 Mbps, diikuti Indosat dengan 80,79 Mbps, dan XLSmart 63,01 Mbps. Lonjakan trafik data selama periode Nataru mencapai puncaknya di XLSmart dengan kenaikan 40 persen, Telkomsel 12,4 persen, dan Indosat 13,36 persen. Kesiapsiagaan ini didukung oleh 35 Unit Pelaksana Teknis Balai Monitor Spektrum Frekuensi Radio Kemkomdigi dan 255 posko bersama operator yang beroperasi di seluruh Indonesia. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria juga meninjau langsung Posko Monitoring Telekomunikasi di Terminal 1 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, pada 2 Januari 2026, memastikan kecepatan internet di sana stabil pada kisaran 120 hingga 160 Mbps selama puncak arus balik.

Pencapaian stabilitas layanan telekomunikasi selama Nataru 2025/2026 merefleksikan upaya berkelanjutan pemerintah dan operator dalam memperkuat infrastruktur digital. Sebelumnya, kecepatan internet di Indonesia masih menghadapi tantangan. Laporan Speedtest Global Index edisi Agustus 2025 menempatkan kecepatan unduh median internet seluler Indonesia di angka 45,01 Mbps, jauh di bawah negara-negara maju dan bahkan tertinggal dari beberapa negara di Asia Tenggara. Pada November 2025, kecepatan internet mobile Indonesia meningkat menjadi 50,77 Mbps, namun fixed broadband justru melambat. Keberhasilan mengelola lonjakan trafik di periode Nataru yang kerap menjadi masa kritis, seperti pengalaman Lintasarta yang mencatat kenaikan trafik internet pelanggan korporasi hingga 111 persen pada Nataru sebelumnya, menunjukkan dampak dari investasi dan koordinasi yang lebih baik.

Selain menjaga konektivitas, Kemkomdigi juga memprioritaskan pemulihan jaringan di wilayah terdampak bencana. Di Aceh, lebih dari 95 persen infrastruktur konektivitas telah dipulihkan, memastikan warga tetap terhubung untuk mengakses informasi darurat. Pada pertengahan Desember 2025, tingkat operasional Base Transceiver Station (BTS) atau on air network ratio (ONR) di Aceh telah meningkat dari sekitar 50 persen menjadi 73,5 persen.

Ke depan, Kemkomdigi terus berupaya meningkatkan kecepatan fixed broadband nasional hingga 100 Mbps dengan harga terjangkau. Komitmen investasi juga terlihat dari alokasi belanja modal PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk sekitar Rp6,4 triliun untuk PT Telkom Infrastruktur Indonesia (Infranexia) pada tahun 2026, bertujuan memperkuat jaringan digital nasional dan mengoptimalkan aset serat optik. Investasi berkelanjutan pada infrastruktur digital, khususnya pita lebar berkecepatan tinggi, dianggap krusial untuk mendukung ekonomi digital dan mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Transformasi digital ini juga mencakup pengembangan ekosistem startup, dengan target pertumbuhan startup nasional sebesar 8 persen pada tahun 2026, salah satunya melalui program Garuda Spark Innovation Hub di Bandung. Stabilitas layanan telekomunikasi selama Nataru 2025/2026 menjadi indikator kapasitas Indonesia dalam mengelola kebutuhan digital yang terus berkembang dan fondasi penting bagi aspirasi digital bangsa.