Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Mitratel Perkokoh Jaringan Menara, Percepat Adopsi 5G di Bali-Nusra

2026-01-04 | 16:25 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-04T09:25:30Z
Ruang Iklan

Mitratel Perkokoh Jaringan Menara, Percepat Adopsi 5G di Bali-Nusra

PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (Mitratel) secara signifikan memperkuat infrastruktur menara telekomunikasi di wilayah Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur (Bali-Nusra) sebagai penopang utama percepatan perluasan jaringan 5G. Langkah strategis ini dilakukan seiring proyeksi peningkatan kebutuhan data dan dorongan pemerintah serta operator seluler untuk menggenjot ekspansi 5G, terutama di kawasan yang menjadi magnet pariwisata internasional. Mitratel, yang mengelola 2.377 menara di Bali-Nusra dengan total 3.158 tenant per Desember 2025, menjadikan Bali, khususnya Denpasar dan Badung, sebagai fokus awal pengembangan 5G karena tingginya tingkat adopsi perangkat 5G dan volume trafik data yang substansial. Per September 2024, Mitratel memiliki 2.657 menara di Bali Nusra, yang merupakan 6,8% dari total menara perusahaan.

Bali telah diidentifikasi sebagai wilayah strategis untuk implementasi 5G, tidak hanya karena statusnya sebagai destinasi pariwisata global tetapi juga potensi besar dalam mendukung ekonomi digital dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Direktur Jaringan Telkomsel, Indra Mardiatna, menjelaskan bahwa Bali memiliki tingkat penetrasi perangkat 5G tertinggi, mencapai lebih dari 20% dari 11,5 juta pengguna 5G di jaringan Telkomsel secara nasional. Dengan keberadaan wisatawan mancanegara yang terbiasa dengan layanan 5G di negara asalnya, penyediaan konektivitas berstandar internasional menjadi imperatif.

Telkomsel, sebagai penyewa menara terbesar Mitratel di Bali-Nusra, telah mengaktifkan sekitar 220 situs 5G sepanjang tahun lalu dengan memanfaatkan menara eksisting. Ekspansi "Hyper 5G" Telkomsel berfokus pada Denpasar dan Badung, dengan 225 situs 5G tersebar di dua wilayah tersebut (67 di Denpasar dan 136 di Badung), mencakup rute padat seperti Kuta-Canggu, Nusa Dua, dan Renon-Sanur. Upaya ini merupakan bagian dari ambisi Telkomsel untuk menghadirkan pengalaman 5G komprehensif di Indonesia, mencakup lebih dari 1.000 situs di 56 kota/kabupaten. Derrick Heng, Direktur Pemasaran Telkomsel, menegaskan komitmen untuk meningkatkan citra global Indonesia melalui penguatan destinasi wisata dengan 5G, mendukung pariwisata lokal, dan memberdayakan UMKM.

Penguatan infrastruktur Mitratel tidak melulu melibatkan pembangunan menara baru. Andi Baspian Yasma, Manager OM & Deployment Mitratel Bali-Nusra, menyatakan bahwa operator umumnya melakukan peningkatan perangkat pada menara eksisting untuk layanan 5G, yang pada gilirannya menambah pendapatan sewa bagi penyedia menara. Namun, adopsi 5G menuntut penyesuaian teknis substansial, termasuk perkuatan fondasi dan rangka menara karena peningkatan beban perangkat, serta peningkatan kapasitas daya listrik PLN di beberapa lokasi. Penguatan ini diprioritaskan di Denpasar dan Badung, sebagai wilayah dengan kebutuhan data tertinggi.

Meskipun demikian, pengembangan infrastruktur di Bali-Nusra menghadapi tantangan unik. Faktor geografis, terutama di Nusa Tenggara Timur, mempersulit proses pembangunan menara baru. Material menara harus didatangkan dari Jakarta, yang meningkatkan biaya logistik dan waktu pembangunan. Selain itu, medan berbukit dan akses terbatas di wilayah pedesaan terpencil menuntut moda transportasi yang beragam.

Secara nasional, penyebaran 5G di Indonesia masih menghadapi hambatan signifikan. Indonesia tertinggal dibandingkan negara-negara tetangga di Asia Tenggara dalam hal alokasi spektrum 5G, dengan pemanfaatan spektrum terbatas pada pita 1.8GHz/2.1GHz/2.3GHz, sementara operator menunggu rilis spektrum tambahan di pita 700MHz, 2.6GHz, dan 3.5GHz. Biaya spektrum yang tinggi dan beban regulasi yang disinyalir lebih tinggi dari negara tetangga juga menjadi kendala. Kurangnya permintaan konsumen yang mendesak untuk kasus penggunaan 5G yang lebih canggih, di luar kapabilitas 4G yang sudah memadai untuk media sosial dan streaming video, turut memperlambat investasi besar-besaran. CEO Mitratel, Theodorus Ardi Hartoko, mengakui bahwa permintaan akan menara dan infrastruktur telekomunikasi lainnya diperkirakan akan meningkat seiring transformasi digital masyarakat dan perkembangan teknologi 5G yang membutuhkan infrastruktur yang lebih andal.

Sebagai penyedia menara telekomunikasi terbesar di Asia Tenggara dengan 39.259 menara pada kuartal ketiga 2024, Mitratel terus berinvestasi pada fiber optik, dengan aset sepanjang 39.714 km pada periode yang sama, sebagai elemen krusial dalam ekosistem 5G. Perusahaan ini bertransformasi menjadi Digital InfraCo yang menyediakan solusi terintegrasi, mencakup menara, konektivitas (fiber dan satelit), serta pasokan daya. Fokus Mitratel pada penguatan infrastruktur di Bali-Nusra, di tengah tantangan regulasi dan geografis, menegaskan posisi vitalnya dalam merealisasikan potensi ekonomi digital dan pariwisata di kawasan tersebut melalui adopsi 5G yang lebih luas.