:strip_icc()/kly-media-production/medias/4748441/original/013700200_1708481818-Instagram_6_.jpeg)
Modifikasi stang sepeda motor, yang sering dianggap sebagai perubahan kosmetik atau peningkatan kenyamanan minor, nyatanya memiliki dampak signifikan dan sering diremehkan terhadap kontrol berkendara serta keselamatan di jalan. Pergeseran pusat gravitasi, respons kemudi, dan ergonomi tubuh pengendara dapat berubah drastis akibat penggantian komponen vital ini, sebagaimana ditegaskan oleh berbagai ahli keselamatan dan regulasi pemerintah yang kini lebih tegas.
Praktik modifikasi stang motor telah lama menjadi tren di kalangan pengendara, baik untuk tujuan estetika, menciptakan gaya yang unik, maupun untuk menyesuaikan posisi berkendara agar lebih nyaman. Namun, di balik motif tersebut, banyak yang abai terhadap perhitungan teknis yang kompleks dan implikasinya terhadap dinamika berkendara sepeda motor. Stang berfungsi sebagai titik kontrol utama yang menghubungkan pengendara dengan kendaraannya, sehingga setiap perubahan pada tinggi, lebar, atau sudutnya akan secara fundamental memengaruhi cara motor dikendalikan dan posisi tubuh selama berkendara.
Dampak pada postur dan ergonomi tubuh pengendara adalah salah satu aspek krusial yang sering terabaikan. Stang yang lebih tinggi umumnya menghasilkan posisi duduk lebih tegak, yang diklaim mengurangi tekanan pada punggung dan pergelangan tangan, cocok untuk perjalanan jarak jauh. Sebaliknya, stang rendah, seperti jenis clip-on atau stang jepit, memposisikan tubuh condong ke depan, menciptakan gaya berkendara sporty dan aerodinamis yang sering dijumpai pada motor balap. Kendati demikian, posisi ini berisiko menimbulkan kelelahan lebih cepat pada pergelangan tangan, bahu, dan punggung jika digunakan dalam waktu lama atau tidak sesuai postur tubuh. Ludhy Kusuma, Safety Riding Development Section Head PT Daya Adicipta Motora (DAM), menekankan pentingnya memastikan seluruh postur tubuh dalam posisi baik dan ideal saat berkendara untuk kenyamanan dan kontrol maksimal. Stang yang tidak sesuai karakter motor atau postur pengendara berpotensi membuat motor terasa berat di depan, terlalu ringan saat dibelokkan, bahkan menimbulkan getaran berlebih.
Lebih jauh, modifikasi stang turut memengaruhi karakter handling dan stabilitas motor. Stang yang lebih lebar memberikan tuas kendali lebih besar, membuat motor terasa stabil pada kecepatan rendah atau saat melintasi jalan bergelombang, tetapi dapat menyulitkan manuver di lalu lintas padat. Sebaliknya, stang sempit memudahkan selap-selip di perkotaan namun mengurangi kestabilan saat kecepatan tinggi. Perubahan stang juga dapat menggeser pusat gravitasi motor dan memengaruhi sudut geometri suspensi depan, seperti sudut caster dan trail, yang krusial untuk stabilitas dan kemampuan berbelok motor. Sudut caster yang lebih besar dapat meningkatkan stabilitas namun mengurangi kemampuan berbelok, sementara sudut trail yang lebih besar memudahkan motor berbelok. Stang yang terlalu tinggi bahkan dapat mengganggu sudut kemudi dan geometri setang, menjadikan handling lebih berat dan kurang responsif.
Secara hukum, pemerintah Indonesia melalui Peraturan Menteri Perhubungan RI Nomor PM 45 Tahun 2023 tentang Kustomisasi Kendaraan Bermotor telah memberikan legalitas bagi modifikasi kendaraan, termasuk sepeda motor, yang diundangkan pada 20 September 2023. Namun, legalitas ini disertai ketentuan ketat. Modifikasi stang diperbolehkan selama tidak mengubah dimensi kendaraan (panjang, lebar, volume) yang tertera pada STNK dan BPKB, serta tidak mengubah rangka kendaraan secara signifikan. Setiap perubahan yang menyebabkan pergeseran tipe kendaraan berupa dimensi, mesin, atau kemampuan daya angkut wajib melalui uji tipe ulang. Modifikasi yang membahayakan keselamatan berlalu lintas, mengganggu arus lalu lintas, atau merusak jalan raya sangat dilarang. Pelanggaran terhadap aturan ini dapat dikenakan sanksi pidana penjara paling lama satu tahun atau denda hingga Rp 24.000.000. Jusri Pulubuhu, Founder & Lead Instructor JDDC, menegaskan bahwa dunia modifikasi memang tanpa batas, namun keselamatan harus diutamakan, "Jangan sampai gaya mengalahkan keselamatan berkendara."
Mengingat kompleksitas dampaknya, pengendara perlu mempertimbangkan secara matang sebelum melakukan modifikasi stang. Penyesuaian harus selaras dengan kebutuhan harian berkendara, postur tubuh, dan kompatibilitas dengan rangka serta sistem suspensi motor. Konsultasi dengan mekanik profesional atau ahli modifikasi yang berpengalaman sangat disarankan untuk memastikan pemilihan produk berkualitas dan pemasangan yang benar, demi menjaga performa kemudi tetap optimal, aman, dan sesuai regulasi. Data Korlantas Polri hingga September 2024 mencatat 11.000 kecelakaan dengan sekitar 20.000 korban meninggal, sebagian besar melibatkan sepeda motor, menunjukkan betapa krusialnya setiap aspek keselamatan berkendara. Modifikasi yang tidak tepat berisiko tinggi menyebabkan kehilangan kontrol kendaraan, yang berujung pada kecelakaan serius.