Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Motor Boros Bensin? Ini Rahasia Penyebabnya!

2026-01-09 | 01:50 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-08T18:50:00Z
Ruang Iklan

Motor Boros Bensin? Ini Rahasia Penyebabnya!

Pemborosan bahan bakar pada sepeda motor merupakan isu krusial yang tidak hanya memberatkan finansial pengendara, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan emisi gas rumah kaca di Indonesia. Fenomena ini diperburuk dengan fakta bahwa sepeda motor menyumbang konsumsi bahan bakar paling besar di Tanah Air, mencapai 22,62 juta kiloliter pada tahun 2020, bahkan setelah penurunan signifikan akibat pandemi COVID-19 dari 25,9 juta kiloliter pada 2019, menurut data dari Institute for Essential Services Reform (IESR) yang mengelaborasikan data Badan Pusat Statistik (BPS). Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) juga mencatat bahwa 125 juta unit sepeda motor di Indonesia hingga akhir 2022 menghabiskan sekitar 800 ribu barel bensin per hari, melebihi produksi minyak mentah nasional yang hanya 600 ribu barel per hari. Implikasinya, Indonesia harus mengimpor sekitar 800 ribu barel bahan bakar setiap hari untuk memenuhi total konsumsi BBM nasional sekitar 1,5 juta barel per hari.

Sejumlah faktor esensial yang menyebabkan motor boros bensin terbagi menjadi aspek teknis dan perilaku pengendara. Dari sisi teknis, perawatan komponen krusial seperti filter udara, busi, karburator atau injektor, serta oli mesin, memainkan peran vital. Filter udara yang kotor akan membatasi aliran udara ke mesin, menyebabkan pembakaran tidak efisien dan memaksa mesin bekerja lebih keras, sehingga meningkatkan konsumsi bensin. Senada, busi yang lemah atau kotor menghasilkan percikan api yang tidak optimal, membuat pembakaran tidak sempurna dan mengurangi tenaga, yang akhirnya mendorong pengendara menarik gas lebih dalam. Victor Assani, 2W Service Head PT Suzuki Indomobil Sales (SIS), mengemukakan bahwa motor yang tidak diservis secara rutin akan memiliki oli kotor dan komponen aus yang mengurangi efisiensi mesin. Pengaturan karburator yang tidak tepat atau injektor yang kotor pada motor injeksi juga mengakibatkan campuran bahan bakar dan udara tidak ideal, sehingga pembakaran tidak optimal. Penggunaan oli mesin yang tidak sesuai spesifikasi pabrikan atau sudah kotor akan meningkatkan gesekan antar komponen mesin, memaksa mesin bekerja lebih keras dan boros bensin.

Selain kondisi mesin, tekanan ban yang tidak sesuai standar pabrikan turut berkontribusi signifikan terhadap pemborosan. Ban yang kurang angin akan memperlebar area kontak dengan aspal, meningkatkan gesekan gelinding (rolling resistance) dan membuat mesin membutuhkan tenaga ekstra untuk bergerak. Demikian pula, beban motor yang berlebihan, baik dari penumpang maupun barang, akan memaksa mesin bekerja lebih keras, secara langsung meningkatkan konsumsi bahan bakar.

Aspek perilaku pengendara tidak kalah penting dalam menentukan efisiensi bahan bakar. Gaya berkendara agresif, seperti sering melakukan akselerasi dan pengereman mendadak, sangat meningkatkan konsumsi bensin. Victor Assani menjelaskan bahwa semakin banyak tenaga yang dikeluarkan, semakin besar pula asupan energi dan bahan bakar yang dibutuhkan. Wahyu Budhi, Instruktur Technical Service Department (TSD) main dealer motor Honda Jakarta, PT Wahana Makmur Sejati (WMS), menambahkan bahwa menarik gas secara cepat dan dalam pada motor matik, atau penggunaan gigi yang tidak tepat pada motor manual, adalah kebiasaan yang memboroskan bahan bakar. Pengendara disarankan untuk mempertahankan kecepatan stabil, idealnya antara 40-60 km/jam, untuk mencapai titik efisiensi bahan bakar optimal. Memanaskan motor terlalu lama, terutama untuk motor injeksi, juga merupakan praktik yang tidak efisien karena mesin sudah dapat mencapai suhu kerja optimal lebih cepat saat langsung dikendarai. Pemilihan rute yang minim hambatan seperti tanjakan ekstrem atau jalan rusak juga dapat mengurangi beban kerja mesin.

Transisi menuju kendaraan yang lebih efisien dan rendah emisi telah menjadi imperatif nasional. Industri otomotif merespons dengan pengembangan teknologi seperti Fuel Injection (FI), Enhanced Smart Power (eSP), Idling Stop System (ISS), dan Blue Core Hybrid. Misalnya, teknologi ISS pada Honda dapat menghemat konsumsi bahan bakar hingga 10% di perkotaan dengan kondisi stop-and-go. Suzuki Nex FI bahkan diklaim mampu menempuh jarak hingga 109,8 km/liter berkat teknologi SUPER FI. Perawatan rutin yang mencakup pemeriksaan busi, filter fuel pump, injektor, filter udara, dan sistem penggerak (rantai atau CVT) juga secara signifikan meningkatkan efisiensi bahan bakar dan memperpanjang usia pakai motor. Sebagaimana disampaikan Stefanus Martin dari Pandu Motor, setelan klep yang diatur sedikit lebih renggang dari standar pabrikan dapat meningkatkan performa sekaligus menghemat konsumsi BBM.

Masa depan efisiensi bahan bakar sepeda motor akan sangat bergantung pada sinergi antara inovasi teknologi pabrikan, edukasi perilaku pengendara, serta kesadaran akan perawatan berkala. Dengan populasi sepeda motor yang terus meningkat, diproyeksikan mencapai 150 juta unit pada 2025 (termasuk 5 juta unit motor listrik baru dan 6 juta unit motor konversi), upaya kolektif ini krusial untuk menekan ketergantungan impor BBM dan mengurangi dampak lingkungan dari emisi.