:strip_icc()/kly-media-production/medias/5445878/original/028084900_1765867183-motorola-edge-70-smartphone.jpg)
Motorola dikabarkan sedang mengembangkan ponsel lipat model buku yang menyerupai seri Galaxy Z Fold dari Samsung, lengkap dengan dukungan stylus dan teknologi layar serupa, menandai potensi perubahan strategis dalam upayanya memperkuat posisi di pasar ponsel lipat premium yang semakin kompetitif. Rumor ini, yang pertama kali muncul dari sumber-sumber industri dan paten yang bocor pada akhir tahun 2024 dan awal 2025, mengindikasikan bahwa perusahaan bertujuan untuk menantang dominasi Samsung di segmen perangkat lipat yang dapat diperluas, bergeser dari fokusnya pada faktor bentuk clamshell Razr yang lebih ringkas.
Langkah ini dipandang sebagai respons langsung terhadap pertumbuhan berkelanjutan pasar ponsel lipat, yang menurut laporan dari Counterpoint Research, diperkirakan akan mencapai pengiriman global sebesar 101,5 juta unit pada tahun 2027, naik signifikan dari 13,1 juta unit pada tahun 2022. Meskipun Motorola telah mengukir ceruk pasar dengan seri Razr-nya, yang menyasar segmen fashion dan nostalgia, volume pengirimannya tetap jauh di belakang Samsung. Samsung dilaporkan menguasai sekitar 60% pangsa pasar ponsel lipat pada kuartal ketiga tahun 2024, didukung oleh model Galaxy Z Fold dan Z Flip-nya yang matang. Analis industri, seperti Tom Kang dari Canalys, mencatat bahwa untuk bersaing secara efektif di segmen premium, produsen perlu menawarkan fitur inovatif dan ekosistem yang komprehensif, bukan sekadar perangkat keras yang menarik. Integrasi stylus, khususnya, telah menjadi pembeda utama bagi seri Galaxy Z Fold, yang menawarkan produktivitas dan fungsionalitas kreatif yang tidak ditemukan di sebagian besar perangkat lipat lainnya.
Paten yang diajukan Motorola menunjukkan desain engsel yang lebih canggih dan mekanisme penyimpanan stylus terintegrasi, yang berpotensi mengatasi beberapa tantangan daya tahan yang dihadapi oleh model lipat sebelumnya. Desain layar model buku menawarkan area tampilan yang jauh lebih besar saat dibuka, menjadikannya ideal untuk multitasking, konsumsi media, dan aplikasi produktivitas yang mendapat manfaat dari real estat layar tambahan. Ini adalah area di mana Motorola Razr, dengan layar internalnya yang lebih kecil, terbatas. Namun, memasuki segmen ini juga berarti menghadapi rintangan harga yang tinggi, masalah daya tahan, dan skeptisisme konsumen yang masih ada terhadap teknologi baru. Biaya produksi yang tinggi untuk komponen layar lipat dan engsel telah membuat harga perangkat lipat tetap premium, dengan rata-rata harga jual (ASP) di atas $1.000, menurut data dari IDC.
Secara historis, Motorola memiliki warisan inovasi yang kuat, termasuk peluncuran ponsel clamshell pertama yang sukses secara komersial. Namun, dalam dekade terakhir, perusahaan ini seringkali berada di bawah bayang-bayang raksasa teknologi lainnya. Keputusan untuk mengembangkan ponsel lipat model buku dengan stylus menunjukkan keinginan Motorola untuk mendapatkan kembali posisi sebagai inovator dan penyedia perangkat premium. Ini juga dapat dilihat sebagai upaya untuk memanfaatkan basis pengguna bisnis dan profesional yang mencari perangkat multifungsi yang dapat menggantikan tablet kecil. Jika Motorola berhasil meluncurkan perangkat yang kompetitif dengan harga yang menarik dan kinerja yang andal, hal itu dapat mengganggu hierarki pasar ponsel lipat saat ini dan mendorong inovasi lebih lanjut dari pesaing. Namun, kegagalan dalam eksekusi dapat menguras sumber daya dan memperdalam tantangan perusahaan di pasar smartphone global yang ketat. Pasar akan mengamati dengan cermat apakah Motorola dapat mereplikasi kesuksesan Samsung di segmen lipat premium atau justru menghadapi rintangan yang sama dengan pemain lain yang mencoba menembus dominasi yang sudah mapan.