
Nora Wahby, seorang eksekutif veteran dengan pengalaman 24 tahun di Ericsson, telah ditunjuk sebagai Presiden Direktur Ericsson Indonesia, efektif segera. Penunjukan ini mengindikasikan prioritas strategis Ericsson untuk mempercepat pengembangan dan adopsi teknologi 5G di pasar telekomunikasi Indonesia yang dinamis. Wahby, yang sebelumnya menjabat sebagai Head of Northern and Central Europe, kini bertanggung jawab penuh atas operasional Ericsson di Indonesia, dengan fokus utama memperkuat kemitraan dengan operator telekomunikasi, pemerintah, dan mitra industri guna mendukung pembangunan konektivitas digital nasional. Ia menggantikan Krishna Patil, yang sebelumnya menjabat peran tersebut.
Indonesia telah lama menjadi pasar yang strategis bagi Ericsson, sebuah perusahaan penyedia solusi jaringan asal Swedia. Penunjukan Wahby datang pada saat kritis bagi adopsi 5G di Indonesia, yang masih menghadapi sejumlah tantangan signifikan. Tingkat penetrasi 5G di Indonesia tercatat baru 1% pada tahun 2023, meskipun diproyeksikan akan meningkat menjadi 32% pada tahun 2030. Angka ini masih jauh di bawah negara-negara maju di Asia Pasifik seperti Singapura dan Korea Selatan yang hampir mencapai penetrasi penuh.
Salah satu hambatan utama yang dihadapi adalah ketersediaan spektrum frekuensi yang optimal. Pejabat Ericsson, termasuk mantan Presiden Direktur Daniel Ode dan Stanislaus Bawono, Head of Network Solutions Ericsson Indonesia, secara konsisten menekankan kebutuhan pemerintah untuk segera mengalokasikan spektrum pita menengah (mid-band) yang lebih banyak melalui mekanisme refarming atau lelang. Hingga awal 2025, Indonesia masih dalam tahap perencanaan untuk melelang spektrum 700 MHz dan 26 GHz, tertinggal dari negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand yang telah lebih dahulu mengalokasikan spektrum 3.5 GHz sebagai standar global untuk jaringan 5G. Menteri Komunikasi dan Informatika Budi Arie Setiadi mengakui telah diselesaikannya program Analog Switch Off (ASO) yang membebaskan spektrum 700 MHz untuk 5G, namun proses lelang dan insentif investasi masih menjadi pekerjaan rumah.
Selain spektrum, tantangan infrastruktur fisik juga krusial. Implementasi 5G memerlukan peningkatan signifikan pada infrastruktur backhaul dengan serat optik, yang membutuhkan investasi besar, terutama untuk menjangkau ribuan pulau di Indonesia dengan kondisi geografis yang beragam. Integrasi 5G dengan sistem industri yang sudah ada (legacy system) juga memerlukan modernisasi bertahap yang memakan waktu dan sumber daya.
Nora Wahby membawa rekam jejak kepemimpinan global yang kuat, termasuk mengoordinasikan operasional Ericsson di 16 negara dan mendorong pemanfaatan jaringan 5G secara lebih luas di Eropa Utara dan Tengah. Andres Vicente, CEO Ericsson Asia Tenggara, Oseania, dan India, menyatakan keyakinannya bahwa kombinasi pengalaman global Wahby dan kekuatan teknologi Ericsson akan mampu menghadirkan manfaat 5G bagi pelanggan dan masyarakat di seluruh Indonesia. Wahby sendiri melihat Indonesia sebagai wilayah yang dinamis dengan populasi muda yang sangat terkoneksi serta dukungan kuat dari pemerintah terhadap pengembangan digital.
Meskipun adopsi 5G di Indonesia relatif lambat, riset menunjukkan potensi ekonomi yang besar. GSMA memprediksi 5G akan berkontribusi lebih dari 41 miliar dolar AS terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dari tahun 2024 hingga 2030. Studi Ericsson sendiri memproyeksikan kontribusi sebesar Rp 659,89 triliun terhadap PDB Indonesia pada periode yang sama. Potensi ini didorong oleh pertumbuhan konsumsi data dan peluang use case 5G di sektor industri seperti manufaktur, kesehatan, pendidikan, TIK, dan transportasi. Bahkan, survei Ericsson ConsumerLab pada Maret 2025 menunjukkan bahwa pengguna 5G di Indonesia bersedia membayar hingga 14% lebih banyak untuk konektivitas yang diferensiasi dan terjamin performanya.
Nora Wahby menekankan pentingnya kolaborasi erat dengan para penyedia layanan telekomunikasi dan pelaku industri untuk membangun infrastruktur 5G yang aman dan andal, serta bekerja sama dengan ekosistem lokal untuk mendorong pengembangan use case yang relevan dan inovasi di Indonesia. Strategi ini akan krusial mengingat persaingan ketat di pasar infrastruktur telekomunikasi Indonesia, dengan Huawei menjadi salah satu kompetitor utama Ericsson. Ericsson terus memposisikan 5G sebagai fondasi utama bagi visi pemerintah "Indonesia Digital 2045" dan ekonomi digital nasional. Keberhasilan kepemimpinan Wahby akan sangat bergantung pada kemampuannya menavigasi kompleksitas regulasi, tantangan geografis, dan persaingan pasar, sembari secara efektif mendorong inovasi dan monetisasi kapabilitas 5G di seluruh Nusantara.