:strip_icc()/kly-media-production/medias/5081969/original/083107100_1736231435-Nvidia_GeForce_RTX_50_Series.jpg)
Produsen chip grafis terkemuka, NVIDIA dan AMD, bersiap menerapkan kenaikan harga signifikan untuk unit pemroses grafis (GPU) konsumen mereka mulai awal 2026, sebuah langkah yang diperkirakan akan memukul keras para gamer PC. Lonjakan harga ini dipicu oleh meningkatnya biaya komponen memori, terutama DRAM dan GDDR, serta permintaan yang "rakus" dari sektor kecerdasan buatan (AI) yang terus berkembang pesat, yang secara struktural menggeser alokasi pasokan semikonduktor global.
Menurut laporan dari outlet Korea Selatan Newsis, dan dikonfirmasi oleh sumber industri, AMD diperkirakan akan memulai penyesuaian harga pabrik pada Januari 2026, diikuti oleh NVIDIA pada Februari 2026. Kenaikan ini tidak akan menjadi penyesuaian tunggal, melainkan serangkaian peningkatan bertahap sepanjang tahun. Perkiraan menunjukkan bahwa kartu grafis andalan NVIDIA GeForce RTX 5090, yang diluncurkan dengan harga eceran yang sudah tinggi sekitar $1.999, dapat mencapai harga pasar hingga $5.000 pada pertengahan 2026. Sementara itu, AMD telah menginformasikan mitranya tentang kenaikan setidaknya 10% di seluruh lini Radeon RX mereka, dengan lonjakan distributor awal sudah terlihat pada kartu seri RX 9000. ASUS juga telah mengkonfirmasi kenaikan harga efektif 5 Januari 2026, dengan alasan volatilitas DRAM yang didorong AI.
Penyebab utama krisis harga ini adalah melonjaknya biaya VRAM, yang kini dilaporkan menyumbang hampir 80% dari total biaya produksi GPU. Permintaan yang belum pernah terjadi sebelumnya dari pusat data AI untuk memori bandwidth tinggi (HBM) telah memaksa produsen memori utama seperti Samsung, SK Hynix, dan Micron Technology untuk mengalihkan kapasitas produksi mereka ke chip kelas enterprise dengan margin lebih tinggi. Ini menciptakan "permainan zero-sum" di mana setiap wafer yang dialokasikan untuk tumpukan HBM untuk GPU AI berarti satu wafer lebih sedikit untuk modul LPDDR5X atau SSD konsumen. Harga modul memori 16 gigabit standar yang digunakan dalam GPU modern telah melonjak dari sekitar $5.50 pada pertengahan 2025 menjadi lebih dari $20 pada akhir 2025. Para peneliti pasar memperkirakan harga memori akan naik lebih dari 40% pada pertengahan 2026, dengan pasokan yang ketat kemungkinan akan berlangsung selama beberapa tahun.
Selain biaya memori, TSMC, foundry semikonduktor terkemuka dunia yang memproduksi chip untuk NVIDIA dan AMD, juga berencana menaikkan harga wafer proses canggihnya sebesar 5-10% pada tahun 2026. Kenaikan ini, yang merupakan bagian dari strategi kenaikan harga multi-tahun, dimaksudkan untuk mendanai ekspansi node 2nm dan R&D 1.4nm, serta menjaga profitabilitas di tengah kenaikan biaya material dan energi. Wafer 2nm, yang produksi bervolume tingginya akan dimulai pada paruh kedua 2025, diperkirakan akan berharga 50% lebih mahal daripada desain 3nm saat ini, berpotensi melebihi $30.000 per wafer. Biaya membangun dan melengkapi pabrik fabrikasi 2nm sangat mahal, dengan setiap alat litografi ASML High-NA EUV berharga sekitar $350 juta–$400 juta.
Jensen Huang, CEO NVIDIA, baru-baru ini menyatakan bahwa generasi AI berikutnya akan membutuhkan "100 kali lebih banyak komputasi" daripada model lama, yang memicu perebutan perangkat keras besar-besaran yang menyisakan lebih sedikit sumber daya untuk pasar game konsumen. Akibatnya, NVIDIA dilaporkan akan mengurangi produksi kartu grafis seri GeForce RTX 50 mereka sebesar 30-40% pada paruh pertama 2026, khususnya menargetkan model RTX 5060 Ti 16GB dan RTX 5070 Ti, untuk mengalokasikan pasokan VRAM terbatas ke chip AI dengan margin lebih tinggi.
Implikasi jangka panjang dari pergeseran struktural ini bagi pasar PC gaming sangat signifikan. Era kartu grafis high-end yang relatif terjangkau tampaknya akan segera berakhir. Para ahli memperingatkan krisis keterjangkauan gaming, mendesak para enthusiast untuk membeli perangkat keras sekarang sebelum harga baru terkunci pada kuartal pertama 2026. IDC memperkirakan pasar PC dapat menyusut hingga 9% pada tahun 2026 karena melonjaknya harga RAM. Dengan harga GPU yang terus naik, gamer mungkin akan beralih ke konsol atau layanan cloud gaming sebagai alternatif yang lebih terjangkau. Meskipun pasar gaming PC bernilai $45 miliar dengan pertumbuhan yang stabil, pergeseran ini menandakan bahwa komputasi high-end tidak lagi hanya ditentukan oleh kinerja, tetapi oleh siapa yang mampu mendapatkan akses ke silikon di era AI.