
Jala Lintas Media Group (JLM) mengintensifkan ekspansinya ke pasar internet rumah Jakarta melalui anak usahanya, Bnetfit, yang secara resmi memasuki medan kompetisi di awal 2026 dengan mengandalkan model bisnis akses terbuka (open access fiber). Langkah strategis ini ditempuh di tengah tingginya penetrasi internet di ibu kota dan bertujuan untuk menekan beban belanja modal sekaligus memberikan fleksibilitas harga di pasar yang sangat kompetitif.
Model akses terbuka memungkinkan Bnetfit memanfaatkan infrastruktur jaringan serat optik yang sudah terbangun, termasuk melalui kolaborasi strategis dengan PT Linknet Tbk ("Linknet"), yang diresmikan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) pada 22 Oktober 2025. Skema ini memisahkan kepemilikan infrastruktur dari penyediaan layanan, di mana penyedia jaringan fokus membangun dan mengelola serat optik, sementara penyedia layanan internet (ISP) cukup menyewa kapasitas untuk melayani pelanggan. Pendekatan ini secara historis bertujuan mengurangi duplikasi pembangunan infrastruktur yang mahal, menurunkan hambatan masuk bagi ISP baru, dan merangsang persaingan harga serta kualitas layanan.
Victor Irianto, CEO Jala Lintas Media, menyatakan Jakarta merupakan pasar yang sangat strategis dan menjadi medan uji bagi model bisnis perusahaan. Menurutnya, dengan penetrasi internet di DKI Jakarta yang mencapai 91,35% pada tahun 2025 berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), tantangan utama bukan lagi soal akses, melainkan penyediaan layanan yang stabil, relevan, dan sesuai dengan gaya hidup digital masyarakat urban.
Kolaborasi dengan Linknet Fiber, yang menyediakan akses infrastruktur jaringan serat optik grosir termasuk jaringan backbone, feeder, hingga last-mile dengan teknologi Gigabit-Capable Passive Optical Network (GPON), memungkinkan Bnetfit memperluas jangkauan layanan residensial secara optimal. Kanishka Gayan Wickrama, CEO PT Link Net Tbk, menegaskan kerja sama ini memperkuat peran Linknet sebagai penyedia infrastruktur digital yang terbuka dan kolaboratif. Ia berharap skema akses terbuka ini dapat memastikan lebih banyak masyarakat Indonesia menikmati konektivitas berkecepatan tinggi yang andal, sejalan dengan misi perusahaan "We LINK the nation for better lives".
Secara lebih luas, model akses terbuka ini sejalan dengan agenda pemerintah dan dorongan industri untuk memperluas penetrasi broadband tetap dan meningkatkan kualitas internet nasional. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) tengah menyiapkan reformasi regulasi yang berfokus pada akses terbuka dan berbagi infrastruktur untuk menciptakan kompetisi yang lebih sehat dan mempercepat perluasan jaringan digital hingga ke desa-desa. Asosiasi Penyedia Jaringan Telekomunikasi Indonesia (APJATEL), bekerja sama dengan International Fiber Alliance (IFA), juga mendorong penerapan Open Access Fiber untuk membuka peluang tarif internet yang lebih kompetitif di masa depan, dengan menekan biaya investasi tinggi yang selama ini menjadi faktor pendorong mahalnya harga internet. Ketua Umum Apjatel, Jerry Mangasas Swandy, percaya bahwa kolaborasi semacam ini akan membangun fondasi infrastruktur digital yang lebih efisien dan terbuka.
Meski demikian, implementasi akses terbuka di Indonesia menghadapi tantangan. Distribusi jaringan serat optik masih belum merata, dengan hanya sekitar 60,84% dari total sub-distrik di Indonesia yang tercakup pada tahun 2023, sebagian besar karena biaya investasi yang tinggi di lokasi yang tidak menguntungkan secara komersial. Kendala perizinan dan biaya sewa utilitas yang bervariasi antar daerah juga menambah beban bagi perusahaan yang ingin menggelar jaringan serat optik. Dengan hadirnya Bnetfit di Jakarta melalui strategi akses terbuka, pasar internet rumah diperkirakan akan menyaksikan peningkatan persaingan yang lebih ketat, berpotensi memicu inovasi layanan dan penawaran harga yang lebih menarik bagi konsumen. Transformasi ini dipandang sebagai langkah krusial dalam mendukung agenda transformasi digital nasional Indonesia.