
PT Telkomsel mencatatkan kinerja keuangan yang solid pada kuartal ketiga tahun 2025, ditandai dengan kenaikan laba bersih dan pendapatan bisnis digital, sebuah pencapaian yang oleh pakar diyakini sebagai hasil dari akselerasi transformasi digital dan strategi konvergensi yang tepat. Perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia ini melaporkan laba bersih sebesar Rp4,71 triliun, tumbuh 11,5% secara kuartalan (QoQ), dengan Return on Equity (ROE) mencapai 83,7%. Pendapatan bisnis digital menjadi pendorong utama, melonjak 7,9% QoQ dari Rp18,178 triliun menjadi Rp19,607 triliun.
Agung Harsoyo, dosen Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB, menyoroti bahwa capaian positif Telkomsel tidak terlepas dari percepatan transformasi digital nasional yang terus meningkat. Menurut Harsoyo, strategi Fixed Mobile Convergence (FMC) Telkomsel, yang diwujudkan melalui integrasi layanan seperti IndiHome dan Telkomsel One, serta penawaran bundling layanan Over-The-Top (OTT), terbukti efektif dalam memaksimalkan monetisasi jaringan yang dimiliki perusahaan. Integrasi IndiHome ke dalam Telkomsel, yang rampung pada Juli 2023, telah menjadi tonggak penting dalam inisiatif FMC TelkomGroup, bertujuan menghadirkan layanan broadband yang lebih luas, merata, dan handal, serta memperkuat bisnis perusahaan di masa mendatang.
Peningkatan kinerja juga tercermin dari Average Revenue Per User (ARPU) Telkomsel yang naik 5,2% secara kuartalan, dari Rp41.300 menjadi Rp43.400. Hal ini mengindikasikan peningkatan konsumsi layanan digital oleh pelanggan. Di segmen fixed broadband, jumlah pelanggan IndiHome tumbuh 7,5% dari 10,735 juta pada September 2024 menjadi 11,544 juta pada periode yang sama tahun 2025. Pelanggan KartuHalo juga menunjukkan pertumbuhan 6,3% menjadi 8,168 juta. Hingga kuartal ketiga 2025, Telkomsel melayani 157,6 juta pelanggan seluler dan 10,3 juta pelanggan IndiHome, dengan pertumbuhan pelanggan IndiHome sebesar 9,4% Year-on-Year (YoY).
Selain strategi konvergensi, pengembangan jaringan yang agresif juga menjadi kunci penguatan Telkomsel. Harsoyo menegaskan bahwa tanpa pengembangan jaringan 4G dan 5G secara masif serta penguatan ekosistem layanan digital, performa Telkomsel tidak akan sebaik ini pada September 2025. Telkomsel mengoperasikan 288.295 Base Transceiver Station (BTS), terdiri dari 235.627 BTS 4G dan 4.009 BTS 5G. Pembangunan jaringan yang masif ini mendorong payload data Telkomsel tumbuh 17,2% YoY menjadi 17,5 juta TB. Anggaran belanja modal (capex) PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) untuk tahun 2025 sebesar Rp40 triliun, dengan fokus pada infrastruktur inti, termasuk jaringan fiber optik dan penguatan Telkomsel. Telkomsel menargetkan 15 juta hingga 20 juta pelanggan 5G pada tahun 2025, didukung oleh investasi berkelanjutan di jaringan 4G/5G.
Telkomsel juga mengadopsi strategi penguatan bundling dan cross-selling untuk layanan mobile broadband guna meningkatkan kemudahan bagi pelanggan dalam menikmati layanan fixed broadband secara bersamaan. Di bisnis fixed broadband, perusahaan fokus pada penetrasi ke pasar potensial, menjangkau pelanggan baru, dan menjaga pendapatan berkelanjutan melalui strategi bundling layanan digital. Penguatan jaringan dan teknologi terdepan, termasuk penggunaan teknologi AI Autonomous Network untuk jaringan 5G, menjadi bagian dari komitmen Telkomsel untuk menjaga kualitas konektivitas.
Keberlanjutan kinerja Telkomsel akan bergantung pada kemampuannya untuk terus berinovasi dalam layanan digital dan memperluas jangkauan konvergensi. Transformasi menuju ekosistem digital yang kuat, didukung oleh investasi infrastruktur yang berkesinambungan dan strategi monetisasi yang adaptif, akan menjadi faktor krusial dalam menghadapi dinamika pasar telekomunikasi yang kompetitif. Meskipun Telkom secara konsolidasi mencatat penurunan laba bersih 10,69% YoY pada kuartal III 2025 menjadi Rp15,78 triliun, kinerja Telkomsel menunjukkan resiliensi dan potensi sebagai pilar utama pertumbuhan grup Telkom. Strategi unlocking value melalui optimalisasi infrastruktur dan fokus pada segmen B2C yang dikelola Telkomsel, sementara Telkom Group fokus pada B2B, diharapkan menciptakan nilai jangka panjang di tengah lanskap ekonomi digital.