
Kontras tajam mewarnai lanskap telekomunikasi Indonesia akhir tahun 2025, saat kecepatan internet seluler nasional melaju signifikan, menempatkannya pada posisi yang lebih baik di panggung global, sementara layanan fixed broadband justru terperosok. Berdasarkan laporan Speedtest Global Index dari Ookla untuk November 2025, kecepatan internet seluler di Indonesia mencapai median 50,77 Mbps, melonjak enam peringkat ke posisi 73 dari 103 negara di dunia. Sebaliknya, kecepatan fixed broadband Indonesia melorot empat peringkat ke posisi 119 dari 154 negara global, hanya mengungguli Myanmar di kawasan Asia Tenggara.
Perkembangan ini memperlihatkan disparitas mencolok dalam strategi dan hasil pembangunan infrastruktur digital Indonesia. Sementara adopsi perangkat seluler dan investasi jaringan bergerak terus mendorong peningkatan kecepatan, layanan fixed broadband, yang menjadi tulang punggung ekonomi digital dan produktivitas jangka panjang, masih menghadapi tantangan serius. Pada Maret 2024, kecepatan internet seluler Indonesia tercatat 25,83 Mbps dan fixed broadband 29,37 Mbps. Data Desember 2024 menunjukkan kecepatan seluler 28,80 Mbps dan fixed broadband 32,07 Mbps. Lonjakan kecepatan internet seluler pada November 2025 jauh melampaui rata-rata peningkatan sebelumnya.
Secara global, kecepatan unduh internet seluler rata-rata mencapai 103,01 Mbps dan fixed broadband 115,43 Mbps pada November 2025, menempatkan Indonesia jauh di bawah rata-rata dunia di kedua kategori. Di Asia Tenggara, Indonesia masih tertinggal dari negara-negara seperti Singapura, Malaysia, Vietnam, Thailand, dan Filipina dalam kecepatan internet seluler, meskipun telah melampaui Kamboja dan Laos. Dalam fixed broadband, Indonesia hanya lebih baik dari Myanmar di antara negara-negara ASEAN.
Mochamad Hadiyana, Staf Ahli Menteri Bidang Teknologi Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), menjelaskan bahwa beberapa faktor fundamental menjadi penyebab lambatnya fixed broadband di Indonesia. Pertama, kapasitas jaringan yang disediakan oleh Penyedia Layanan Internet (ISP) seringkali tidak memadai. ISP kerap menawarkan kapasitas lebih kepada pelanggan dibandingkan kemampuan infrastruktur yang dimiliki, menyebabkan kemacetan saat banyak pengguna mengakses layanan secara bersamaan. Kedua, kualitas infrastruktur jaringan, khususnya kabel serat optik yang sudah tua atau tidak terawat, mengakibatkan atenuasi sinyal dan penurunan kecepatan internet. Ketiga, penggunaan peralatan jaringan yang usang, seperti modem dan router lama, menciptakan hambatan yang memperlambat koneksi. Terakhir, biaya investasi infrastruktur yang tinggi menjadi kendala bagi operator untuk memperluas dan memodernisasi jaringan.
Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) telah menyatakan komitmennya untuk mengatasi masalah ini, menargetkan peningkatan kecepatan fixed broadband hingga 100 Mbps dengan harga terjangkau. Wayan Toni Supriyanto, Direktur Jenderal Infrastruktur Digital Komdigi, mengungkapkan target ambisius untuk tahun 2029: 50 persen rumah tangga di seluruh Indonesia diharapkan terhubung dengan layanan internet fixed broadband berkecepatan 100 Mbps. Saat ini, jangkauan fixed broadband baru mencapai sekitar 21 persen rumah tangga. Salah satu upaya konkret adalah melalui lelang frekuensi 1,4 GHz yang telah dimenangkan oleh PT Telemedia Komunikasi Pratama (anak usaha Surge) dan Eka Mas Republik (pemilik merek MyRepublic), bertujuan untuk mempercepat penyediaan layanan internet cepat tetap nirkabel.
Implikasi dari ketimpangan kecepatan ini sangat signifikan bagi ekonomi digital Indonesia yang terus berkembang. Kecepatan internet seluler yang membaik mendukung sektor e-commerce, media sosial, dan layanan berbasis aplikasi di perkotaan, namun stagnasi fixed broadband menghambat produktivitas bisnis, pendidikan jarak jauh, telemedis, dan inovasi di rumah tangga serta Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), terutama di daerah terpencil. Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menegaskan, 86 persen sekolah di Indonesia belum memiliki akses fixed broadband, 38 persen kantor desa belum terhubung ke internet, dan 75 persen puskesmas memiliki koneksi yang belum memadai. Kondisi ini memperlebar kesenjangan digital dan menghambat pemerataan akses terhadap peluang ekonomi dan sosial yang ditawarkan oleh transformasi digital.
Meski demikian, beberapa penyedia layanan fixed broadband menunjukkan performa positif. MyRepublic Indonesia, misalnya, dinobatkan sebagai "Best Fixed Network" dan "Best ISP Gaming Experience" di Indonesia untuk paruh pertama 2025 oleh Ookla, mencerminkan kualitas jaringan yang komprehensif dari kecepatan unduh-unggah hingga pengalaman streaming video. Keberhasilan operator tertentu menyoroti potensi perbaikan yang dapat dicapai dengan investasi dan teknologi yang tepat, memberikan harapan bagi upaya pemerintah untuk mencapai target penetrasi dan kecepatan fixed broadband yang lebih merata.