Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Pendidikan Karakter: Bekal Utama Generasi Unggul Menghadapi Dinamika Era AI

2026-01-04 | 05:38 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-03T22:38:01Z
Ruang Iklan

Pendidikan Karakter: Bekal Utama Generasi Unggul Menghadapi Dinamika Era AI

Laju adopsi kecerdasan buatan (AI) di Indonesia, dengan 92 persen pekerja intelektual kini memanfaatkan AI generatif untuk berbagai tugas, melampaui rata-rata global sebesar 75 persen, menuntut perombakan fundamental dalam sistem pendidikan nasional, dengan penekanan pada pendidikan karakter sebagai kunci membentuk generasi adaptif. Pergeseran ini bukan tanpa konsekuensi; studi PwC memproyeksikan bahwa meskipun AI akan menggantikan 85 juta pekerjaan secara global, teknologi ini juga akan menciptakan 97 juta pekerjaan baru pada tahun 2025, menyoroti kebutuhan akan keterampilan digital dan teknis yang lebih tinggi. Di Indonesia, Presiden Joko Widodo pada September 2024 telah mengingatkan potensi hilangnya 85 juta pekerjaan pada tahun 2025 akibat otomatisasi, sejalan dengan laporan World Economic Forum (WEF) yang memprediksi 39 persen keterampilan saat ini akan usang menjelang 2030.

Transformasi ini menyoroti keterbatasan pendidikan yang hanya berfokus pada aspek akademik. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Cristie menegaskan bahwa kekuatan utama bangsa di era AI terletak pada manusia yang berkarakter kuat dan berintegritas tinggi. Ia menekankan AI harus menjadi alat untuk memperkuat kapasitas manusia, bukan menggantikannya, sebab manusia memiliki kemampuan unik dalam memahami konteks, menilai makna, dan mengambil keputusan berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti juga menyatakan bahwa penggunaan AI di sektor pendidikan harus dibarengi dengan "kesalehan digital", memastikan teknologi tidak disalahgunakan melainkan dimanfaatkan secara bijak dan bertanggung jawab. Prof. Bedjo Sujanto, Guru Besar Fakultas Pendidikan Universitas Negeri Jakarta, menambahkan bahwa teknologi AI tidak dapat menggantikan peran tenaga pengajar dalam membentuk karakter, kepribadian, perilaku, dan sopan santun siswa, yang merupakan hal esensial yang membutuhkan interaksi manusiawi.

Pendidikan karakter menawarkan fondasi krusial bagi individu untuk menavigasi disrupsi AI yang kompleks. Ini membekali siswa dengan kemampuan berpikir kritis dan analitis, empati, kecerdasan emosional, kreativitas, kemampuan memecahkan masalah, komunikasi efektif, dan kolaborasi, yang merupakan keterampilan krusial yang tidak mudah digantikan oleh AI. Keterampilan-keterampilan ini memampukan mereka untuk mempertanyakan asumsi, mengidentifikasi bias, menyusun argumen logis, serta membuat keputusan yang tepat di tengah banjir informasi. Lingkungan belajar yang inklusif dan multikultural juga diyakini dapat memperkuat empati siswa, seperti yang ditekankan oleh Koordinator IB Diploma Programme di North Jakarta Intercultural School (NJIS), Warren Wessels.

Meski demikian, implementasi AI dalam pendidikan di Indonesia menghadapi sejumlah tantangan. Kesenjangan infrastruktur digital di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), rendahnya literasi AI di kalangan guru, dan lemahnya regulasi terkait etika serta perlindungan data peserta didik masih menjadi hambatan signifikan. Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2025 menunjukkan indeks literasi AI masyarakat Indonesia masih 49,96, mengindikasikan tingkat kesiapan yang kurang optimal. Sebagai respons, pemerintah tengah merancang Peraturan Presiden (Perpres) yang mengatur pemanfaatan AI secara etis, aman, dan adaptif, termasuk sebagai peta jalan nasional untuk sektor pendidikan. Komisi X DPR RI, melalui Ketua Hetifah Sjaifudian, menegaskan bahwa dunia pendidikan tidak boleh tertinggal dan AI adalah alat bantu yang memperkuat peran guru, namun sentuhan manusiawi guru tetap menjadi yang paling berharga.

Sektor telekomunikasi memegang peran penting dalam memfasilitasi adaptasi ini. PT Telkom Indonesia, sebagai BUMN telekomunikasi, sedang memperluas implementasi AI melalui program AI Connect yang tersebar di sembilan kota, mendorong pengembangan teknologi dan kolaborasi komunitas untuk mencetak talenta digital. Integrasi AI dalam kurikulum, bahkan sebagai mata pelajaran pilihan mulai SD kelas 5 hingga SMA, telah menjadi perhatian Kemendikdasmen untuk melatih berpikir kritis dan kreativitas anak. UNESCO menekankan literasi AI harus dibarengi dengan pemahaman etika dan tanggung jawab penggunaan teknologi, agar mahasiswa tidak hanya mampu menggunakannya, tetapi juga memahami dampaknya terhadap kehidupan sosial, akademik, dan profesional. Pada akhirnya, membentuk generasi adaptif di tengah disrupsi AI memerlukan pendekatan holistik, menggabungkan penguasaan teknologi dengan nilai-nilai karakter yang kuat, didukung oleh kebijakan pemerintah, investasi infrastruktur, dan kolaborasi multipihak antara akademisi, industri, dan orang tua.