Penggunaan roof rack di mobil, sebuah solusi populer untuk menambah kapasitas angkut barang, menuntut pemahaman mendalam tentang prinsip keselamatan dan dampaknya terhadap dinamika kendaraan, jauh melampaui sekadar pemasangan. Penempatan beban berlebih atau pemasangan yang tidak tepat dapat mengganggu stabilitas, meningkatkan konsumsi bahan bakar, dan bahkan berpotensi menyebabkan kecelakaan fatal, sebuah risiko yang sering kali diabaikan oleh para pengemudi.
Secara historis, roof rack telah berkembang dari sekadar palang sederhana menjadi sistem modular yang lebih canggih, dirancang untuk mengakomodasi berbagai kebutuhan, mulai dari perlengkapan petualangan hingga barang bawaan keluarga saat perjalanan jauh. Namun, seiring dengan peningkatan penggunaannya, tantangan terkait keamanan dan efisiensi juga semakin menonjol. Data dari Integrated Road Safety Management System (IRSMS) Korlantas Polri menunjukkan bahwa hingga 5 Agustus 2024, terjadi 79.220 kecelakaan lalu lintas di Indonesia, dengan sepeda motor menyumbang 76,42% dari total kendaraan yang terlibat. Meskipun data spesifik mengenai insiden akibat roof rack tidak disebutkan secara terpisah, setiap modifikasi kendaraan yang memengaruhi pusat gravitasi dan aerodinamika akan berdampak pada keselamatan berkendara secara keseluruhan.
Salah satu implikasi krusial dari penggunaan roof rack adalah perubahan pada pusat gravitasi kendaraan. Sonny Susmana, seorang pengamat otomotif dan pegiat safety driving, menjelaskan bahwa beban tambahan di atap mobil dapat menaikkan pusat gravitasi, yang memengaruhi keseimbangan dan handling, terutama saat menikung atau melaju kencang, berisiko menyebabkan kendaraan oleng atau sulit dikendalikan. Ia menegaskan, "Limbung pasti terjadi di keduanya [roof rack dan roof box], mengingat keberadaan roofrack dan roofbox dengan muatan lebih dari 50 Kg akan membuat body mobil tidak stabil karena center of gravity berpindah ke atas." Oleh karena itu, batasan beban menjadi sangat penting. Generalisasi dari berbagai sumber menunjukkan bahwa batas aman beban yang dianjurkan pada atap mobil umumnya tidak lebih dari 70-75 kg, termasuk berat roof rack atau roof box itu sendiri. Melebihi batas ini dapat menyebabkan deformasi atau kerusakan pada atap mobil. Untuk mengetahui kapasitas beban maksimal mobil secara presisi, pemilik kendaraan disarankan untuk merujuk pada buku manual kendaraan masing-masing, atau menghitung selisih antara gross weight dengan curb weight, kemudian dikurangi perkiraan total beban penumpang.
Dampak signifikan lainnya adalah penurunan efisiensi bahan bakar dan aerodinamika. Pemasangan roof rack meningkatkan hambatan udara, yang secara signifikan dapat meningkatkan konsumsi bahan bakar hingga 10-15%, terutama saat melaju di jalan tol atau kecepatan tinggi. Studi mengenai aerodinamika kendaraan, seperti yang diungkapkan oleh M. Dzulfaqar Syaifullah dalam penelitiannya tentang pengaruh roof rails, menggarisbawahi bahwa sekitar 50-60% energi bahan bakar digunakan untuk mengatasi hambatan aerodinamika. Desain crossbar yang aerodinamis, seperti bentuk pipih menyerupai sayap pesawat, dapat membantu menjaga aliran angin tetap streamline dan meminimalkan hambatan.
Peraturan hukum juga menjadi pertimbangan penting. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas Angkutan Jalan (UU LLAJ) Pasal 50 Ayat 1 dapat berlaku untuk modifikasi kendaraan bermotor, termasuk pemasangan roof box yang mengubah tipe kendaraan. Pasal ini mewajibkan uji tipe bagi setiap kendaraan bermotor yang dimodifikasi dan menyebabkan perubahan tipe. Jika pemasangan tidak sesuai dengan syarat, pengemudi berpotensi ditilang dan didenda hingga Rp500.000.
Untuk memastikan perjalanan yang aman dan nyaman, beberapa langkah cerdas harus diterapkan. Pertama, pastikan mobil dilengkapi dengan roof rail pabrikan, terutama untuk jenis SUV dan MPV, karena tidak semua mobil dirancang untuk menopang beban di atap. Didi Ahadi, Technical Support Manager PT Toyota Astra Motor (TAM), tidak menyarankan pemasangan roof box pada mobil tanpa roof rail dari pabrikan seperti hatchback atau sedan, demi alasan keamanan. Kedua, pilih roof rack dengan material berkualitas tinggi seperti plastik ABS yang kuat dan tahan air, serta bentuk yang aerodinamis. Andrew Pasquella, Rack Expert dari Front Runner Outfitters, menyarankan untuk mencari roof rack aluminium yang lebih ringan 30% dari baja namun memiliki daya tahan dan kapasitas angkut yang baik.
Ketiga, distribusi beban harus dilakukan secara bijak. Letakkan barang yang lebih ringan di bagian atas dan barang yang lebih berat di tengah serta serendah mungkin untuk menjaga titik gravitasi kendaraan. Gunakan jaring pengaman atau tali pengikat berkekuatan tinggi dan tahan air untuk memastikan barang terikat dengan aman dan tidak terlepas saat cuaca ekstrem. Keempat, sesuaikan gaya berkendara. Hindari kecepatan berlebih, idealnya di bawah 100 km/jam, dan tingkatkan kewaspadaan saat menikung tajam atau menghadapi angin samping. Terakhir, lakukan pengecekan rutin sebelum dan sesudah perjalanan untuk memastikan pemasangan roof rack tetap kencang dan tidak ada kerusakan. Melepas roof rack saat tidak digunakan juga disarankan untuk mengurangi kebisingan, meningkatkan efisiensi bahan bakar, dan mencegah keausan. Keberlanjutan praktik ini akan menjadi penentu utama dalam memastikan setiap perjalanan dengan roof rack tetap aman, efisien, dan tanpa insiden yang tidak diinginkan.