:strip_icc()/kly-media-production/medias/5466250/original/028926200_1767840659-realme_16_Pro_Series__Oppo_Reno15_Pro__dan_Poco_X8_Pro..png)
Produsen smartphone Realme akan kembali beroperasi sebagai sub-merek di bawah induknya, Oppo, sebuah langkah restrukturisasi strategis yang dikonfirmasi awal Januari 2026. Keputusan ini menandai berakhirnya periode tujuh tahun Realme sebagai entitas independen dan bertujuan untuk mengonsolidasikan sumber daya, meningkatkan efisiensi operasional, serta memangkas biaya di tengah lanskap pasar smartphone global yang semakin kompetitif dan menekan margin keuntungan.
Realme, yang didirikan pada Mei 2018 sebagai sub-merek Oppo, memisahkan diri menjadi perusahaan independen pada Juli 2018 di bawah kepemimpinan Sky Li, mantan wakil presiden Oppo. Selama periode kemandiriannya, Realme dengan cepat menorehkan jejak signifikan di pasar, terutama di segmen menengah dan anggaran, dengan fokus pada perangkat berfitur kaya dan harga kompetitif. Ekspansi agresifnya membawa Realme menjadi pemain kunci di pasar negara berkembang seperti India dan Asia Tenggara, di mana pada Q4 2024, Realme menduduki peringkat kedelapan secara global dengan pangsa pasar 5% dan mencatat pertumbuhan volume serta pendapatan dua digit. Di Filipina, misalnya, Realme memegang 13,3% pangsa pasar pada tahun 2024, menjadikannya merek smartphone terbesar kedua.
Integrasi kembali ini merupakan respons langsung terhadap kondisi pasar yang menantang. Industri smartphone global menghadapi stagnasi pertumbuhan, kenaikan biaya komponen, dan tekanan inovasi yang intens, khususnya dalam pengembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) di perangkat seluler. Dengan menyatukan kembali Realme, Oppo (di bawah payung BBK Electronics yang juga menaungi OnePlus dan Vivo) berupaya menghilangkan duplikasi investasi dalam penelitian dan pengembangan (R&D), rantai pasokan, serta upaya pemasaran. Pendekatan ini diharapkan menghasilkan keputusan yang lebih cepat dan terarah, sekaligus meningkatkan skala ekonomi grup secara keseluruhan.
Dalam struktur baru ini, Oppo akan berperan sebagai merek utama, dengan OnePlus menargetkan segmen premium/kinerja dan Realme fokus pada segmen harga-sensitif atau pasar kaum muda. Sky Li akan tetap memimpin operasional Realme sebagai CEO, melaporkan dalam kerangka kerja Oppo, yang menunjukkan upaya untuk mempertahankan identitas merek yang berbeda meskipun ada sinergi operasional di belakang layar. Produk Realme yang sudah terjadwal akan tetap diluncurkan sesuai rencana, dan identitas merek tidak akan berubah secara drastis bagi konsumen.
Salah satu perubahan paling nyata bagi konsumen Realme adalah integrasi layanan purna jual. Pengguna Realme kini dapat memanfaatkan jaringan layanan Oppo yang luas, yang mencakup lebih dari 5.000 pusat layanan di Tiongkok, yang berpotensi meningkatkan cakupan dukungan dan kecepatan perbaikan, terutama di pasar-pasar penting seperti India.
Implikasi jangka panjang dari strategi ini akan terlihat dalam persaingan pasar smartphone. Di Asia Tenggara pada tahun 2024, Oppo memimpin pasar untuk pertama kalinya dengan pangsa 18%, mengalahkan Samsung (17%) serta TRANSSION dan Xiaomi (masing-masing 16%). Dengan penguatan sinergi melalui Realme, Oppo berpotensi memperkuat dominasinya, terutama di segmen menengah ke bawah yang menjadi kekuatan Realme. Langkah ini juga mencerminkan tren konsolidasi yang lebih luas di industri teknologi Tiongkok, di mana perusahaan-perusahaan berupaya menciptakan front terpadu di pasar global. Efisiensi yang ditingkatkan ini diharapkan membebaskan sumber daya untuk investasi R&D yang lebih besar, khususnya dalam teknologi AI, yang menjadi fokus strategis Oppo untuk tahun 2025. Hal ini berpotensi menghasilkan inovasi produk yang lebih cepat dan lebih canggih di seluruh portofolio merek.