:strip_icc():watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,573,20,0)/kly-media-production/medias/4802930/original/039812500_1713250575-Samsung.jpg)
Samsung Electronics mencetak rekor pendapatan dari divisi memorinya pada kuartal keempat 2025, meraup sekitar 401,45 triliun Rupiah (sekitar US$25,9 miliar) dari penjualan gabungan Dynamic Random-Access Memory (DRAM) dan NAND flash. Peningkatan signifikan ini, didorong oleh melonjaknya permintaan untuk infrastruktur kecerdasan buatan (AI) dan pengetatan pasokan global, memposisikan raksasa teknologi Korea Selatan tersebut untuk menghadapi dilema strategis: memanfaatkan keuntungan dari bisnis chip yang menguntungkan sembari menahan potensi kenaikan harga untuk lini ponsel pintar Galaxy miliknya.
Divisi DRAM Samsung secara spesifik berhasil membukukan pendapatan sebesar US$19,2 miliar (sekitar 297,6 triliun Rupiah) pada periode yang sama, mengukuhkan kembali posisinya sebagai pemasok DRAM nomor satu di dunia setelah sempat tertinggal. Lonjakan profitabilitas ini turut mendorong perkiraan laba operasional konsolidasi Samsung Electronics pada kuartal keempat 2025 menjadi 20 triliun Won (sekitar US$13,8 miliar), melonjak 208 persen dari tahun sebelumnya, menandai siklus super chip yang kuat. Namun, di balik rekor keuntungan ini, divisi ponsel pintar Samsung (Mobile eXperience/MX) menghadapi tekanan profitabilitas akibat kenaikan biaya komponen.
Kenaikan harga DRAM dan NAND flash yang tajam menjadi pemicu utama. Harga kontrak DRAM konvensional diperkirakan melonjak antara 55 hingga 60 persen secara kuartalan pada kuartal pertama 2026, dengan harga DRAM server diproyeksikan meningkat lebih dari 60 persen. Fenomena ini berakar pada ketidakseimbangan pasokan dan permintaan global, di mana investasi besar-besaran oleh penyedia layanan cloud (CSP) dalam membangun infrastruktur AI telah mengalihkan kapasitas produksi chip memori menuju High-Bandwidth Memory (HBM) yang lebih menguntungkan dan DRAM server. Pertumbuhan pasokan DRAM diperkirakan hanya mencapai 15-20 persen pada tahun 2026, jauh tertinggal dari proyeksi pertumbuhan permintaan sebesar 20-25 persen, menyebabkan pasar memori global tetap dalam kondisi kurang pasokan sepanjang tahun.
Dampak langsung dari kenaikan biaya ini adalah ancaman terhadap harga jual ponsel pintar Galaxy. Wonjin Lee, Presiden dan Kepala Pemasaran Global Samsung, menyatakan bahwa perusahaan "akan berada pada titik di mana kami harus benar-benar mempertimbangkan penetapan ulang harga produk kami" karena "harga terus naik bahkan saat kita berbicara." Roh Tae-moon, co-CEO Samsung sekaligus kepala divisi MX, di CES 2026 juga memperingatkan bahwa biaya memori dan komponen yang meningkat adalah "belum pernah terjadi sebelumnya" dan akan "berdampak pada penetapan harga produk."
Analisis industri menunjukkan bahwa biaya Bill of Materials (BoM) ponsel pintar diperkirakan akan meningkat 5-7 persen, atau bahkan lebih, pada tahun 2026 dibandingkan dengan tahun 2025. Memori sendiri menyumbang sekitar 10 hingga 15 persen dari total biaya BoM ponsel pintar, dan untuk perangkat flagship dengan RAM LPDDR5X 16-24GB, persentase ini bahkan dapat melampaui 20 persen.
Kendati demikian, Samsung dilaporkan sedang mempertimbangkan strategi harga yang berbeda untuk pasar tertentu. Di Amerika Serikat, perusahaan berencana untuk mempertahankan harga seri Galaxy S26, dengan S26 dasar seharga $799, S26+ seharga $999, dan S26 Ultra seharga $1.299, untuk menjaga daya saing terhadap Apple. Keputusan ini kemungkinan akan mengorbankan margin keuntungan Samsung sebesar 10-15 persen. Namun, pasar lain, termasuk Korea Selatan, kemungkinan akan mengalami kenaikan harga, dengan perkiraan antara 44.000 hingga 88.000 Won. Seri Galaxy A kelas menengah juga diperkirakan akan melihat kenaikan harga di semua pasar.
Situasi ini menyoroti kompleksitas operasional Samsung sebagai produsen chip memori terkemuka sekaligus pembuat ponsel pintar terbesar di dunia. Sementara satu divisi meraup keuntungan rekor dari siklus super memori yang dipicu AI, divisi lainnya harus bergulat dengan lonjakan biaya komponen yang sama. Tekanan ini tidak hanya berpotensi meningkatkan harga perangkat bagi konsumen, tetapi juga dapat memengaruhi pilihan model yang tersedia di pasar, terutama di segmen menengah ke bawah yang lebih sensitif terhadap harga. Para analis memperkirakan ketatnya pasokan memori ini tidak akan mereda hingga menjelang tahun 2027, menunjukkan bahwa tantangan harga di pasar gadget akan bertahan dalam jangka waktu menengah.