:strip_icc():watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,573,20,0)/kly-media-production/medias/5278419/original/039396400_1752074485-Galaxy_Watch_8_dan_Watch_8_Classic.jpeg)
Samsung Electronics akan meluncurkan fitur kesehatan berbasis kecerdasan buatan bernama "Brain Health" pada gelaran Consumer Electronics Show (CES) 2026 di Las Vegas, menandai pergeseran signifikan dalam teknologi perangkat pintar dari pemantauan kesehatan fisik ke deteksi dini kondisi kognitif. Fitur ini dirancang untuk menganalisis pola gaya berjalan, perubahan suara, dan status tidur pengguna melalui perangkat ponsel pintar dan perangkat yang dapat dikenakan, seperti jam tangan pintar Galaxy, guna mengidentifikasi tanda-tanda awal demensia atau penurunan kognitif. Pengembangan internal fitur ini telah selesai, dan saat ini sedang menjalani validasi klinis bekerja sama dengan institusi medis, sebuah langkah krusial untuk memastikan akurasi dan kredibilitasnya sebelum rilis ke publik.
Inovasi Samsung ini muncul di tengah krisis kesehatan global yang berkembang. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa pada tahun 2020, lebih dari 55 juta orang di seluruh dunia hidup dengan demensia, dan angka ini diperkirakan akan meningkat menjadi 78 juta pada tahun 2030 dan 139 juta pada tahun 2050. Beban ekonomi demensia juga sangat besar, dengan biaya global mencapai US$1,3 triliun pada tahun 2019 dan diproyeksikan melonjak menjadi US$2,8 triliun pada tahun 2030. Parahnya, sekitar tiga perempat penderita demensia secara global belum menerima diagnosis formal, terutama di negara berpenghasilan rendah dan menengah, yang menghambat akses mereka terhadap perawatan dan dukungan yang terorganisasi.
Langkah Samsung memanfaatkan teknologi sehari-hari untuk tujuan diagnostik memiliki preseden ilmiah. Penelitian yang diterbitkan dalam JAMA Network Open menunjukkan bahwa aplikasi ponsel pintar dapat mendeteksi tanda-tanda awal demensia frontotemporal, bahkan pada individu dengan risiko genetik yang belum menunjukkan gejala nyata, dengan akurasi yang setara atau bahkan lebih baik daripada tes tatap muka standar. Model pembelajaran mesin yang menganalisis pola bicara juga telah menunjukkan akurasi 70 hingga 75 persen dalam membedakan pasien Alzheimer dari individu sehat. Dr. Adam M. Staffaroni dari Memory and Aging Center di University of California, San Francisco, mengemukakan bahwa penilaian berbasis ponsel pintar yang diterapkan secara jarak jauh dapat menjadi alat yang andal dan valid untuk mengevaluasi kondisi kognitif. Teknologi "Brain Health" dari Samsung tidak hanya bertujuan untuk deteksi, tetapi juga akan menawarkan panduan langkah-langkah pencegahan dan program pelatihan otak yang dipersonalisasi untuk meningkatkan fungsi kognitif.
Namun, integrasi kecerdasan buatan ke dalam perangkat kesehatan konsumen menimbulkan tantangan regulasi dan etika yang kompleks. Badan pengawas seperti Food and Drug Administration (FDA) di Amerika Serikat sedang berjuang untuk beradaptasi dengan teknologi AI/ML yang terus berkembang, terutama dalam menentukan bagaimana mengklasifikasikan perangkat yang membuat klaim medis versus alat kesehatan umum. Kekhawatiran muncul mengenai keamanan data, privasi pengguna, potensi bias dalam algoritma AI, serta kurangnya transparansi dan validasi klinis yang ketat untuk banyak perangkat AI/ML di pasar. Samsung telah menyatakan akan memperkuat keamanan data sensitif pengguna dengan platform Samsung Knox. Para ahli industri menyerukan sistem umpan balik pengguna yang lebih kuat untuk menyeimbangkan efektivitas dengan perlindungan privasi. Perusahaan teknologi harus menavigasi lanskap regulasi yang "tertinggal" ini, di mana hukum yang ada belum sepenuhnya menangani sifat adaptif AI. Meskipun demikian, potensi teknologi ini untuk mendemokratisasi akses ke skrining demensia dini dan memfasilitasi intervensi yang lebih cepat menawarkan harapan signifikan dalam menghadapi tantangan demensia yang terus meningkat secara global.