:strip_icc()/kly-media-production/medias/1607481/original/000851700_1496032747-RAM.jpg)
Peningkatan harga memori NAND flash dan DRAM yang signifikan diproyeksikan akan mendorong kenaikan biaya produksi ponsel pintar dan komputer pribadi (PC) secara global sepanjang tahun 2026, berpotensi menekan margin produsen dan membebankan konsumen dengan harga jual yang lebih tinggi. Kenaikan harga komponen penting ini, yang merupakan tulang punggung penyimpanan data dan memori kerja perangkat digital modern, terjadi di tengah ekspektasi peningkatan permintaan global dan strategi pembatasan pasokan dari produsen chip.
Latar belakang masalah ini dapat ditelusuri ke siklus pasang surut industri semikonduktor yang khas, diperparah oleh tekanan makroekonomi dan perubahan lanskap geopolitik. Setelah periode kelebihan pasokan dan penurunan harga pada tahun 2023, pasar memori mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan pada akhir tahun 2024, didorong oleh peningkatan permintaan dari segmen server dan kecerdasan buatan (AI) serta pemulihan pasar PC dan ponsel. Perusahaan riset pasar seperti TrendForce telah secara konsisten melaporkan proyeksi kenaikan harga NAND dan DRAM kuartal-ke-kuartal yang berlanjut hingga tahun 2025 dan diperkirakan akan berlanjut ke 2026, dengan kenaikan dua digit dalam beberapa periode.
Ketegangan geopolitik dan perlombaan teknologi antarnegara juga memainkan peran krusial. Investasi besar-besaran dalam kapasitas produksi chip baru, meskipun bertujuan untuk diversifikasi dan keamanan pasokan, seringkali membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk terealisasi sepenuhnya. Sementara itu, ketergantungan pada beberapa pemain utama di pasar memori, seperti Samsung Electronics, SK Hynix, dan Micron Technology, meninggalkan pasar rentan terhadap fluktuasi pasokan dan keputusan strategis mereka. Para raksasa industri ini telah menunjukkan kecenderungan untuk menyesuaikan tingkat produksi demi menjaga harga dan profitabilitas, sebuah praktik yang dapat mempercepat kenaikan harga di tengah permintaan yang pulih. Misalnya, keputusan untuk mengurangi tingkat utilisasi pabrik chip telah menjadi faktor kunci dalam menyeimbangkan kembali penawaran dan permintaan di pasar DRAM dan NAND.
Implikasi jangka panjang dari kenaikan harga komponen ini bersifat multifaset. Bagi konsumen, ini berarti potensi kenaikan harga untuk gawai baru, dari ponsel pintar kelas menengah hingga laptop premium, yang bisa membatasi daya beli atau mendorong pergeseran ke model yang lebih murah dengan spesifikasi lebih rendah. Produsen perangkat elektronik, di sisi lain, akan menghadapi tekanan untuk menyerap biaya tambahan tersebut atau meneruskannya kepada pembeli. Hal ini dapat mengurangi margin keuntungan, menghambat inovasi di segmen tertentu, dan bahkan memicu konsolidasi di antara pemain yang lebih kecil. Sebuah analisis oleh IDC menunjukkan bahwa kenaikan harga komponen memori secara historis memiliki korelasi langsung dengan kenaikan harga jual rata-rata (ASP) perangkat keras konsumen.
Selain itu, tekanan pada rantai pasokan global akan semakin nyata. Perusahaan-perusahaan akan berupaya mengamankan pasokan memori dengan kontrak jangka panjang, tetapi ini bisa membuat harga spot melonjak lebih tinggi lagi bagi mereka yang tidak memiliki leverage negosiasi yang kuat. Ketidakpastian harga dapat menghambat perencanaan produksi dan peluncuran produk baru, memperlambat siklus inovasi di industri teknologi. Para ahli memperingatkan bahwa tanpa strategi yang komprehensif untuk meningkatkan kapasitas produksi dan diversifikasi rantai pasokan di luar pemain dominan, volatilitas harga memori akan tetap menjadi tantangan struktural bagi industri elektronik global di tahun-tahun mendatang.