:strip_icc()/kly-media-production/medias/5412907/original/006280700_1763108886-Galaxy_Z_Flip_7.png)
Samsung Electronics dikabarkan akan mempertahankan harga seri Galaxy S26, Galaxy Z Flip 8, dan Galaxy Z Fold 8 pada tingkat yang sama dengan pendahulunya, sebuah langkah strategis untuk mempertahankan pangsa pasar di tengah tekanan biaya komponen yang meningkat dan persaingan ketat. Keputusan ini, yang sebagian besar ditujukan untuk pasar Amerika Serikat, akan membuat model dasar Galaxy S26 dibanderol mulai dari $799, Galaxy S26+ di $999, dan Galaxy S26 Ultra seharga $1.299. Sementara itu, model lipat Galaxy Z Fold 8 diperkirakan akan tetap seharga $1.999 dan Galaxy Z Flip 8 di $1.099. Konfirmasi resmi mengenai harga dan spesifikasi akan diumumkan pada acara Galaxy Unpacked di San Francisco pada 25 Februari 2026.
Langkah Samsung ini menandai tahun keempat berturut-turut perusahaan menahan kenaikan harga untuk seri Galaxy S unggulannya. Untuk perangkat lipat, ini merupakan kelanjutan dari strategi penetapan harga yang stabil seperti Galaxy Z Fold 7 dan Galaxy Z Flip 7. Strategi ini muncul di tengah laporan yang menunjukkan bahwa Apple juga tidak menaikkan harga iPhone 17, sehingga memberikan tekanan kompetitif pada Samsung untuk melakukan hal yang sama. Analis industri menilai, keputusan ini juga merupakan upaya Samsung untuk membendung potensi migrasi pelanggan, terutama dengan rumor yang beredar mengenai peluncuran iPhone lipat pertama Apple yang sangat diantisipasi pada tahun ini. Dengan mempertahankan harga, Samsung berupaya meningkatkan adopsi di segmen perangkat lipat yang masih dianggap niche. Perusahaan dilaporkan mengambil pendekatan "volume tinggi, keuntungan relatif rendah" untuk melindungi pangsa pasarnya.
Namun, kebijakan penahanan harga ini tidak terlepas dari tantangan signifikan. Industri smartphone global menghadapi lonjakan biaya komponen yang substansial. Harga chip memori, khususnya DRAM, diperkirakan akan melonjak hingga 40% hingga kuartal kedua 2026, didorong oleh permintaan besar dari pusat data kecerdasan buatan (AI). Biaya bahan baku (Bill of Materials/BoM) untuk smartphone diperkirakan akan meningkat antara 8% hingga lebih dari 15% di atas level yang sudah tinggi saat ini. Selain itu, biaya chip secara keseluruhan telah naik 12% dan modul kamera 8% selama setahun terakhir, sementara panel layar OLED juga menjadi lebih mahal. Kenaikan biaya ini diperparah oleh tekanan inflasi, biaya tenaga kerja, dan pengeluaran pemasaran yang meningkat di tengah persaingan pasar yang intens.
Meskipun Samsung sendiri adalah produsen chip memori utama yang diuntungkan dari kenaikan harga ini, perusahaan juga harus menghadapi biaya internal yang lebih tinggi untuk produksi perangkatnya. Untuk mengkompensasi margin keuntungan yang mungkin tertekan 10-15% akibat penahanan harga flagship, Samsung kemungkinan akan mengandalkan margin tinggi dari bisnis DRAM dan NAND-nya. Beberapa laporan mengindikasikan bahwa upaya untuk menjaga harga tetap stabil ini bisa berujung pada "stagnasi perangkat keras" atau "tidak ada peningkatan perangkat keras yang signifikan" di beberapa aspek. Meskipun demikian, bocoran terbaru masih menyebutkan peningkatan kinerja berkat chipset Exynos 2600 atau Snapdragon 8 Gen 5, pemrosesan kamera yang lebih baik, kapasitas baterai yang lebih besar, dan desain yang lebih ringan untuk perangkat lipat. Penting untuk dicatat bahwa kebijakan penahanan harga ini kemungkinan besar berlaku terutama untuk pasar AS, dengan potensi kenaikan harga di wilayah lain seperti Korea Selatan karena fluktuasi nilai mata uang.
Secara keseluruhan, pasar smartphone global diperkirakan akan menyusut sekitar 2,1% pada tahun 2026 karena kenaikan biaya komponen berdampak pada permintaan konsumen. Namun, segmen premium terus tumbuh, menyumbang lebih dari 60% dari total pendapatan smartphone global, menunjukkan bahwa konsumen bersedia membayar lebih untuk perangkat yang kaya fitur dan berteknologi canggih. Fitur kecerdasan buatan (AI) telah menjadi ekspektasi standar dan daya tarik utama bagi pembeli. Dalam konteks ini, Samsung, dengan skala dan integrasi vertikalnya, dinilai sebagai salah satu produsen yang paling siap menghadapi periode kenaikan biaya komponen ini. Keputusan Samsung untuk menahan harga di tengah tekanan inflasi dan biaya komponen yang melonjak mencerminkan upaya strategis untuk menyeimbangkan profitabilitas dengan mempertahankan daya saing pasar dan mempertahankan loyalitas konsumen dalam ekosistemnya.