Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Telkom Genjot Pemulihan BTS: 90% Sumut-Sumbar Tuntas, Aceh Prioritas Utama

2026-01-01 | 23:47 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-01T16:47:19Z
Ruang Iklan

Telkom Genjot Pemulihan BTS: 90% Sumut-Sumbar Tuntas, Aceh Prioritas Utama

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) mengumumkan bahwa 90 persen Base Transceiver Station (BTS) milik TelkomGroup di Sumatera Utara dan Sumatera Barat telah kembali aktif beroperasi menyusul bencana banjir dan tanah longsor yang melanda wilayah tersebut pada akhir November 2025. Fokus utama pemulihan jaringan telekomunikasi kini beralih ke Aceh, di mana upaya percepatan terus dikebut setelah sebagian besar wilayah di provinsi tersebut menunjukkan kemajuan signifikan dalam pemulihan.

Bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi pada 25-27 November 2025 di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sempat menyebabkan gangguan serius pada infrastruktur telekomunikasi. TelkomGroup, melalui anak perusahaannya seperti Telkomsel, mengerahkan seluruh sumber daya untuk memulihkan konektivitas vital bagi masyarakat. Hingga pertengahan Desember 2025, kantor Sentral Telepon Otomat (STO) Telkom di ketiga provinsi telah berhasil diaktifkan kembali.

Nanang Hendarno, Direktur Network Telkom, menjelaskan bahwa kerusakan BTS terparah terjadi di Aceh, sehingga TelkomGroup memusatkan seluruh sumber daya untuk mempercepat pemulihan di sana. Pada pertengahan Desember 2025, tingkat pemulihan BTS di Aceh tercatat mencapai sekitar 50 persen, dengan target peningkatan cakupan hingga 75 persen di setiap kota dalam waktu singkat. Perkembangan terkini menunjukkan Telkomsel, sebagai bagian dari TelkomGroup, telah berhasil memulihkan lebih dari 90 persen jaringannya di Provinsi Aceh pada akhir Desember 2025, bahkan mencapai 94 persen situs yang beroperasi dan mencakup hampir 100 persen kecamatan. Meskipun demikian, sekitar 6 persen situs masih terkendala, terutama di wilayah Aceh Utara, Gayo Lues, Aceh Tengah, Aceh Timur, Bener Meriah, Bireuen, dan Aceh Tenggara.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamen Komdigi) Nezar Patria, saat meninjau langsung Sentral Telepon Otomat (STO) Kuala Simpang di Aceh Tamiang pada 24 Desember 2025, mengapresiasi kecepatan TelkomGroup dalam memulihkan jaringan telekomunikasi pascabencana. Ia menekankan pentingnya layanan komunikasi yang stabil, terutama di fasilitas vital seperti Rumah Sakit Umum Daerah Aceh Tamiang, yang menjadi tulang punggung koordinasi layanan medis dan keselamatan masyarakat. Nezar Patria menyatakan bahwa pemulihan jaringan di Aceh Tamiang telah melampaui 80 persen dan ditargetkan mencapai 90 persen pada 27 Desember 2025.

Tantangan utama dalam proses pemulihan adalah keterbatasan pasokan listrik di sejumlah wilayah terdampak. Untuk mengatasi hal ini, TelkomGroup telah menyiagakan ratusan unit genset dan menyalurkan perangkat komunikasi berbasis satelit seperti Mangostar dan Starlink ke posko-posko bencana dan daerah terisolasi sebagai sumber energi dan konektivitas sementara. Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kemkomdigi, Fifi Aleyda Yahya, pada 22 Desember 2025, juga mengemukakan bahwa tingkat pemulihan jaringan di Sumatera secara keseluruhan telah melampaui 80 persen, dengan Sumatera Barat mencapai hampir 99 persen, Sumatera Utara 97 persen, dan Aceh sekitar 80 persen.

Pemulihan jaringan telekomunikasi pascabencana memiliki implikasi jangka panjang yang mendalam. Konektivitas yang kembali normal menjadi fondasi penting bagi kebangkitan aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat. Dengan layanan komunikasi yang stabil, aktivitas pasar mulai bergerak, interaksi sosial kembali terjalin, dan roda perekonomian perlahan berputar, membangkitkan semangat warga untuk kembali menjalani kehidupan sehari-hari. TelkomGroup juga turut menyalurkan bantuan sosial berupa kebutuhan pokok, perangkat komunikasi, serta menyediakan akses WiFi gratis di kantor Witel dan STO sebagai bentuk kepedulian. Komitmen ini tidak hanya berfokus pada infrastruktur teknis, tetapi juga pada dukungan holistik untuk masyarakat terdampak, memastikan bahwa konektivitas menjadi katalisator bagi rehabilitasi dan rekonstruksi jangka panjang di wilayah tersebut.