Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Telkom Menggebrak RUPSLB: Pisahkan Aset Fiber, Rombak Jajaran Direksi

2026-01-05 | 07:18 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-05T00:18:01Z
Ruang Iklan

Telkom Menggebrak RUPSLB: Pisahkan Aset Fiber, Rombak Jajaran Direksi

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 12 Desember 2025 di Jakarta, menyetujui pemisahan sebagian bisnis dan aset konektivitas serat optik grosir (wholesale fiber connectivity) serta merombak jajaran komisaris dan direksi perusahaan. Keputusan ini menandai langkah krusial dalam strategi transformasi jangka panjang Telkom untuk memperkuat fondasi bisnis dan membuka nilai aset infrastruktur digital.

Dalam RUPSLB tersebut, pemegang saham menyetujui pemisahan sebagian bisnis dan aset wholesale fiber connectivity tahap pertama ke PT Telkom Infrastruktur Indonesia (InfraNexia), sebuah anak perusahaan yang 99,99% sahamnya dimiliki langsung oleh Telkom. Langkah ini merupakan bagian dari rencana yang lebih besar untuk mengalihkan seluruh bisnis dan aset wholesale fiber connectivity, dengan nilai total aset sekitar Rp 90 triliun, yang ditargetkan rampung sepenuhnya pada pertengahan tahun 2026. Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, menyatakan bahwa persetujuan ini memperkuat agenda transformasi perseroan dalam membangun struktur usaha yang lebih fokus dan tangkas.

Di sisi lain, RUPSLB juga mengesahkan perubahan pada struktur kepemimpinan. Pemegang saham menyetujui pengangkatan Budi Satria Dharma Purba sebagai Direktur Wholesale & International Service, menggantikan Honesti Basyir. Selain itu, Rofikoh Rokhim diangkat sebagai Komisaris Independen, mengisi posisi yang sebelumnya ditinggalkan oleh Yohanes Surya. Perubahan susunan pengurus ini, menurut SVP Group Sustainability & Corporate Communication Telkom, Ahmad Reza, diharapkan mempercepat langkah transformasi dan memperkuat kontribusi Telkom bagi bangsa.

Pemisahan aset fiber optik ke InfraNexia adalah strategi Telkom untuk memperjelas struktur bisnis dan membuka peluang peningkatan nilai aset infrastruktur digital. Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Telkom, Arthur Angelo Syailendra, menjelaskan bahwa InfraNexia saat ini berfungsi sebagai operator layanan terkelola dan diharapkan akan beralih menjadi pemilik aset penuh sebelum semester pertama tahun depan. Pada fase pertama, InfraNexia akan mengelola lebih dari 50% total aset infrastruktur jaringan serat optik Telkom, mencakup segmen akses, agregasi, backbone, serta infrastruktur pendukung lainnya, dengan nilai transaksi mencapai Rp 35,8 triliun. Perusahaan menargetkan peningkatan pangsa pasar di segmen wholesale fiber connectivity menjadi di atas 25% dari posisi saat ini sekitar 16% setelah pengalihan aset.

Anggota Komisi VI DPR, Achmad, mengapresiasi inisiatif korporasi ini sebagai langkah strategis yang progresif dan selaras dengan tren industri telekomunikasi global yang memisahkan bisnis infrastruktur (infraco) dari layanan ritel (serviceco). Menurutnya, penataan ini krusial untuk mengoptimalkan aset besar yang dimiliki Telkom, tidak hanya untuk keuntungan perusahaan tetapi juga untuk kontribusi kepada negara. InfraNexia diproyeksikan menjadi mesin pertumbuhan baru yang mendorong peningkatan efisiensi operasional, kualitas layanan, dan penciptaan nilai jangka panjang bagi pemangku kepentingan. Entitas ini berkomitmen untuk beroperasi secara netral, menyediakan layanan wholesale fiber connectivity baik bagi entitas TelkomGroup maupun pelanggan eksternal, sehingga diharapkan menciptakan ekosistem telekomunikasi yang lebih sehat, efisien, dan kompetitif.

Dalam sembilan bulan pertama tahun 2025, Telkom mencatatkan pendapatan konsolidasi sebesar Rp 109,6 triliun, dengan EBITDA konsolidasi mencapai Rp 54,4 triliun dan margin EBITDA 49,6%. Laba bersih perusahaan mencapai Rp 15,8 triliun dengan margin laba bersih 14,4%. Transformasi TLKM 30, yang mencakup spin-off ini, bertujuan untuk memperkuat fondasi bisnis dengan bertransformasi menjadi strategic holding yang lebih ramping dan efisien, berorientasi pada keunggulan layanan di setiap lini organisasi. Langkah ini juga diharapkan membuka ruang kolaborasi yang lebih luas, sehingga manfaat konektivitas berkualitas dapat dirasakan secara merata oleh berbagai sektor di Indonesia.