Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Telkom Rampungkan Divestasi Fiber Rp 90 T, InfraNexia Amankan Jaringan Raksasa

2026-01-02 | 11:35 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-02T04:35:45Z
Ruang Iklan

Telkom Rampungkan Divestasi Fiber Rp 90 T, InfraNexia Amankan Jaringan Raksasa

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) secara resmi melepaskan bisnis dan aset Wholesale Fiber Connectivity-nya kepada PT Telkom Infrastruktur Indonesia (TIF), yang kini dikenal sebagai InfraNexia, dalam sebuah langkah strategis korporasi senilai total hingga Rp90 triliun. Penandatanganan akta pemisahan ini berlangsung di The Telkom Hub, Jakarta, pada Kamis, 18 Desember 2025, menandai tahap pertama dari divestasi yang telah dimulai sejak pendirian TIF pada akhir 2023.

Langkah korporasi ini menempatkan InfraNexia sebagai entitas yang mengelola aset fiber optik senilai sekitar Rp35 triliun pada fase pertama, dengan target keseluruhan mencapai Rp90 triliun setelah seluruh proses spin-off rampung pada paruh kedua tahun 2026. Telkom akan mempertahankan kepemilikan saham sebesar 99,99% di InfraNexia pasca-divestasi. Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom, Seno Soemadji, menjelaskan bahwa pemisahan ini merupakan tonggak penting yang selaras dengan upaya pemerintah dalam percepatan digitalisasi nasional, melalui efisiensi pemanfaatan aset dan belanja modal (capex) untuk memaksimalkan nilai serta monetisasi aset yang dimiliki perusahaan.

Secara historis, Telkom telah membangun jaringan fiber optik yang membentang luas di seluruh Indonesia. Namun, seiring dengan dinamika industri telekomunikasi global yang bergerak menuju model berbagi infrastruktur (network sharing) untuk efisiensi, keputusan Telkom untuk memisahkan bisnis infrastruktur ini mencerminkan adaptasi terhadap praktik terbaik global. Beberapa operator telekomunikasi internasional, seperti Telstra di Australia, Telecom Italia, dan Telefonica di Spanyol, telah sukses menerapkan model serupa untuk meningkatkan efisiensi operasional dan valuasi. Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, menegaskan bahwa aksi ini adalah bagian dari strategi jangka menengah Telkom yang disebut "TLKM 30", sebuah peta transformasi perusahaan menuju tahun 2030 yang berfokus pada penguatan daya saing melalui keunggulan perusahaan dan layanan, optimalisasi aset strategis, serta penguatan portofolio bisnis yang berkelanjutan.

Implikasi dari divestasi ini bersifat multifaset. Bagi Telkom, pelepasan aset infrastruktur ini memungkinkan perusahaan untuk lebih fokus pada bisnis layanan digital, platform, dan konten berbasis pelanggan, seperti IndiHome dan Telkomsel, sekaligus meningkatkan efisiensi operasional dan investasi. InfraNexia, sebagai entitas independen yang akan beroperasi secara netral, berkomitmen menyediakan layanan konektivitas fiber grosir kepada pihak internal TelkomGroup maupun operator telekomunikasi lain. Hal ini membuka peluang kolaborasi yang lebih luas, menciptakan ekosistem telekomunikasi yang lebih sehat, efisien, dan kompetitif. Direktur Utama InfraNexia, I Ketut Budi Utama, menyatakan bahwa InfraNexia akan menjadi tulang punggung konektivitas digital Indonesia dan akan fokus pada pengembangan bisnis fiber serta meningkatkan efisiensi biaya operasional dan investasi.

Divestasi ini juga diharapkan mendongkrak pangsa pasar Telkom di segmen wholesale fiber connectivity hingga di atas 25%, dari sebelumnya sekitar 16%. Peningkatan pangsa pasar ini berpotensi mengoptimalkan nilai aset infrastruktur yang selama ini belum tergarap maksimal, mengingat kapasitas fiber grosir Telkom saat ini hanya sekitar 40% yang dimanfaatkan, sebagian besar oleh Telkomsel. Analis industri menilai langkah ini dapat menarik minat investor institusional, baik dari dalam maupun luar negeri, yang mencari aset infrastruktur digital jangka panjang. Bahkan, opsi untuk melakukan Penawaran Umum Perdana (IPO) InfraNexia di masa depan masih terbuka, seperti yang disampaikan oleh Dian Siswarini.

Pada skala nasional, total pembangunan jaringan fiber optik di Indonesia telah mencapai 460.000 kilometer, dengan penetrasi fiber optik di sekitar 60,84% dari seluruh kecamatan per awal tahun 2024. Meskipun demikian, penetrasi sambungan jaringan tetap telekomunikasi baru mencapai sekitar 30% dari total kabupaten/kota di Indonesia, menunjukkan potensi pasar yang masih besar. Konsolidasi aset fiber optik yang juga diikuti oleh pemain lain seperti Indosat Ooredoo Hutchison dengan pembentukan FiberCo, menandai fase pendewasaan industri telekomunikasi Indonesia yang berupaya mengatasi tingginya belanja modal dan memperluas jangkauan layanan. Keberhasilan konsolidasi ini akan sangat bergantung pada kebijakan pemerintah dalam menata infrastruktur digital sebagai kepentingan publik jangka panjang, bukan sekadar arena kompetisi korporasi.