Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Telkomsel Akselerasi Pemulihan Jaringan di Aceh, Konektivitas Andal Terjamin

2026-01-10 | 09:58 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-10T02:58:18Z
Ruang Iklan

Telkomsel Akselerasi Pemulihan Jaringan di Aceh, Konektivitas Andal Terjamin

Telkomsel telah memulihkan 99 persen jaringan telekomunikasi di seluruh Provinsi Aceh pasca-bencana banjir yang melanda wilayah tersebut, memastikan konektivitas krusial bagi masyarakat di tengah masa pemulihan. Progres signifikan ini, yang dilaporkan pada 8 Januari 2026, menyoroti respons cepat perusahaan telekomunikasi tersebut terhadap tantangan infrastruktur yang diakibatkan oleh bencana alam. Nugroho A. Wibowo, Vice President Area Network Operations Sumatera Telkomsel, menyatakan komitmen berkelanjutan perusahaan dalam menjaga kualitas layanan jaringan agar tetap andal.

Pemulihan ini dilakukan secara bertahap dan terukur, mengerahkan berbagai sumber daya pendukung. Sebanyak lima unit Compact Mobile BTS (Combat) telah dikerahkan untuk memperkuat cakupan jaringan di lokasi terdampak, termasuk area hunian sementara. Selain itu, 316 unit genset berfungsi sebagai sumber listrik cadangan, mengingat pasokan catu daya di beberapa wilayah masih belum sepenuhnya stabil, terutama di 67 BTS yang masih mengandalkan genset di Aceh per 5 Januari 2026. Peningkatan kapasitas jaringan juga menjadi fokus untuk menjaga kualitas layanan seiring meningkatnya kebutuhan komunikasi masyarakat pasca-bencana. Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, pada 5 Januari 2026, mengonfirmasi bahwa pemulihan infrastruktur Base Transceiver Station (BTS) di Aceh secara keseluruhan telah mencapai 95 persen untuk seluruh operator, dengan Telkomsel sendiri mencatat 95,92 persen pemulihan BTS.

Sejak akhir Desember 2025, Telkomsel telah menunjukkan kemajuan substansial. Pada 27 Desember 2025, seluruh 289 kecamatan di Provinsi Aceh dinyatakan kembali terkoneksi, termasuk Kecamatan Syiah Utama di Kabupaten Bener Meriah yang sebelumnya menghadapi kendala akses dan keterbatasan infrastruktur. Nugroho A. Wibowo menekankan bahwa tuntasnya pemulihan jaringan di seluruh kecamatan Aceh adalah hasil kerja keras dan kolaborasi intensif tim Telkomsel di lapangan, menegaskan bahwa tidak ada wilayah yang tertinggal dalam akses komunikasi. Meskipun demikian, tantangan tetap ada, terutama terkait pasokan listrik dan akses di beberapa titik yang memerlukan penanganan lanjutan seperti di Bener Meriah, Takengon, dan Aceh Tamiang.

Konektivitas telekomunikasi di Aceh, sebuah provinsi yang rentan terhadap bencana alam seperti gempa bumi dan banjir, bukan sekadar layanan komersial, melainkan urat nadi vital bagi kehidupan sosial dan ekonomi. Interkonektivitas yang stabil terbukti memiliki dampak positif yang signifikan terhadap perekonomian daerah, mendorong pertumbuhan sektor pariwisata, meningkatkan investasi, dan memfasilitasi perdagangan yang lebih lancar. Setelah bencana, akses komunikasi menjadi krusial untuk koordinasi bantuan darurat, penyebaran informasi penting, dan memungkinkan masyarakat untuk tetap terhubung dengan keluarga. Pemerintah Aceh sendiri memprioritaskan pembangunan konektivitas di wilayah dataran tinggi guna mempercepat pemulihan pasca-bencana, mengakui bahwa pembukaan akses jalan dan jaringan komunikasi adalah "urat nadi" bagi ekonomi masyarakat.

Namun, upaya pemulihan dan pemeliharaan jaringan juga tidak luput dari sorotan. Pada 2 Desember 2025, Koordinator Gerakan Pemuda Negeri Pala (GerPALA), Fadhli Irman, mendesak Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk mengaudit layanan Telkomsel di Aceh Selatan, menyusul gangguan jaringan yang berulang tanpa penjelasan transparan. Irman menyoroti bahwa layanan telekomunikasi adalah hak dasar masyarakat, bukan fasilitas tambahan, dan meminta kepastian bahwa setiap menara telekomunikasi memiliki sistem cadangan daya yang memadai. Kritik ini menggarisbawahi pentingnya tidak hanya pemulihan pasca-bencana, tetapi juga ketahanan infrastruktur yang proaktif dan transparansi dalam pengelolaan layanan. Telkomsel, melalui kolaborasi dengan Telkom Group dan Danantara, menyatakan komitmen untuk terus melanjutkan dukungan pemulihan pasca-bencana dengan memperluas penguatan fasilitas dan menghadirkan konektivitas yang andal, sebagai bagian dari prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).

Melihat ke depan, dengan Aceh yang terus menghadapi potensi bencana hidrometeorologi, langkah-langkah Telkomsel dalam memperkuat infrastruktur jaringan dan memastikan ketersediaan daya cadangan menjadi sangat penting. Inisiatif penyediaan Combat dan genset, meskipun vital dalam fase darurat, juga menimbulkan pertanyaan tentang solusi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada sumber daya sementara dan mencapai stabilitas jaringan yang berkelanjutan, terutama di daerah-daerah terpencil dengan tantangan geografis dan pasokan listrik yang tidak stabil. Konsistensi dalam investasi infrastruktur telekomunikasi yang tangguh akan menjadi penentu utama dalam menjaga konektivitas masyarakat Aceh di masa depan.