
Telkomsel mengerahkan 45 ton bahan bakar minyak (BBM) untuk menopang keandalan jaringan telekomunikasi di sejumlah wilayah Sumatera yang masih dalam proses pemulihan pascabencana, guna memastikan layanan komunikasi tetap optimal di tengah ketidakstabilan pasokan listrik utama. Langkah strategis ini, yang diumumkan pada Jumat, 9 Januari 2026, krusial untuk menjaga operasional Base Transceiver Station (BTS) melalui genset dan sistem catu daya sementara di area terdampak. Vice President Area Network Operations Sumatera Telkomsel, Nugroho Adi Wibowo, menekankan bahwa konektivitas merupakan kebutuhan esensial bagi masyarakat dalam situasi darurat, yang vital tidak hanya untuk berkomunikasi dengan keluarga, tetapi juga untuk memperoleh informasi penting, mendukung koordinasi lapangan, dan menunjang berbagai aktivitas pemulihan pascabencana.
Pemulihan infrastruktur telekomunikasi ini menyusul gangguan signifikan yang melanda ribuan situs pemancar dan BTS Telkomsel di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat akibat bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan tanah longsor, yang juga menyebabkan pemadaman listrik meluas pada akhir tahun 2025. Gangguan tersebut mengakibatkan terputusnya kabel serat optik dan robohnya menara Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET), yang secara langsung memengaruhi layanan telekomunikasi. Misalnya, di Aceh, lebih dari 1.430 situs dan 2.400 BTS Telkomsel terdampak parah, sementara di Sumatera Utara sekitar 1.100 situs dan 1.900 BTS mengalami gangguan, serta di Sumatera Barat lebih dari 190 situs dan 360 BTS terpengaruh.
Distribusi 45 ton BBM dilakukan secara bertahap ke BTS prioritas di seluruh Area Sumatera, dengan mempertimbangkan kondisi akses lapangan, kebutuhan riil, dan tingkat urgensi layanan di setiap wilayah terdampak. Upaya ini merupakan bagian integral dari serangkaian langkah pemulihan yang lebih luas, termasuk pengoperasian perangkat Combat (mobile BTS), penguatan kapasitas jaringan, serta koordinasi intensif dengan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan terkait. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) melaporkan pada Desember 2025 bahwa tingkat pemulihan jaringan telekomunikasi di Sumatera telah melampaui 80 persen, dengan Sumatera Barat mencapai 99 persen dan Sumatera Utara 97 persen, sementara Aceh masih sekitar 80 persen. TelkomGroup, induk Telkomsel, pada awal Januari 2026 menyatakan seluruh layanan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat telah beroperasi stabil dengan tingkat ketersediaan 99,9%, menandai selesainya fase pemulihan infrastruktur dan dimulainya fase penguatan layanan berkelanjutan.
Ketergantungan infrastruktur telekomunikasi pada pasokan listrik menjadi isu krusial dalam menghadapi frekuensi bencana alam dan gangguan kelistrikan di masa depan. Pengamanan pasokan energi cadangan seperti BBM, bersama dengan solusi jangka panjang seperti diversifikasi sumber energi dan peningkatan ketahanan jaringan, menjadi prasyarat untuk meminimalisir dampak disrupsi. Kolaborasi erat antara penyedia layanan telekomunikasi, pemerintah, dan PLN menjadi fondasi utama dalam mempercepat pemulihan dan memastikan kelangsungan konektivitas yang andal bagi masyarakat di wilayah rawan bencana.