
Telkomsel berhasil menuntaskan pemulihan 1.964 titik Base Transceiver Station (BTS) di seluruh Provinsi Aceh pada Minggu, 11 Januari 2026, menyusul serangkaian bencana banjir yang melanda wilayah tersebut sejak akhir November 2025. Upaya pemulihan jaringan telekomunikasi krusial ini terlaksana berkat kolaborasi intensif dengan Satuan Tugas (Satgas) Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI dan Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi) melalui program GALAPANA, bertujuan memastikan konektivitas tetap andal untuk mendukung aktivitas masyarakat dan koordinasi penanganan pascabencana.
Wakil Presiden Area Network Operations Sumatera Telkomsel, Nugroho A. Wibowo, menegaskan bahwa seluruh BTS Telkomsel di Aceh telah berhasil dipulihkan secara 100 persen. Fokus utama Telkomsel saat ini adalah menjaga dan meningkatkan kestabilan layanan, mengingat tingkat kestabilan jaringan saat ini mendekati 90 persen dan masih sangat bergantung pada stabilitas pasokan listrik di masing-masing wilayah terdampak. Tantangan utama pascabencana bukan lagi pada infrastruktur fisik BTS yang rusak parah, melainkan pada fluktuasi pasokan listrik yang menghambat operasional optimal menara pemancar. Untuk mengatasi kendala ini, Telkomsel telah mengoperasikan lima unit Compact Mobile BTS (Combat) guna memperkuat cakupan jaringan di lokasi terdampak dan hunian sementara, serta menyiagakan 316 unit genset sebagai sumber listrik cadangan.
Banjir besar yang melanda Aceh, bersamaan dengan Sumatera Utara dan Sumatera Barat pada akhir November 2025, secara signifikan mengganggu pasokan listrik dan infrastruktur telekomunikasi. Pada awal Desember 2025, Kemenkomdigi melaporkan bahwa hanya sekitar 40 persen dari total BTS di Aceh yang beroperasi, dengan 2.287 dari 3.414 BTS mengalami gangguan. Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid pada tanggal 6 Januari 2026 sempat menyatakan bahwa pemulihan infrastruktur konektivitas BTS di Aceh telah mencapai 95 persen untuk seluruh operator. Telkomsel sendiri pada saat itu melaporkan pemulihan 95,92 persen BTS di Aceh. Percepatan signifikan dalam beberapa hari terakhir menandai penuntasan pemulihan hingga hampir seluruhnya.
Kolaborasi antara Telkomsel, Satgas DPR RI, dan Kemenkomdigi mencerminkan pentingnya sinergi multi-pihak dalam manajemen krisis dan pemulihan infrastruktur vital. Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad memimpin rapat penanganan bencana di Banda Aceh, menekankan perlunya koordinasi terpadu. Keterlibatan Telkomsel dalam upaya pemulihan bencana berskala besar ini mencakup tiga fokus utama: pemulihan jaringan telekomunikasi, digitalisasi data terpadu terkait bencana, serta dukungan logistik dan tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Ketiga aspek tersebut dijalankan secara terintegrasi untuk memperkuat koordinasi penanganan bersama Satgas DPR RI dan Kementerian.
Meskipun infrastruktur fisik telah pulih, ketergantungan pada pasokan listrik yang tidak stabil menimbulkan implikasi jangka panjang terhadap kualitas layanan dan ketahanan jaringan di daerah rawan bencana. Area seperti Aceh Payung di Aceh Tamiang, yang memiliki kontur tanah basah dan medan berlumpur, menjadi saksi bisu perjuangan tim teknisi dalam menghidupkan kembali jaringan, menyoroti kerentanan infrastruktur di daerah terpencil terhadap gangguan lingkungan. Situasi ini menggarisbawahi kebutuhan mendesak untuk mengembangkan solusi pasokan energi yang lebih tangguh dan berkelanjutan bagi BTS, seperti energi terbarukan, terutama di wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T) yang seringkali menjadi prioritas pembangunan infrastruktur digital nasional. Pemulihan ini bukan sekadar perbaikan teknis, melainkan investasi strategis untuk memastikan masyarakat Aceh tetap terhubung, memfasilitasi pemulihan ekonomi lokal, dan memperkuat kesiapsiagaan digital dalam menghadapi potensi bencana di masa mendatang.