
Telkomsel secara agresif memperkuat ekosistem digital nasional sebagai pendorong utama kemandirian ekonomi Indonesia, mengintegrasikan infrastruktur telekomunikasi canggih dengan inovasi layanan digital untuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta talenta digital muda. Langkah ini sejalan dengan target pemerintah untuk meningkatkan kontribusi ekonomi digital terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dari 8% saat ini menjadi 20% pada tahun 2045.
Direktur Utama Telkomsel, Nugroho, menegaskan bahwa pengembangan ekonomi digital membutuhkan fondasi ekosistem yang kuat, ditopang oleh pemanfaatan teknologi sebagai tulang punggung. Pernyataan ini disampaikan dalam Trilogi Pitching Festival di Jakarta pada Kamis (8/1). Studi komprehensif oleh Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI) yang dirilis pada Mei 2024 menunjukkan kontribusi penetrasi internet Telkomsel mencapai 1,6% terhadap PDB Indonesia pada tahun 2023. Studi tersebut juga mengungkapkan bahwa peningkatan payload Telkomsel sebesar 100 TB di suatu kabupaten/kota mampu meningkatkan rata-rata PDRB per kapita di wilayah tersebut sebesar Rp1,7 miliar, sementara setiap penambahan 1.000 pengguna Telkomsel dapat meningkatkan PDRB per kapita hingga Rp8,6 miliar.
Sejarah inisiatif Telkomsel dalam membangun ekosistem digital telah berlangsung selama bertahun-tahun, bergerak dari sekadar penyedia konektivitas menuju perusahaan telekomunikasi digital holistik. Sejak tahun 2022, perusahaan telah melakukan peningkatan layanan jaringan 3G ke 4G/LTE di 504 kota/kabupaten di Indonesia, memastikan ketersediaan infrastruktur broadband yang merata. Hingga Desember 2024, Telkomsel mengoperasikan 271.040 unit Base Transceiver Station (BTS), termasuk 221.290 BTS 4G dan 975 BTS 5G, yang menunjukkan investasi berkelanjutan dalam kapasitas jaringan untuk memenuhi permintaan digital masa depan. Telkomsel menargetkan pembangunan 5.000 BTS 5G di 80 kota/kabupaten pada akhir 2025.
Telkomsel berupaya mempercepat transformasi UMKM melalui program Digital Creative Entrepreneurs (DCE) ke-4 bertema "Advancing Locals" yang diluncurkan pada Desember 2024. Program ini bertujuan meningkatkan keterampilan digital dan otomatisasi bisnis berbasis kecerdasan buatan (AI) bagi UMKM di sektor Fashion, F&B, Personal Care, dan Craft. Sejak 2021, program DCE telah melibatkan 4.608 UMKM di Indonesia dan mendukung 650 alumni, menghasilkan 14 UMKM terbaik yang kini berdaya saing nasional dan global. VP Corporate Communications & Social Responsibility Telkomsel, Saki Hamsat Bramono, menyatakan bahwa pemanfaatan teknologi dan inovasi bisnis menjadi kunci bagi UMKM untuk beradaptasi dan tumbuh di ekosistem digital yang kompetitif. Data dari studi LD FEB UI menguatkan hal ini, menunjukkan bahwa pelaku usaha dengan kecepatan internet di atas 30 Mbps mencatat pendapatan bersih 15 kali lebih tinggi dibandingkan mereka dengan kecepatan di bawah 1,5 Mbps. Pelaku UMKM yang memanfaatkan internet Telkomsel juga mengalami peningkatan pendapatan usaha hingga 50% dan perluasan jangkauan pasar hingga dua kali lipat.
Selain UMKM, Telkomsel juga fokus pada pengembangan talenta dan inovasi digital. Program NextDev, yang mencakup talent scouting, akademi, dan summit, dirancang untuk melahirkan talenta digital unggul dan inovatif. Perusahaan juga telah meresmikan Lab AI di Bandung di bawah Program Hitakari, dengan rencana ekspansi ke berbagai wilayah Indonesia. Telkomsel juga memiliki PT Telkomsel Ekosistem Digital, anak perusahaan yang menjadi holding company untuk portofolio bisnis vertikal di sektor edu-tech, health-tech, dan gaming.
Nugroho menguraikan empat pilar utama pendorong ekonomi digital Indonesia: Infrastruktur & Manufaktur, Ekosistem Teknologi, Ledakan Aplikasi, dan Edukasi Ulang. Ia menekankan bahwa keempat pilar ini harus tumbuh secara beriringan untuk mencapai target kontribusi PDB 20% pada tahun 2045. Indonesia, yang saat ini mencatat pertumbuhan ekonomi digital 8%, masih tertinggal dari negara seperti Vietnam yang telah mencapai 16% kontribusi terhadap PDB. Hal ini menyoroti urgensi penguatan ekosistem digital secara menyeluruh, bukan hanya pada jumlah aplikasi atau pengguna internet. Telkomsel melalui inisiatif fixed mobile convergence (FMC) dengan mengintegrasikan layanan IndiHome dan Telkomsel One juga berhasil mendorong pertumbuhan bisnis digital. Dosen Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB, Agung Harsoyo, menilai pengembangan jaringan 4G dan 5G secara masif serta penguatan ekosistem layanan digital telah menjadi faktor penting dalam kinerja positif Telkomsel.
Meskipun tantangan masih ada, khususnya dalam penguatan infrastruktur dan manufaktur sebagai pilar pertama ekonomi digital, komitmen Telkomsel melalui investasi teknologi terkini seperti 5G, Artificial Intelligence (AI), dan Internet of Things (IoT), serta beragam platform dan aplikasi digital menunjukkan arah strategis yang jelas. Upaya ini mendukung misi Asta Cita dan visi Indonesia Emas 2030, memperluas akses digital, meningkatkan produktivitas, dan memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi berbasis inovasi, membuka peluang bagi pelaku industri kreatif untuk terhubung dengan pasar digital secara berkelanjutan.