
Operator telekomunikasi seluler Telkomsel, bersama dengan TelkomGroup, secara konsisten mengaktifkan mode siaga darurat sejak awal bencana di berbagai wilayah Indonesia, terutama merespons serangkaian banjir dan tanah longsor yang melanda Sumatera bagian utara pada akhir tahun 2025 hingga awal 2026. Langkah ini diambil untuk memastikan konektivitas tetap stabil dan menjadi tulang punggung vital bagi komunikasi masyarakat serta upaya penanggulangan bencana di lokasi-lokasi terdampak, seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Respons Telkomsel dalam mode siaga darurat melibatkan pengerahan tim teknis ke lapangan, meskipun menghadapi tantangan akses jalan terputus, medan berat, cuaca ekstrem, dan keterbatasan logistik. Tim tersebut bertugas memeriksa infrastruktur, melakukan perbaikan perangkat, serta mengoptimalkan jaringan agar layanan kembali stabil. Vice President Area Network Operation Sumatera Telkomsel, Nugroho Adi Wibowo, menegaskan bahwa konektivitas merupakan kebutuhan vital masyarakat, khususnya dalam situasi darurat. Hingga awal Januari 2026, TelkomGroup berhasil memulihkan seluruh layanan di wilayah terdampak di Sumatera dengan tingkat ketersediaan mencapai 99,9%. Di Aceh, misalnya, Telkomsel memastikan 289 kecamatan kembali terhubung dengan minimal satu site beroperasi di setiap kecamatan.
Dalam operasinya, Telkomsel mengandalkan sejumlah perangkat pendukung untuk menjaga keberlangsungan layanan. Lima unit Combat (Compact Mobile BTS) dikerahkan untuk memperkuat cakupan jaringan di lokasi terdampak dan hunian sementara (Huntara). Selain itu, 316 unit genset di Aceh dan pasokan 45 ton bahan bakar di seluruh Sumatera disiapkan untuk mendukung operasional site yang terdampak pemadaman listrik. Percepatan pemulihan juga didukung dengan pengalihan rute backbone dan jalur transmisi serta penggunaan perangkat alternatif. Sebagai wujud komitmen sosial, Telkomsel menyediakan "Paket Siaga Peduli Sumatera" bebas biaya berupa opsi paket data 3 GB atau 300 menit telepon plus 1.000 SMS ke semua operator selama 7 hari, serta penyediaan WiFi gratis di posko dan hunian sementara.
Tantangan dalam menjaga jaringan telekomunikasi di Indonesia saat bencana sangat kompleks. Kondisi geografis yang rentan terhadap bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor seringkali mengakibatkan padamnya pasokan listrik, rusaknya kabel serat optik, dan robohnya menara Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET). Misalnya, di Aceh, lebih dari 1.430 site dan 2.400 BTS Telkomsel mengalami gangguan signifikan, dengan 15 Sentral Telepon Otomat (STO) juga terdampak. Pemulihan di wilayah sulit bahkan membutuhkan penggunaan perahu karet untuk mencapai lokasi perbaikan dan perangkat satelit untuk komunikasi darurat. Konsultan Hukum dan Mediator PMN LBH Qadhi Malikul Adil, Bukhari, menyoroti pentingnya cadangan daya memadai pada BTS, idealnya mampu beroperasi minimal 4 hingga 8 jam setelah listrik utama terputus, sebuah aspek yang masih menjadi perhatian di beberapa area rawan bencana.
Secara historis, upaya antisipasi bencana telah menjadi bagian integral dari strategi Telkomsel. Sejak 2008, perusahaan telah melakukan desain ulang infrastruktur jaringan di daerah rawan bencana, seperti meninggikan posisi baterai catu daya di area banjir dan merancang infrastruktur elastis di daerah rawan gempa. Regulasi pemerintah, seperti Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi, mewajibkan penyelenggara telekomunikasi untuk memberikan prioritas pada informasi penting terkait bencana alam. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) juga telah menyepakati prosedur berbagi infrastruktur pasif, seperti tower sharing, access backhaul sharing, hingga genset sharing, antar operator saat bencana melanda untuk mempercepat pemulihan. Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, pada Desember 2025, menekankan bahwa ketahanan infrastruktur digital adalah "benteng pertahanan terakhir" ketika akses fisik terputus dan kolaborasi lintas sektor menjadi kunci menjaga konektivitas nasional.
Komitmen Telkomsel dan TelkomGroup melampaui pemulihan infrastruktur. Mereka juga fokus pada dukungan berkelanjutan bagi masyarakat terdampak, termasuk penyaluran bantuan sosial berupa logistik, perangkat komunikasi, hingga program penyediaan air bersih. Peran telekomunikasi yang stabil selama dan setelah bencana memiliki implikasi jangka panjang yang signifikan. Ini tidak hanya memungkinkan koordinasi yang lebih cepat bagi tim penyelamat dan penyaluran bantuan, tetapi juga memastikan masyarakat dapat tetap berkomunikasi dengan keluarga, mengakses informasi penting, dan mendukung proses pemulihan ekonomi serta sosial di wilayah terdampak. Ketahanan infrastruktur digital, sebagai bagian dari strategi nasional, terus diperkuat untuk menghadapi tantangan bencana di masa mendatang.