:strip_icc():watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,573,20,0)/kly-media-production/medias/5474153/original/018964800_1768467537-LG_02.jpeg)
LG Electronics Indonesia akan memberlakukan penyesuaian harga pada produk televisi (TV) mereka di pasar domestik, dengan kenaikan hingga 7 persen, sebagai respons langsung terhadap kelangkaan pasokan chip global yang kini diprioritaskan untuk kebutuhan kecerdasan buatan (AI). Pauls Park, Media Entertainment Solution (MS) Product Director LG Electronics Indonesia, secara resmi mengumumkan kebijakan ini di Jakarta pada Kamis, 15 Januari 2026, di sela peluncuran produk LG StanbyME 2. Penyesuaian harga ini akan berlaku untuk tipe TV tertentu, menandai dampak lanjutan dari pergeseran fokus produksi semikonduktor dunia.
Fenomena kelangkaan chip yang mempengaruhi industri elektronik secara luas ini, menurut Park, telah dimulai sejak tahun 2025, ketika permintaan global akan teknologi AI melonjak drastis dan memaksa produsen semikonduktor raksasa dunia mengubah peta produksinya. Perusahaan chip memori besar seperti Samsung Electronics dan SK Hynix kini bertransformasi menjadi penyedia memori AI, yang mengakibatkan pasokan chip memori untuk televisi berkurang secara signifikan di pasar global. Krisis ini, yang disebut juga sebagai krisis RAM global, telah membuat alokasi produksi memori untuk 12 bulan ke depan hingga 2026 telah habis terjual, mengindikasikan kelangkaan ekstrem.
Dampak dari kelangkaan komponen vital ini telah memicu ketidakstabilan harga di tingkat produsen. Pauls Park menambahkan bahwa saat ini, mayoritas perusahaan manufaktur, termasuk yang berasal dari Tiongkok, hanya memiliki ketahanan stok komponen selama satu hingga tiga bulan ke depan. Situasi ini bukan hanya membebani LG, tetapi juga telah mendorong beberapa kompetitor global, seperti TCL dan produsen asal Tiongkok lainnya, untuk menaikkan harga jual produk mereka di kisaran 5 hingga 15 persen. Analis dari Counterpoint Research memperkirakan bahwa harga memori dapat naik lagi hingga 40 persen sampai kuartal II-2026, yang berpotensi menghasilkan kenaikan biaya Bill of Materials (BoM) antara 8 persen hingga lebih dari 15 persen di atas level yang sudah tinggi saat ini untuk produk elektronik.
Sebelumnya, Marketing and Relations Director of LG Electronics Indonesia, Jay Jang, pada 16 Desember 2025, telah mengakui potensi pengaruh kenaikan harga bahan baku terhadap produk, meskipun saat itu pihaknya belum dapat memastikan dampak langsung terhadap harga produk LG di pasar domestik, menyatakan situasi masih dinamis dan memerlukan pemantauan cermat. Namun, dengan pengumuman terbaru ini, strategi penyesuaian harga telah menjadi langkah yang tidak terhindarkan bagi LG Indonesia.
Krisis chip yang dipicu oleh AI ini telah menciptakan tekanan pada seluruh rantai pasok semikonduktor. Permintaan untuk chip memori bandwidth tinggi (HBM) yang krusial untuk pusat data AI, telah mengalihkan kapasitas produksi dari chip memori konvensional seperti DRAM, yang banyak digunakan di perangkat konsumen termasuk televisi. Analis dari Morningstar dan JP Morgan memperkirakan bahwa lonjakan harga komponen ini akan terus berlanjut hingga tahun 2027, dengan potensi kenaikan harga produk sebesar 5 hingga 20 persen di tiap perusahaan. Lonjakan permintaan chip memori dan GPU dari raksasa teknologi seperti Google, Meta, Amazon, Nvidia, dan OpenAI untuk memperluas kapasitas pusat data AI mereka, menjadi penyebab utama kekurangan pasokan di segmen produk konsumen.
Bagi konsumen di Indonesia, kenaikan harga TV LG ini menandakan era baru di mana inovasi teknologi AI, yang semakin terintegrasi dalam berbagai perangkat pintar, secara tidak langsung turut menaikkan biaya kepemilikan. Pasar TV global sendiri pada semester II-2025 diramalkan TrendForce akan lesu akibat faktor-faktor seperti antisipasi penyesuaian tarif impor AS dan program subsidi tukar tambah di China yang mendorong pembelian lebih awal. Dengan kenaikan harga ini, LG dan produsen elektronik lainnya di Indonesia akan menghadapi tantangan untuk mempertahankan daya saing di tengah pasar yang sensitif terhadap harga dan persaingan ketat. Implikasi jangka panjangnya mungkin mencakup adopsi strategi diversifikasi rantai pasok yang lebih agresif, investasi dalam teknologi fabrikasi chip yang lebih mandiri, atau eksplorasi model bisnis baru untuk menekan biaya produksi agar tidak sepenuhnya dibebankan kepada konsumen.