:strip_icc()/kly-media-production/medias/3583417/original/043152400_1632622262-New_Project__1_.jpg)
Layanan internet rumah IndiHome dan seluler Telkomsel mengalami gangguan massal secara nasional pada Kamis, 22 Januari 2026, menghentikan akses jutaan pengguna ke berbagai platform digital sejak sekitar pukul 10.30 WIB. TelkomGroup, melalui anak perusahaannya Telkomsel, mengonfirmasi insiden tersebut dan menyatakan tim teknis sedang berupaya mempercepat proses pemulihan. Gangguan ini menyebabkan kelumpuhan signifikan pada aktivitas daring, mulai dari pekerjaan jarak jauh hingga layanan hiburan, di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Semarang, hingga wilayah di Sumatra, Kalimantan, dan Papua.
Keluhan pengguna mulai membanjiri media sosial X (sebelumnya Twitter) dan situs Downdetector sejak pagi, mencapai puncak laporan gangguan pada pukul 11.34 WIB dengan lebih dari 4.300 aduan. Pengguna melaporkan kegagalan koneksi total hingga sinyal tidak stabil, mengganggu akses ke aplikasi pesan instan seperti WhatsApp dan platform streaming video. Pekerja yang mengandalkan koneksi internet untuk produktivitas, seperti Taufiq dan Agus di Jabodetabek, merasakan dampak langsung dengan terputusnya aktivitas kerja mereka. Bahkan, sektor bisnis turut terdampak, dengan sejumlah kafe dan lebih dari 30 cabang Indibiz di Bekasi tidak dapat menyediakan layanan internet bagi pelanggan.
Wakil Presiden Komunikasi Korporat Telkom, Andri Herawan Sasoko, dalam pernyataan resminya, menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dialami pelanggan. Andri menegaskan bahwa TelkomGroup telah mengerahkan seluruh sumber daya teknis untuk mengisolasi sumber gangguan, mengoptimalkan kinerja jaringan, dan mempercepat pemulihan layanan. Senada, Vice President Corporate Communications and Social Responsibility Telkomsel, Abdullah Fahmi, menyatakan penurunan kualitas layanan data terdeteksi secara nasional sejak pukul 11.03 WIB dan penanganannya menjadi prioritas tertinggi. Pada sore hari, Telkomsel menginformasikan bahwa layanan data, baik seluler maupun fixed broadband, berangsur pulih dan kembali normal setelah langkah pemulihan intensif oleh tim teknis.
Insiden gangguan massal ini bukan kali pertama terjadi pada infrastruktur telekomunikasi di Indonesia. Pada September 2021, layanan IndiHome dan Telkom juga mengalami gangguan ekstensif akibat putusnya sistem komunikasi kabel laut Jasuka (Jawa, Sumatra, Kalimantan) di ruas Batam-Pontianak. Kejadian berulang menyoroti kerentanan infrastruktur digital negara kepulauan ini terhadap faktor internal maupun eksternal, termasuk potensi kerusakan fisik pada kabel optik. Meskipun Telkomsel telah menunjukkan komitmen dalam pemulihan jaringan pascabencana, seperti yang terlihat dalam penanganan gangguan di Sumatra pada akhir 2025 dengan pemulihan 90 persen menara transmisi di Sumatra Barat dan Sumatra Utara, peristiwa hari ini menggarisbawahi tantangan berkelanjutan dalam menjaga stabilitas konektivitas digital.
Gangguan jaringan yang meluas memiliki implikasi serius terhadap ekonomi digital dan kepercayaan publik. Dalam konteks ekonomi, setiap jam konektivitas yang hilang dapat berarti kerugian produktivitas yang signifikan bagi individu dan bisnis yang semakin bergantung pada internet. Dari sisi kepercayaan konsumen, insiden berulang dapat mengikis keyakinan terhadap keandalan penyedia layanan, memicu desakan untuk transparansi lebih lanjut dan potensi kompensasi yang memadai. Regulator telekomunikasi di Indonesia, seperti Kementerian Komunikasi dan Digital, memiliki peran krusial dalam memastikan penyedia layanan menginvestasikan sumber daya yang cukup untuk membangun infrastruktur yang lebih tangguh dan memiliki rencana mitigasi yang efektif untuk meminimalkan dampak gangguan di masa depan. Pengembangan teknologi, seperti modernisasi jaringan dan optimalisasi efisiensi yang dilakukan Telkomsel, perlu terus ditingkatkan untuk menciptakan ekosistem digital yang lebih resilien di seluruh negeri.