:strip_icc()/kly-media-production/medias/4321480/original/054569000_1676192047-shutterstock_1957417903.jpg)
Siluet ancaman serius menghantui jutaan pengendara di Indonesia setiap kali libur panjang tiba: microsleep. Kondisi tidur singkat yang terjadi tanpa disadari ini menjadi salah satu penyebab utama kecelakaan lalu lintas fatal, terutama saat arus mudik dan balik. Microsleep didefinisikan sebagai periode tertidur singkat yang berlangsung hanya beberapa detik, umumnya antara satu hingga lima detik, bahkan bisa sampai 30 detik, di mana individu kehilangan kesadaran tanpa menyadarinya. Otak berhenti memproses informasi eksternal seperti biasa, meskipun mata mungkin tampak terbuka. Dalam hitungan detik tersebut, seorang pengemudi dapat kehilangan kendali penuh atas kendaraannya, dengan konsekuensi yang berpotensi mematikan.
Data Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri mencatat bahwa microsleep menyumbang 342 kasus kecelakaan lalu lintas selama arus mudik Lebaran 2024. Fenomena ini sangat berbahaya; jika kendaraan melaju 96 km/jam dan pengemudi mengalami microsleep selama tiga detik, mobil dapat menempuh hampir 100 meter tanpa kendali. Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) juga menunjukkan bahwa kelelahan pengemudi dan microsleep diduga menjadi salah satu penyebab utama kecelakaan di lintas darat di Indonesia. Sebuah survei terhadap 217 responden di Indonesia menemukan bahwa 32 persen di antaranya pernah nyaris mengalami kecelakaan fatal akibat mengemudi dalam keadaan mengantuk atau microsleep.
Penyebab utama microsleep adalah kurang tidur, kualitas tidur yang buruk, dan kelelahan ekstrem. Orang dewasa umumnya membutuhkan 7 hingga 9 jam tidur setiap malam untuk menjaga kondisi prima. Namun, perjalanan panjang tanpa istirahat yang cukup, terutama pada jalur monoton seperti jalan tol, dapat memperbesar risiko microsleep. Jam biologis tubuh juga berperan; microsleep sering muncul pada jam rentan seperti dini hari atau setelah makan siang. Selain itu, konsumsi obat-obatan tertentu yang memiliki efek samping mengantuk, seperti obat flu atau antihistamin, juga dapat memicu microsleep.
Dokter Spesialis Neurologi dari Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RSPON) Mahar Mardjono Jakarta, Asnelia Devicaesaria, menganjurkan pengemudi untuk beristirahat minimal 15-30 menit setelah mengemudi selama empat jam atau jika merasa lelah. Tidur sejenak atau 'power nap' selama 20-30 menit sangat efektif untuk memulihkan tenaga.
Tanda-tanda microsleep yang perlu diwaspadai meliputi mata terasa berat dan sering berkedip lambat, menguap berulang kali, kepala terasa berat dan cenderung jatuh ke depan, sulit mengingat bagian perjalanan yang baru saja dilewati, kendaraan mulai keluar jalur tanpa disadari, serta sulit memproses informasi di sekitar. Bahkan, kadang-kadang orang yang mengalaminya tidak sadar bahwa mereka sempat tertidur.
Untuk memitigasi risiko ini, beberapa langkah pencegahan krusial perlu diterapkan secara disiplin. Pertama, pastikan pengemudi mendapatkan tidur berkualitas minimal 6-8 jam sebelum memulai perjalanan panjang. Kedua, berhentilah dan beristirahat secara berkala setiap dua jam sekali untuk melakukan peregangan atau tidur singkat jika merasa mengantuk. Ketiga, hindari berkendara sendirian; mengajak teman atau co-driver dapat membantu menjaga kewaspadaan dan memungkinkan bergantian menyetir. Keempat, hindari mengonsumsi obat-obatan yang dapat menyebabkan kantuk dan minuman beralkohol sebelum berkendara. Kelima, dengarkan musik upbeat atau audiobook untuk menjaga konsentrasi dan menghindari kebosanan, terutama di jalan tol yang monoton. Terakhir, makan makanan ringan dan sehat selama perjalanan, serta hindari makanan berat yang dapat memicu rasa kantuk.
Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan dan Korlantas Polri terus mengampanyekan keselamatan berkendara, termasuk peringatan tentang bahaya microsleep, khususnya selama periode libur panjang. Beberapa kendaraan modern bahkan telah dilengkapi dengan fitur Advanced Driving Assistance System (ADAS) yang memonitor tingkat kelelahan pengemudi menggunakan kamera, sensor, dan algoritma kecerdasan buatan, memberikan peringatan suara jika terdeteksi adanya tanda kelelahan. Implementasi teknologi ini, dikombinasikan dengan kesadaran dan disiplin pengemudi, menjadi kunci untuk mengurangi insiden kecelakaan yang diakibatkan oleh microsleep. Pentingnya istirahat yang cukup sebelum dan selama perjalanan panjang tidak dapat dinegosiasikan demi keselamatan pribadi dan pengguna jalan lainnya.