:strip_icc():watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,573,20,0)/kly-media-production/medias/4844229/original/016966500_1716808809-IMG_20240221_113622.jpg)
Produsen smartphone global secara signifikan mengurangi adopsi sensor kamera 1 inci pada perangkat unggulan mereka di tahun 2026. Keputusan ini didorong oleh konvergensi tantangan desain fisik, biaya produksi yang semakin tinggi, dan lompatan kapabilitas yang ditawarkan oleh fotografi komputasional berbasis kecerdasan buatan (AI) yang kian matang.
Pada tahun 2022, sensor 1 inci seperti Sony IMX989 yang pertama kali hadir di Xiaomi 12S Ultra sempat dipandang sebagai terobosan besar, dengan harapan akan menjadi standar baru untuk kualitas gambar ponsel. Namun, ambisi tersebut mulai memudar seiring produsen menghadapi realitas implementasi. Salah satu kendala utama adalah dimensi fisik. Sensor yang lebih besar memerlukan modul kamera yang lebih tebal dan menonjol, menciptakan "benjolan kamera" yang mengganggu estetika dan ergonomi perangkat. Desainer smartphone, terutama merek seperti Apple dan Samsung, cenderung mengutamakan bodi yang ramping dan tipis. Modul kamera yang lebih besar juga membutuhkan jarak yang lebih jauh antara lensa dan sensor untuk kualitas fokus optimal, terkadang mendorong solusi kompleks seperti lensa yang dapat ditarik (misalnya, Huawei Pura 70 Ultra) yang menambah kerumitan dan biaya perangkat.
Aspek biaya menjadi faktor krusial. Sensor 1 inci, bersama dengan optik dan mekanisme pendukung yang rumit, secara substansial meningkatkan biaya produksi. Ini pada gilirannya dapat mengikis margin keuntungan produsen, sebuah pertimbangan penting di pasar yang sangat kompetitif. Vishal200, seorang komentator di Reddit, menyoroti bahwa sensor 1 inci pada ponsel tidak selalu menggunakan seluruh area 1 inci karena profil tipis smartphone, menunjukkan bahwa produsen mungkin menunggu teknologi yang memungkinkan penggunaan penuh area sensor.
Namun, pergeseran paling fundamental adalah evolusi fotografi komputasional. Kemajuan AI dan pemrosesan gambar telah memungkinkan sensor yang lebih kecil untuk mencapai kualitas foto yang menakjubkan, bahkan dalam kondisi cahaya rendah atau saat melakukan zoom, dengan menggabungkan beberapa eksposur dan meningkatkan detail secara cerdas. Perusahaan seperti Google dan Apple, yang tidak mengadopsi sensor 1 inci di jajaran Pixel atau iPhone mereka, telah membuktikan bahwa keunggulan perangkat lunak dapat melampaui keterbatasan perangkat keras sensor. Pakar di Fstoppers bahkan menyatakan pada tahun 2025 bahwa "masa depan fotografi adalah komputasional, bukan optik," menggarisbawahi bahwa batasan fisik lensa dan sensor semakin didefinisikan ulang oleh kemampuan perangkat lunak.
Fenomena ini juga menimbulkan masalah teknis lainnya. Sensor besar dengan bukaan lensa lebar, yang lazim pada smartphone, menghasilkan kedalaman bidang (depth of field) yang dangkal. Ini mempersulit fokus pada beberapa subjek dalam satu bidikan dan dapat menghasilkan efek blur yang tidak diinginkan di beberapa skenario. Untuk video, sensor 1 inci dapat menangkap terlalu banyak cahaya, menyebabkan rekaman terlihat "stuttery" jika kecepatan rana terlalu cepat tanpa bukaan variabel yang masih jarang ditemui.
Sebagai respons terhadap tantangan ini, produsen sensor dan ponsel mulai mengeksplorasi arah baru. Sony telah memperkenalkan sensor seperti LYT-901 beresolusi 200MP (ukuran 1/1.12 inci) yang, meskipun sedikit lebih kecil dari 1 inci, menawarkan resolusi tinggi dan peningkatan kinerja cahaya rendah. Ini menunjukkan bahwa fokus beralih ke sensor format besar yang dioptimalkan, bukan terpaku pada ukuran "1 inci" semata. Tren lain termasuk peningkatan sensor telephoto (desain periskop), sensor multispektral (meskipun belum terbukti secara luas), dan teknologi global shutter untuk mengatasi distorsi gerakan cepat.
Meskipun beberapa produsen Tiongkok seperti Xiaomi, Vivo, OPPO, dan Huawei awalnya sangat antusias dengan sensor 1 inci, beberapa telah mulai membatasi penggunaannya pada model "Ultra" kelas atas mereka, sementara merek seperti Samsung dan Apple terus mengabaikan tren ini di perangkat utama mereka. Ini menandakan kurangnya konsensus pasar tentang nilai jangka panjang sensor 1 inci sebagai fitur yang wajib ada di semua ponsel flagship. Diperkirakan pada tahun 2026, perubahan dalam teknologi kamera akan lebih bersifat "evolusioner daripada revolusioner," dengan fokus pada fitur AI dan peningkatan perangkat keras seperti stabilisasi video yang lebih baik dan lensa teleskopik yang disempurnakan. Pasar sensor gambar secara keseluruhan diproyeksikan tumbuh dari USD 27,4 miliar pada tahun 2026 menjadi USD 54,6 miliar pada tahun 2035, didorong oleh kemajuan teknologi CMOS, peningkatan permintaan untuk pencitraan beresolusi tinggi, dan integrasi AI dalam pemrosesan gambar.