Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Misteri Xiaomi: HP Paling Tipis Lewati iPhone Air, Kenapa Tak Sampai ke Pasar?

2026-01-15 | 08:44 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-15T01:44:51Z
Ruang Iklan

Misteri Xiaomi: HP Paling Tipis Lewati iPhone Air, Kenapa Tak Sampai ke Pasar?

Xiaomi, raksasa teknologi asal Tiongkok, menghentikan produksi massal prototipe ponsel cerdas ultra-tipisnya, Xiaomi 17 Air, meskipun perangkat tersebut memiliki ketebalan hanya 5,5 milimeter. Keputusan ini menarik perhatian industri mengingat ketebalan tersebut bahkan melampaui iPhone Air yang diperkenalkan Apple dengan ketebalan 5,6 milimeter. Pembatalan produksi ini, yang terjadi setelah fase pengujian internal, menggarisbawahi tantangan teknis dan pergeseran preferensi pasar yang menghantam tren ponsel super tipis.

Prototipe Xiaomi 17 Air, yang bocoran cetakan rekayasanya tersebar luas, menampilkan layar 6,59 inci dan unit kamera ganda horizontal dengan branding "MASTER" di bagian belakang. Perangkat ini dirancang untuk portabilitas maksimal tanpa mengorbankan ukuran layar, serta mendukung teknologi e-SIM dan disebut-sebut memiliki kamera utama 200MP. Desainnya terlihat modern dan berani, menunjukkan ambisi Xiaomi untuk bersaing di segmen ponsel premium ultra-tipis. Namun, Xiaomi memutuskan untuk tidak melanjutkannya ke produksi massal karena "keterbatasan dunia nyata."

Alasan utama di balik pembatalan ini bersumber dari kendala fisik dan tantangan rekayasa yang melekat pada desain ultra-tipis. Pertama, ruang yang terbatas untuk baterai menyebabkan kapasitas daya yang lebih kecil, secara langsung mengurangi masa pakai baterai yang menjadi prioritas utama konsumen saat ini. Survei menunjukkan bahwa mayoritas konsumen memilih masa pakai baterai yang lebih lama daripada desain ultra-tipis. Kedua, pembuangan panas menjadi masalah krusial. Prosesor yang kuat, seperti Snapdragon 8 Elite Gen 5 yang diperkirakan digunakan pada perangkat ini, menghasilkan panas signifikan yang sulit dikelola dalam sasis tipis, berpotensi menyebabkan pelambatan kinerja. Ketiga, desain tipis membatasi ruang untuk modul kamera canggih, sering kali menghasilkan "benjolan kamera" yang menonjol dan mengurangi estetika, atau memaksa kompromi pada kualitas dan jumlah sensor. Terakhir, durabilitas menjadi kekhawatiran serius. Ponsel super tipis cenderung lebih rentan terhadap kerusakan fisik dan bengkok, mengingatkan pada insiden "Bendgate" pada iPhone 6.

Secara strategis, keputusan Xiaomi juga dipengaruhi oleh tren pasar yang lesu untuk ponsel ultra-tipis. Model-model seperti iPhone Air dari Apple dan Galaxy S25 Edge dari Samsung, yang juga diposisikan sebagai perangkat ultra-tipis, dilaporkan menghadapi penjualan yang buruk atau "kegagalan besar" pada tahun 2025. Laporan menunjukkan bahwa Apple bahkan memangkas produksi iPhone Air lebih dari 90% pada akhir tahun 2025 karena permintaan konsumen yang lemah. Penurunan minat publik terhadap perangkat yang terlalu tipis dan ringan menyebabkan Xiaomi mengevaluasi kembali permintaan riil untuk kategori ini, menyimpulkan bahwa waktu saat itu tidak tepat untuk investasi berisiko tinggi. Hal ini mendorong Xiaomi untuk mengalihkan fokusnya ke perangkat dengan kapasitas baterai lebih besar, seperti seri Xiaomi 17 utama yang dikabarkan hadir dengan baterai Surge 7.000mAh.

Pembatalan prototipe Xiaomi 17 Air ini merupakan indikator penting dalam industri ponsel cerdas. Hal ini menunjukkan bahwa para produsen semakin berhati-hati, memprioritaskan pengalaman pengguna yang praktis, seperti masa pakai baterai dan kinerja, daripada semata-mata mengejar pencapaian spesifikasi ekstrem atau desain yang terlalu tipis. Meskipun ide-ide desain ultra-tipis dapat diuji dan beberapa elemennya mungkin akan digunakan kembali pada produk masa depan seperti seri MIX Fold 5, pasca-kegagalan pasar dari ponsel super tipis seperti iPhone Air, industri nampak kembali condong pada keseimbangan antara inovasi desain dan fungsionalitas inti yang diminati konsumen.