:strip_icc()/kly-media-production/medias/3011331/original/080605200_1577969859-20200102-Jalan-Kartini-Bekasi-3.jpg)
Perairan bah dan genangan air setelah hujan deras atau luapan sungai menimbulkan ancaman serius bagi kendaraan bermotor, seringkali meninggalkan pemilik dihadapkan pada dilema kompleks mengenai langkah pemulihan terbaik. Insiden mobil menerjang banjir bukan hanya sekadar ketidaknyamanan sesaat, melainkan potensi malapetaka finansial dan keselamatan jangka panjang yang membutuhkan penanganan segera dan strategis dari pemilik kendaraan. Mengabaikan tindakan cepat setelah kendaraan terpapar genangan air berpotensi memperparah kerusakan, mulai dari sistem kelistrikan yang vital hingga komponen mesin yang rumit, serta menimbulkan risiko korosi dan pertumbuhan jamur yang merusak struktur dan interior mobil secara permanen.
Langkah pertama yang krusial setelah mobil menerjang banjir adalah segera mematikan mesin dan tidak mencoba menyalakannya kembali. Upaya untuk menghidupkan mesin yang mungkin kemasukan air, atau dikenal sebagai 'hidrolocking', dapat menyebabkan kerusakan parah pada komponen internal seperti stang piston, bahkan bisa menghancurkan blok mesin. Sebaliknya, kendaraan harus didorong atau diderek ke lokasi yang aman dan kering. Pejabat dari Asosiasi Bengkel Independen Indonesia (ASBEKINDO) sering menekankan pentingnya respons cepat ini, mengingat banyak kerusakan sekunder terjadi karena penanganan yang salah pasca kejadian.
Setelah kendaraan berada di tempat yang aman, penilaian awal terhadap tingkat kerusakan sangat penting. Pemilik harus memeriksa ketinggian air yang merendam mobil—apakah hanya sebatas ban, hingga lantai interior, atau bahkan lebih tinggi hingga dashboard dan mesin. Ketinggian air ini akan menentukan jenis dan skala kerusakan yang mungkin terjadi. Misalnya, jika air mencapai karpet interior, kemungkinan besar sistem kelistrikan di bawah dashboard, modul kontrol elektronik (ECU), dan komponen sensor akan terpengaruh. Data dari perusahaan asuransi menunjukkan bahwa klaim kerusakan akibat banjir di Indonesia meningkat signifikan dalam beberapa tahun terakhir, dengan perkiraan kerugian rata-rata per kendaraan yang bisa mencapai puluhan juta rupiah, tergantung pada tingkat kerendamannya.
Kontak dengan perusahaan asuransi harus menjadi prioritas berikutnya jika kendaraan diasuransikan dengan perlindungan banjir. Banyak polis komprehensif mencakup kerusakan akibat bencana alam, termasuk banjir, namun proses klaim memerlukan dokumentasi yang cermat dan seringkali penaksiran oleh surveyor asuransi. Penundaan dalam melaporkan klaim dapat memperumit proses dan bahkan berpotensi membatalkan cakupan. Penting untuk tidak membongkar atau membersihkan mobil secara ekstensif sebelum surveyor datang, karena hal itu dapat menghilangkan bukti kerusakan.
Pemeriksaan profesional oleh mekanik bersertifikat yang memiliki pengalaman dalam menangani mobil banjir sangat disarankan. Mekanik akan melakukan pemeriksaan menyeluruh mulai dari sistem kelistrikan, mesin, transmisi, hingga interior dan sasis. Bagian-bagian yang rentan terhadap kerusakan akibat banjir meliputi alternator, starter, sistem pengereman (termasuk ABS), sistem kemudi, airbag, dan sistem bahan bakar. Komponen elektronik seperti ECU, wiring harness, dan berbagai sensor adalah yang paling rentan terhadap korosi akibat air dan lumpur, yang dapat menyebabkan masalah intermiten dan sulit didiagnosis di kemudian hari. Biaya perbaikan untuk mobil yang terendam banjir bisa sangat bervariasi, dari beberapa juta rupiah untuk kerusakan ringan hingga ratusan juta rupiah untuk kasus parah yang melibatkan penggantian mesin atau sistem kelistrikan utama. Sebuah studi dari Lembaga Konsumen Otomotif Independen (LKOI) pada tahun 2023 menunjukkan bahwa rata-rata biaya perbaikan untuk mobil yang terendam setinggi kursi bisa mencapai 40-60% dari nilai kendaraan baru.
Implikasi jangka panjang dari kerusakan akibat banjir seringkali tidak langsung terlihat. Korosi dapat berkembang seiring waktu, merusak sambungan kelistrikan, komponen sasis, dan bahkan struktur bodi kendaraan, mengurangi integritas struktural dan nilai jual kembali. Selain itu, pertumbuhan jamur dan bau tak sedap di interior bisa menjadi masalah persisten jika tidak ditangani dengan benar, menimbulkan risiko kesehatan bagi penumpang. Para ahli merekomendasikan penggantian total karpet dan insulasi yang terendam untuk menghindari masalah ini. Penting bagi pemilik kendaraan untuk memahami bahwa meskipun mobil mungkin terlihat berfungsi setelah perbaikan, potensi masalah tersembunyi dapat muncul bertahun-tahun kemudian, menekankan pentingnya riwayat perawatan yang transparan jika kendaraan akan dijual di masa depan. Masyarakat perlu menyadari risiko ini saat membeli kendaraan bekas, dengan meminta riwayat pemeriksaan menyeluruh untuk memastikan kendaraan tersebut tidak memiliki riwayat banjir yang parah.