:strip_icc()/kly-media-production/medias/4057125/original/046001700_1655571859-WhatsApp_Image_2022-06-17_at_8.30.40_AM.jpeg)
Pengaturan suhu pendingin udara (AC) mobil yang tidak tepat saat berkendara malam hari menjadi faktor krusial yang kerap terabaikan, namun memiliki dampak signifikan terhadap keselamatan pengemudi dan efisiensi kendaraan. Praktisi otomotif serta ahli kesehatan menyarankan kisaran suhu optimal untuk menjaga kewaspadaan pengemudi dan menghindari risiko kecelakaan yang diakibatkan kelelahan.
Para ahli otomotif secara umum merekomendasikan pengaturan suhu AC mobil berada di rentang 22 hingga 24 derajat Celsius saat berkendara malam hari. Kisaran ini dianggap mampu memberikan kesejukan yang nyaman tanpa menimbulkan sensasi dingin berlebihan yang dapat memicu kelelahan pada tubuh. Suhu yang terlalu rendah dapat menyebabkan pembuluh darah menyempit, mengurangi asupan oksigen ke otak, dan akhirnya memicu rasa kantuk serta hilangnya fokus. Fenomena ini, yang dikenal sebagai microsleep, sangat berbahaya dan menjadi salah satu penyebab utama kecelakaan lalu lintas. Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Soerjanto Tjahjono, pada April 2024 menyatakan bahwa 70 persen kecelakaan lalu lintas disebabkan oleh faktor kelelahan pengemudi. Laporan KNKT bahkan mencatat 60% kecelakaan kendaraan darat disebabkan oleh pengemudi yang kelelahan.
Selain dampak pada kewaspadaan, suhu AC yang terlalu dingin juga memaksa sistem kompresor bekerja lebih keras, yang berimplikasi pada peningkatan konsumsi bahan bakar yang tidak efisien. Sebaliknya, suhu kabin yang terlalu panas juga tidak ideal. Suhu tinggi dapat menyebabkan pengemudi merasa lelah, dehidrasi, dan mengalami penyakit terkait panas, yang semuanya mengganggu kemampuan mengemudi dengan aman. Studi menunjukkan bahwa suhu ekstrem, baik terlalu panas maupun terlalu dingin, dapat memengaruhi fokus dan konsentrasi saat mengemudi.
Manajemen suhu kabin yang efektif juga mencakup pengaturan sirkulasi udara. Setelah suhu ideal tercapai, disarankan untuk menggunakan mode sirkulasi udara dalam kabin (recirculation) untuk menjaga stabilitas suhu, terutama ketika udara malam cenderung lebih dingin dan lembap. Namun, penting juga untuk sesekali membuka jendela atau menggunakan mode udara segar (fresh air) untuk mencegah udara di dalam kabin menjadi pengap dan menjaga kualitas udara. Kurangnya sirkulasi udara segar dapat menyebabkan udara di dalam kabin menjadi "pengap," yang berkontribusi pada perasaan lelah dan mengantuk. Filter AC yang kotor juga dapat mengurangi kualitas udara dan menyebabkan rasa kantuk.
Implikasi jangka panjang dari pengaturan AC yang tidak tepat tidak hanya terbatas pada risiko kecelakaan dan efisiensi bahan bakar. Kesehatan pengemudi dapat terganggu oleh suhu ekstrem dan kualitas udara yang buruk. Kondisi dingin berlebihan dapat memicu reaksi alergi seperti bersin dan pilek, serta memengaruhi imunitas tubuh, yang selanjutnya mengurangi konsentrasi. Seiring dengan itu, kabut pada kaca mobil akibat perbedaan suhu yang signifikan antara bagian dalam dan luar kabin juga dapat mengganggu visibilitas dan mengurangi kemampuan pengemudi untuk melihat kondisi jalan. Oleh karena itu, penyesuaian suhu secara bertahap dan memastikan ventilasi udara yang baik menjadi krusial.
Para pengemudi perlu memahami bahwa pengaturan suhu AC mobil di malam hari bukan hanya soal kenyamanan pribadi, melainkan bagian integral dari strategi keselamatan berkendara. Mempertimbangkan rekomendasi suhu 22-24 derajat Celsius, menjaga sirkulasi udara yang baik, dan menghindari perubahan suhu ekstrem secara tiba-tiba akan secara signifikan mengurangi risiko kelelahan dan meningkatkan keselamatan di jalan raya.