:strip_icc()/kly-media-production/medias/5445516/original/021870900_1765858408-Samsung_Galaxy_A57.jpg)
Samsung Electronics bersiap meluncurkan lini smartphone andalannya, seri Galaxy S26, pada 25 Februari 2026 di San Francisco, Amerika Serikat, dengan penjualan diperkirakan dimulai pada awal Maret. Peluncuran ini, yang dikonfirmasi oleh pembocor terkemuka Evan Blass, menandai penundaan dibandingkan jadwal rilis Galaxy S sebelumnya yang biasanya pada Januari atau awal Februari. Penundaan ini diduga terkait dengan keputusan Samsung untuk mengganti model Galaxy S26 Edge dengan Galaxy S26 Plus pada tahap akhir pengembangan.
Seri Galaxy S26, khususnya Galaxy S26 Ultra, diprediksi menjadi salah satu ponsel terlaris Samsung pada awal 2026, melanjutkan dominasi perusahaan di pasar global. Samsung berhasil mempertahankan posisinya sebagai "raja" ponsel dunia pada kuartal III 2025, mengapalkan 61,4 juta unit dan meraih pangsa pasar 19,0%, didorong oleh performa kuat seri Galaxy S25 serta ponsel lipat Galaxy Z Fold 7 dan Z Flip 7. Keberhasilan ini menyoroti pergeseran minat konsumen ke segmen premium dan perangkat inovatif berbasis kecerdasan buatan (AI).
Menurut laporan yang beredar, Galaxy S26 Ultra akan ditenagai oleh prosesor Snapdragon 8 Elite Gen 5, dilengkapi baterai 5.000mAh, pengisian daya kabel 60W, dan peningkatan pada sistem kamera belakang. Sementara itu, model Galaxy S26 dan S26 Plus kemungkinan akan menggunakan kombinasi chip Snapdragon atau Exynos, tergantung pasar. Desain seri S26 juga diperkirakan mengalami perubahan signifikan dengan profil yang lebih ramping (6,9 mm) dan beralih ke desain 'pulau kamera' vertikal.
Namun, prospek penjualan awal 2026 menghadapi tantangan signifikan. Analis pasar memperkirakan adanya kenaikan harga smartphone secara global akibat lonjakan harga chip memori, yang utamanya disebabkan oleh tingginya permintaan untuk server AI. International Data Corporation (IDC) memproyeksikan harga jual rata-rata smartphone bisa naik 3-5% dalam skenario moderat, bahkan hingga 6-8% dalam skenario terburuk. Kenaikan biaya produksi ini dikhawatirkan dapat menekan pertumbuhan pasar smartphone global hingga 2,9% atau bahkan 5,2%. Won-Jin Lee, Head of Marketing Samsung, mengakui ancaman kenaikan harga chip memori meskipun perusahaan berharap dapat menghindari pembebanan biaya tersebut kepada konsumen.
Di sisi lain, Samsung juga aktif mengembangkan segmen ponsel lipat. Pada CES 2026, Samsung memamerkan Galaxy Z TriFold, perangkat inovatif yang dapat dilipat tiga, yang akan diluncurkan di Amerika Serikat pada kuartal pertama 2026. Perangkat ini, yang sudah terjual habis dalam hitungan menit di Korea Selatan meskipun berharga sekitar 2.500 dolar, menunjukkan potensi pasar yang besar untuk faktor bentuk baru ini. Nabila Popal, Direktur Riset Senior IDC, memprediksi pasar ponsel lipat akan tumbuh signifikan mencapai 29,7% pada tahun 2026, berlawanan dengan penurunan pengapalan ponsel konvensional.
Selain seri Galaxy S, Samsung juga merencanakan peluncuran jajaran Galaxy A-series pada awal 2026. Model seperti Galaxy A07 5G, Galaxy A37, dan Galaxy A57 diharapkan meluncur lebih awal dari jadwal biasa, kemungkinan pada Januari atau Februari 2026. Langkah ini bisa menjadi strategi Samsung untuk menjaga momentum produk di tengah penyesuaian jadwal flagship. Ponsel-ponsel ini akan membawa peningkatan bertahap pada chipset dan kamera, serta menjalankan Android 16. Performa seri Galaxy A sangat penting, mengingat seri ini mendominasi pangsa pasar Samsung di Indonesia pada kuartal III 2025.
Samsung menargetkan untuk menggandakan jumlah ponsel dan tablet dengan fungsi AI terintegrasi menjadi 800 juta perangkat pada tahun 2026, naik dari 400 juta. Ambisi ini sangat bergantung pada ketersediaan chip dan memori, yang saat ini menghadapi kendala pasokan dan kenaikan harga. Kenaikan harga komponen dan kebutuhan akan inovasi AI menjadi faktor krusial yang akan membentuk lanskap pasar smartphone Samsung sepanjang tahun 2026.