:strip_icc()/kly-media-production/medias/3461783/original/097996000_1621585676-liputan6-tips-helm-08.jpg)
Visibilitas yang terganggu akibat kaca helm buram secara signifikan meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas, menyumbang pada angka fatalitas di jalan raya yang didominasi oleh pengendara sepeda motor. Data Integrated Road Safety Management System (IRSMS) Korlantas Polri mencatat 79.220 kecelakaan lalu lintas hingga 5 Agustus 2024, dengan 76,42% melibatkan sepeda motor atau sekitar 552.155 unit kendaraan roda dua. Sebanyak 7,21% korban meninggal dunia, 8,26% mengalami luka berat, dan 84,51% menderita luka ringan dari total 117.962 korban. Lebih dari 50% korban meninggal di jalan raya melibatkan sepeda motor. Kondisi visor yang tidak jernih, seringkali disebabkan oleh embun, kotoran, atau goresan, secara langsung membatasi kemampuan pengendara dalam merespons situasi darurat dan melihat potensi bahaya.
Fenomena kaca helm berembun terjadi ketika ada perbedaan suhu signifikan antara bagian dalam dan luar helm, seringkali diperparah oleh uap napas pengendara. Ini merupakan masalah kronis bagi pengendara sepeda motor, terutama saat pagi hari, cuaca hujan, atau di lingkungan yang lembap. Selain embun, endapan kotoran, minyak, debu, dan penggunaan kain yang tidak tepat saat membersihkan juga dapat mengurangi kejernihan visor, menyebabkan pandangan terganggu. Ahmad M, pegiat dari Komunitas Belajar Helm, mengidentifikasi embun sebagai hasil pertemuan suhu panas dan dingin di balik visor, yang mengganggu visibilitas.
Untuk mengoptimalkan visibilitas dan menekan risiko kecelakaan, perawatan kaca helm yang tepat menjadi krusial. Langkah pertama adalah pembersihan rutin dan berkala. Visor sebaiknya dilepaskan dari helm jika memungkinkan untuk pembersihan yang lebih menyeluruh. Basuh kaca helm dengan air bersih untuk menghilangkan debu dan kotoran. Gunakan sabun cuci piring ringan, sabun khusus pembersih kaca helm, atau sampo bayi, dioleskan dengan kain mikrofiber yang lembut atau spons. Bilas hingga bersih dan keringkan dengan lap chamois (kanebo) atau kain lembut lainnya untuk mencegah bercak air. Penting untuk menghindari penggunaan bahan kimia keras seperti pembersih kaca rumah tangga atau alkohol, karena dapat merusak lapisan anti-UV atau anti-fog bawaan pabrik pada visor.
Inovasi teknologi juga menawarkan solusi jangka panjang. Pemasangan Pinlock, sebuah lapisan anti-embun yang ditempelkan di bagian dalam visor, bekerja dengan menciptakan ruang udara terisolasi untuk menjaga suhu tetap stabil dan mencegah kondensasi. Fulvio Crivelli, Responsabile Commerciale & Marketing Suomy Motorsport Srl, menjelaskan bahwa lapisan anti-fog khusus dapat direkatkan pada visor, meskipun memerlukan waktu hingga 30 detik untuk beradaptasi dengan perubahan cuaca ekstrem. Produk cairan anti-fog dan semprotan anti-fog tersedia di pasaran, dapat diaplikasikan pada permukaan dalam kaca helm untuk mencegah kondensasi uap air. Pengaplikasiannya harus dengan teknik tepuk-tepuk lembut atau gerakan memutar halus agar tidak merusak lapisan anti-fog bawaan. Selain itu, teknologi nano coating juga mulai diterapkan untuk menciptakan lapisan hidrofobik yang efektif menolak air dan embun. Dalam kondisi darurat atau tanpa produk khusus, krim cukur atau pasta gigi juga dapat digunakan sebagai solusi sementara untuk mengurangi embun dengan mengoleskannya secara merata dan mengelapnya hingga bersih.
Selain perawatan, praktik berkendara yang aman juga sangat ditekankan. Ketika visibilitas menurun drastis, misalnya saat hujan lebat atau kabut, para ahli keselamatan berkendara seperti Sony Susmana, Training Director Safety Defensive Consultant, dan Jusri Pulubuhu, Founder & Training Director Jakarta Defensive Driving and Consulting (JDDC), menyarankan pengendara untuk segera mengurangi kecepatan dan mencari tempat berhenti yang aman jika gangguan visibilitas lebih dari 40 persen. Jarak pandang minimal 10-15 meter harus dipertahankan.
Meskipun Indonesia memiliki regulasi yang mewajibkan penggunaan helm Standar Nasional Indonesia (SNI), sikap dan perilaku pengendara terhadap aturan ini masih menjadi tantangan. Penggunaan helm yang sesuai standar dapat menurunkan risiko cedera kepala hingga 70%. Cedera kepala menjadi penyebab utama kematian pada kecelakaan sepeda motor. Oleh karena itu, perawatan kaca helm yang optimal bukan sekadar kenyamanan, melainkan bagian integral dari upaya keselamatan berkendara yang lebih luas, sejalan dengan penegakan hukum dan edukasi keselamatan jalan yang terus digalakkan. Kaca helm yang bersih dan bebas buram memungkinkan pengendara untuk melihat kondisi sekitar dengan baik dan merespons potensi bahaya di jalan secara cepat, meminimalisir kontribusi faktor manusia akibat penglihatan terbatas dalam insiden lalu lintas.