Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Prioritas Jaringan: Menkomdigi Meutya Pacu Pemulihan di Aceh Tamiang-Gayo Lues

2025-12-31 | 07:35 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2025-12-31T00:35:10Z
Ruang Iklan

Prioritas Jaringan: Menkomdigi Meutya Pacu Pemulihan di Aceh Tamiang-Gayo Lues

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid telah menetapkan Kabupaten Aceh Tamiang dan Gayo Lues sebagai area prioritas utama dalam upaya percepatan pemulihan jaringan telekomunikasi pascabencana banjir yang melanda wilayah Aceh dan sekitarnya. Pernyataan ini disampaikan Meutya di Aceh Tamiang pada Minggu, 28 Desember 2025, menyoroti bahwa kedua wilayah tersebut, bersama dengan Bener Meriah, masih tertinggal dalam capaian pemulihan jaringan dibandingkan daerah lain di provinsi tersebut.

Inisiatif ini muncul setelah kerusakan masif pada infrastruktur telekomunikasi akibat banjir dan tanah longsor di Sumatera, yang merusak ribuan menara Base Transceiver Station (BTS) dan jalur serat optik. Meskipun pemulihan jaringan di seluruh Aceh secara umum telah mencapai angka di atas 90 persen, bahkan 95 persen untuk konektivitas dan 91 persen untuk uptime optimal per 28 Desember 2025, Aceh Tamiang dan Gayo Lues masih berkisar antara 60 hingga 80 persen. Kesenjangan ini terutama disebabkan oleh ketergantungan pada pasokan listrik yang belum stabil dari PLN, memaksa operator untuk mengandalkan genset dan baterai.

Meutya Hafid, didampingi oleh mitra dari Kementerian Komdigi seperti operator seluler Telkomsel, XL, dan Indosat, serta Lembaga Penyiaran Publik RRI, TVRI, dan LKBN Antara, meninjau langsung menara BTS yang rusak di Desa Tanah Terban, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang. Komitmen ini sejalan dengan instruksi Presiden Prabowo Subianto kepada jajaran kabinetnya untuk mempercepat pemulihan di sektor masing-masing sebelum pergantian tahun, memastikan konektivitas internet dan seluler pulih sepenuhnya menjelang 2026.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria juga mengapresiasi upaya cepat TelkomGroup dalam memulihkan jaringan telekomunikasi di Aceh Tamiang, yang telah mencapai lebih dari 80 persen dan ditargetkan meningkat hingga 90 persen pada 27 Desember 2025. Nezar menekankan bahwa pemulihan jaringan telekomunikasi tidak hanya sekadar mengembalikan konektivitas, melainkan fondasi vital bagi kebangkitan aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat pascabencana. Operator seperti Indosat Ooredoo Hutchison melaporkan telah memulihkan 92% jaringannya di Aceh, termasuk Aceh Tamiang, dengan langkah-langkah teknis seperti penggantian perangkat, perbaikan serat optik, instalasi genset, dan bahkan alternatif transmisi satelit di wilayah yang belum terhubung serat optik. Telkomsel juga mencatatkan progres signifikan dengan lebih dari 90 persen jaringannya di Aceh kembali beroperasi.

Kesenjangan digital yang terjadi di daerah terpencil seperti Aceh Tamiang dan Gayo Lues menyoroti tantangan mendasar dalam pemerataan akses teknologi di Indonesia, sebuah negara kepulauan dengan topografi beragam. Tanpa infrastruktur yang memadai dan pasokan listrik stabil, warga di wilayah ini kesulitan mengakses informasi darurat, layanan publik, dan bahkan komunikasi keluarga, yang krusial pascabencana. Dampak jangka panjang dari kesenjangan ini mencakup hambatan dalam pendidikan, ekonomi, dan partisipasi sosial, membatasi potensi generasi muda serta pembangunan daerah. Pemerintah melalui Komdigi, bersama operator telekomunikasi dan lembaga lain, terus berkoordinasi untuk memastikan tidak ada wilayah yang terisolasi secara digital, meskipun tantangan geografis dan logistik tetap menjadi perhatian utama dalam mewujudkan konektivitas yang inklusif dan berkelanjutan.