
Ribuan pelanggan IndiHome di berbagai wilayah Indonesia mengalami gangguan layanan internet pada pertengahan Januari 2026, memicu gelombang keluhan di platform media sosial seperti X (sebelumnya Twitter) dan Facebook. Gangguan yang dilaporkan terjadi secara sporadis mulai 15 Januari, dengan puncak keluhan pada 17 Januari 2026, mempengaruhi aktivitas bekerja dari rumah, pembelajaran daring, dan bisnis daring, serta menyoroti kerentanan infrastruktur telekomunikasi nasional.
Telkom Indonesia, sebagai induk usaha IndiHome, mengonfirmasi adanya "penyesuaian jaringan" yang berdampak pada sebagian pelanggan di beberapa area, tanpa merinci penyebab spesifik maupun durasi penuh pemulihan. Vice President Corporate Communication Telkom, Pujo Sudiro, dalam pernyataan tertulisnya pada 18 Januari 2026, meminta maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan dan menyatakan tim teknis sedang berupaya mempercepat normalisasi layanan. Namun, ia tidak memberikan data spesifik mengenai jumlah pelanggan yang terdampak atau estimasi waktu perbaikan menyeluruh. Masyarakat mengeluhkan tidak hanya terputusnya koneksi, tetapi juga kecepatan internet yang jauh di bawah standar yang dijanjikan setelah gangguan.
Insiden ini bukan kali pertama IndiHome, penyedia layanan internet terbesar di Indonesia dengan lebih dari 9,2 juta pelanggan per kuartal ketiga 2025, menghadapi keluhan masif terkait gangguan layanan. Pada Agustus 2023, layanan IndiHome juga mengalami gangguan luas akibat putusnya kabel bawah laut Sistem Komunikasi Kabel Laut Jawa, Sumatera dan Kalimantan (SKKL Jasuka) ruas Batam-Pontianak, yang membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk pemulihan total. Serupa, pada tahun 2021, gangguan serupa melanda akibat putusnya SKKL JaKaLaWa. Pola gangguan berulang ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai keandalan infrastruktur jaringan Telkom Group dan strategi mitigasi risiko mereka.
Analis telekomunikasi dari Universitas Indonesia, Dr. Aris Widodo, menyatakan bahwa frekuensi gangguan signifikan pada penyedia layanan internet dominan seperti IndiHome menunjukkan kebutuhan mendesak untuk diversifikasi jalur jaringan dan peningkatan redundansi sistem. "Ketergantungan yang tinggi pada satu atau beberapa jalur utama, terutama kabel bawah laut, membuat seluruh sistem rentan terhadap satu titik kegagalan," ujarnya pada 19 Januari 2026. Ia menambahkan bahwa pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) perlu memperketat pengawasan terhadap standar kualitas layanan (SLA) yang ditawarkan penyedia jasa internet dan menerapkan sanksi yang lebih tegas jika tidak terpenuhi. Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), rata-rata kecepatan internet di Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara-negara tetangga di Asia Tenggara, dengan penetrasi internet mencapai 82,7% dari total populasi pada awal 2025. Gangguan berkepanjangan dapat menghambat produktivitas ekonomi digital yang diproyeksikan mencapai US$146 miliar pada tahun 2025.
Dampak langsung dari gangguan layanan ini melampaui sekadar ketidaknyamanan individu. Bisnis kecil dan menengah (UKM) yang sangat bergantung pada konektivitas internet untuk transaksi, pemasaran, dan operasional harian sering kali menanggung kerugian finansial yang signifikan. Sektor pendidikan daring, yang masih relevan pasca-pandemi, juga terganggu, memperlebar potensi kesenjangan digital. Keluhan netizen yang terus-menerus juga mencerminkan frustrasi terhadap respons pelanggan yang dinilai lambat dan kurang transparan dari pihak penyedia layanan. Pemerintah telah mendorong pemerataan akses internet melalui proyek Palapa Ring, namun ketersediaan dan kualitas infrastruktur "last mile" serta keandalan jaringan utama tetap menjadi tantangan krusial. Ke depan, tekanan akan terus meningkat bagi Telkom untuk tidak hanya memperluas jangkauan tetapi juga secara fundamental meningkatkan resiliensi dan kualitas layanan demi mendukung pertumbuhan ekonomi digital Indonesia yang berkelanjutan. Regulator memiliki peran krusial dalam memastikan akuntabilitas penyedia layanan dan melindungi hak-hak konsumen di tengah lanskap telekomunikasi yang semakin kompleks.