Notification

×

Iklan

Iklan

Tagar Terpopuler

Ancaman Diam Highway Hypnosis: Tetap Fokus Berkendara, Selamatkan Diri dari Celaka

2026-01-19 | 11:06 WIB | 0 Dibaca Last Updated 2026-01-19T04:06:46Z
Ruang Iklan

Ancaman Diam Highway Hypnosis: Tetap Fokus Berkendara, Selamatkan Diri dari Celaka

Pengemudi kendaraan bermotor di seluruh dunia menghadapi ancaman laten yang sering disalahartikan sebagai kelelahan biasa: highway hypnosis. Fenomena ini, yang secara ilmiah kini dikenal sebagai "Driving Without Attention Mode" (DWAM), menyebabkan hilangnya kesadaran sesaat saat mengemudi di jalur monoton, berpotensi memicu kecelakaan fatal meski pengemudi tidak merasa mengantuk. Setiap tahun, ribuan insiden lalu lintas dikaitkan dengan kelalaian manusia, termasuk kondisi seperti highway hypnosis, menimbulkan kerugian jiwa dan materi yang signifikan.

Highway hypnosis adalah kondisi mental di mana pengemudi secara fisik tetap mengoperasikan kendaraan, namun kesadarannya teralihkan atau masuk ke mode "autopilot", menyebabkan hilangnya ingatan akan beberapa bagian perjalanan yang baru dilalui. Meski berbeda dari microsleep yang merupakan tidur singkat, highway hypnosis dapat diperparah oleh kelelahan dan kurang tidur. Kondisi ini pertama kali dideskripsikan sebagai "road hypnotism" pada tahun 1921 dan istilah "highway hypnosis" sendiri diciptakan oleh G.W. Williams pada tahun 1963. Otak cenderung mengurangi kewaspadaan pada rute panjang dengan sedikit variasi visual atau tikungan tajam, membuat sistem okular motorik lebih bergantung pada prediksi mental daripada stimulus visual nyata.

Data menunjukkan bahwa kelalaian pengemudi menjadi penyebab utama kecelakaan lalu lintas. Di Indonesia, data Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri mencatat 152.008 kasus kecelakaan sepanjang tahun 2023 yang mengakibatkan 27.896 korban jiwa, dengan faktor manusia menyumbang 61% dari penyebab kecelakaan tersebut, termasuk mengantuk dan kurang perhatian. Sepanjang tahun 2023, Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) mencatat 133.796 insiden kecelakaan dengan 24.437 korban meninggal, rata-rata 66 korban setiap hari. Sementara itu, menurut Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), sekitar 60% kecelakaan kendaraan darat pada tahun 2024-2025 di Indonesia disebabkan oleh faktor kelelahan atau rasa kantuk saat mengemudi. Angka-angka ini menyoroti betapa berbahayanya kondisi berkurangnya kewaspadaan, sekecil apa pun, di jalan raya.

Penyebab utama highway hypnosis adalah monotonnya kondisi jalan, seperti jalan tol lurus dan panjang tanpa banyak perubahan pemandangan, yang menyebabkan otak kurang terstimulasi. Durasi perjalanan yang panjang tanpa istirahat juga sangat berkontribusi, bahkan pengemudi yang cukup istirahat pun bisa mengalaminya. Gejala highway hypnosis bervariasi, namun umumnya meliputi kehilangan ingatan sesaat akan bagian perjalanan, respons yang lambat terhadap situasi darurat, tatapan kosong atau pandangan melayang, kelopak mata terasa berat, pikiran melayang, atau merasa linglung. Kondisi ini dapat menyebabkan pengemudi melewatkan rambu lalu lintas atau pintu keluar yang seharusnya.

Untuk memitigasi risiko fatal akibat highway hypnosis, para ahli keselamatan berkendara merekomendasikan serangkaian tindakan pencegahan proaktif. Pertama, pengemudi harus memastikan istirahat yang cukup sebelum memulai perjalanan. Kedua, istirahat secara berkala adalah kunci; idealnya, berhenti setiap 2-3 jam selama 15-30 menit untuk meregangkan badan dan menyegarkan pikiran. Dede Nasrullah, Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) UM Surabaya, menyarankan komunikasi sederhana dengan penumpang untuk menghindari kebosanan, serta mengonsumsi kafein atau camilan ringan untuk menjaga fokus.

Selain itu, menjaga keberagaman stimulasi visual sangat penting; alihkan pandangan sesekali ke kaca spion atau pemandangan di sekitar jalan. Mendengarkan musik yang energik atau siniar juga dapat membantu menjaga perhatian, namun hindari volume terlalu keras yang bisa mengganggu konsentrasi. Mengatur suhu kabin agar tetap sejuk juga dapat membantu mencegah rasa kantuk. Penting pula untuk menghindari pemikiran yang teralihkan dari aktivitas mengemudi, seperti masalah pekerjaan atau rumah tangga, sebab pikiran yang teralihkan hanya selama 2 detik pada kecepatan 80 km/jam dapat menyebabkan pengemudi kehilangan kendali sejauh 44 meter.

Dalam konteks yang lebih luas, kecelakaan lalu lintas, yang seringkali dipicu oleh faktor manusia seperti highway hypnosis, menimbulkan dampak sosial dan ekonomi yang masif. Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Perhubungan menunjukkan bahwa dampak ekonomi akibat kecelakaan mencapai miliaran rupiah setiap tahun, termasuk kerugian materi dan penurunan produktivitas. Korban meninggal yang sebagian besar berusia produktif, meninggalkan dampak domino berupa kehilangan tulang punggung keluarga, risiko putus sekolah bagi anak-anak, dan tekanan hidup baru bagi para janda atau duda. Oleh karena itu, kesadaran dan langkah pencegahan terhadap highway hypnosis bukan hanya masalah keamanan individu, melainkan juga bagian integral dari upaya kolektif untuk menjaga kesehatan masyarakat dan stabilitas ekonomi. Kemajuan teknologi kendaraan, seperti fitur Advanced Driver-Assistance Systems (ADAS) yang mencakup Safe Distance Warning (SDW) dan Lane Departure Warning (LDW), juga dapat menjadi lapisan pertahanan tambahan dalam mendeteksi dan memperingatkan pengemudi yang mulai kehilangan fokus. Namun, teknologi hanyalah alat; kewaspadaan aktif pengemudi tetap menjadi benteng terdepan melawan ancaman tak kasat mata di jalan raya.