
Tehran secara agresif meningkatkan taktik perang elektroniknya untuk mengganggu layanan internet satelit Starlink milik SpaceX di seluruh Iran, bertepatan dengan meluasnya protes anti-pemerintah sejak awal Januari 2026. Langkah ini mencerminkan upaya yang belum pernah terjadi sebelumnya oleh pemerintah Iran untuk membungkam disiden dan mengontrol aliran informasi. Pihak berwenang menggunakan jammer satelit tingkat militer dan teknik spoofing GPS, yang menyebabkan gangguan signifikan pada konektivitas Starlink, dengan beberapa wilayah mengalami kehilangan paket data hingga 80%.
Sejak protes pecah setelah kematian Mahsa Amini pada Desember 2022, Starlink muncul sebagai jalur komunikasi penting bagi warga Iran untuk melewati pemadaman internet yang diberlakukan pemerintah dan berbagi informasi dengan dunia luar. Elon Musk, CEO SpaceX, telah berulang kali mengonfirmasi keberadaan terminal Starlink di Iran, meskipun layanan tersebut tidak memiliki lisensi untuk beroperasi di negara itu. Pada Desember 2022, Musk menyatakan hampir 100 terminal Starlink aktif di Iran, dan saat ini diperkirakan lebih dari 50.000 unit telah diselundupkan ke negara tersebut. Pemerintah Iran telah menanggapi dengan mengeluarkan undang-undang yang melarang penggunaan Starlink, memperkenalkan hukuman berat bagi mereka yang menggunakan atau mendistribusikan teknologi tanpa izin ini.
Sejarah sensor internet di Iran sudah berlangsung lama, dengan pemerintah secara konsisten membatasi akses dan memantau lalu lintas internet untuk menekan perbedaan pendapat. Metode sebelumnya termasuk membatasi kecepatan internet, memblokir situs web populer seperti YouTube, Twitter, Facebook, dan Telegram, serta menerapkan "daftar putih" untuk akses internet yang terbatas. Namun, gangguan Starlink menandai eskalasi yang signifikan dalam strategi perang elektronik Iran, yang sebelumnya dianggap di luar kendali negara. Amir Rashidi, direktur keamanan internet dan hak digital di Miaan Group, mencatat bahwa tingkat gangguan ini belum pernah terjadi dalam 20 tahun penelitiannya, menunjukkan kecanggihan teknologi militer yang kemungkinan besar dipasok oleh Rusia atau Cina, atau dikembangkan secara domestik.
Taktik Iran melibatkan penggunaan jammer satelit untuk mengganggu sinyal Starlink dan spoofing sinyal GPS palsu untuk membingungkan serta menonaktifkan terminal Starlink. Spoofing GPS mengacaukan koneksi terminal, secara drastis memperlambat kecepatan internet. Nariman Gharib, seorang aktivis oposisi Iran dan penyelidik spionase siber independen, menyatakan bahwa meskipun pengguna mungkin dapat mengirim pesan teks, panggilan video menjadi tidak mungkin. Holistic Resilience, sebuah organisasi nirlaba AS yang membantu mengirimkan terminal Starlink ke Iran, bekerja sama dengan SpaceX untuk memantau upaya gangguan Iran. SpaceX dilaporkan telah merilis pembaruan firmware untuk melawan upaya jamming, menunjukkan "permainan kucing dan tikus" yang sedang berlangsung antara Starlink dan upaya gangguan Iran.
Starlink, dengan konstelasi sekitar 10.000 satelit orbit rendah, dirancang agar sulit di-jam. Namun, keberhasilan Iran dalam mengganggu layanan secara nasional telah menetapkan preseden strategis dalam perang informasi modern. Para ahli memperingatkan bahwa operasi penolakan satelit yang berkepanjangan dapat menjadi praktik standar bagi rezim untuk menekan kerusuhan tanpa kekerasan yang terlihat, yang dapat menarik intervensi internasional. Bagi perencana pertahanan di seluruh dunia, pelajaran ini menunjukkan bahwa sistem satelit harus diperlakukan sebagai infrastruktur yang diperebutkan daripada jalur penyelamat yang dijamin.
Implikasi jangka panjang dari konflik ini melampaui akses internet. Ini menyoroti pergeseran dalam kendali informasi di mana dominasi elektromagnetik yang dikendalikan negara mengesampingkan janji konektivitas digital tanpa batas. Meskipun Starlink mungkin mengejar tindakan balasan seperti sistem penentuan posisi alternatif atau teknologi anti-jamming, solusi ini memerlukan waktu, investasi, dan persetujuan regulasi. Sementara itu, upaya Iran untuk mempertahankan isolasi informasi berisiko menimbulkan reaksi balik jangka panjang, karena kegelapan digital total secara historis memicu kebencian yang lebih dalam dan mempercepat permintaan akan teknologi yang tidak diatur di luar pengawasan negara.
Komunitas internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, juga terlibat. Iran telah mengajukan keluhan kepada International Telecommunication Union (ITU) PBB pada tahun 2023, dengan alasan bahwa penggunaan Starlink di negara tersebut adalah ilegal karena tidak memiliki lisensi, dan ITU memutuskan mendukung Iran. Meskipun demikian, pemerintah AS, termasuk Presiden Donald Trump, telah menyatakan dukungan untuk membantu warga Iran mengakses Starlink dan telah mempertimbangkan opsi untuk melawan pemadaman internet Iran.
Ketegangan antara kebebasan digital dan kedaulatan negara terus meningkat, dengan Iran yang secara efektif mendemonstrasikan bahwa perang elektronik dapat berfungsi sebagai alat tata kelola domestik, mengaburkan perbedaan antara operasi militer dan keamanan internal. Situasi ini juga menarik perhatian dari negara-negara seperti Cina, yang layanan satelitnya mungkin akan bersaing dengan Starlink, dan yang memantau keefektifan Starlink dalam menahan upaya gangguan. Dengan sekitar 40.000 hingga 50.000 pelanggan Starlink di Iran, dan laporan bahwa Starlink telah menawarkan layanan gratis untuk pengguna di sana, pertempuran untuk kontrol spektrum elektromagnetik terus berlanjut.