
PT Ketrosden Triasmitra Tbk, melalui anak usahanya PT Jejaring Mitra Persada, bersama PT Mora Telematika Indonesia Tbk (Moratelindo), secara resmi memulai pengerjaan Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) Rising 8. Proyek infrastruktur strategis ini akan membentang sepanjang 1.128,5 kilometer, menghubungkan Jakarta, Batam, dan Singapura, dalam upaya signifikan untuk meningkatkan kapasitas dan keandalan konektivitas internet di Indonesia. Pembangunan segmen Jakarta-Batam, sepanjang 1.053,5 kilometer, ditargetkan rampung pada akhir kuartal pertama 2026, dengan keseluruhan sistem diharapkan beroperasi pada April 2026.
Proyek SKKL Rising 8 dirancang untuk menopang 16 pasang serat optik, dengan kapasitas lebih dari 25 Terabit per detik (Tbps) per pasang, menghasilkan kapasitas sistem total (end-to-end) lebih dari 400 Tbps. Direktur Utama Triasmitra, Titus Dondi, menegaskan bahwa infrastruktur ini memiliki kapasitas terbesar di Indonesia, menandai "era baru kemandirian Indonesia di sektor infrastruktur kabel laut." Sistem ini menggunakan teknologi kabel laut berulang (repeatered submarine cable system) dengan repeater aktif dan Dense Wavelength Division Multiplexing (DWDM). Kabel bawah laut diproduksi oleh Norddeutsche Seekabelwerke GmbH (NSW) dari Jerman dan mengintegrasikan 11 unit repeater berteknologi tinggi dari Alcatel Submarine Networks (ASN) dari Prancis. Nilai investasi proyek ini diperkirakan mencapai sekitar 350 juta dolar AS untuk jalur Jakarta–Batam dan 80 juta dolar AS untuk jalur Jakarta–Singapura.
Inisiatif Triasmitra ini muncul di tengah tantangan berkelanjutan Indonesia dalam membangun infrastruktur internet yang merata dan cepat di seluruh kepulauan. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 17.000 pulau, Indonesia menghadapi kerumitan geografis yang luar biasa, menyebabkan perbedaan signifikan dalam akses dan kualitas internet antara wilayah perkotaan dan pedesaan. Data menunjukkan bahwa pada Januari 2024, Indonesia menempati peringkat ke-101 dari 141 negara untuk kecepatan internet seluler dengan kecepatan unduh median 24,53 Mbps, dan peringkat ke-126 dari 181 negara untuk kecepatan internet fixed-broadband dengan kecepatan unduh median 28,34 Mbps, masih tertinggal dari beberapa negara tetangga di Asia Tenggara. Meskipun demikian, penetrasi internet di Indonesia telah mencapai 79,5% dari total populasi pada tahun 2023, dengan 221,5 juta pengguna.
Pemerintah Indonesia telah menggariskan visi "Indonesia Emas 2045" dan "Digital Indonesia Roadmap 2021-2024" yang menekankan modernisasi infrastruktur digital untuk mendorong transformasi digital nasional. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menyatakan fokus pada pengembangan infrastruktur selama periode 2025-2029 untuk mencapai "konektivitas bermakna," yang tidak hanya menyediakan akses tetapi juga memastikan kualitas dan keandalan yang tinggi. Hingga tahun 2024, 14.418 titik akses internet telah didirikan di berbagai daerah, termasuk 6.062 untuk sektor pendidikan.
Implementasi kabel laut berkapasitas tinggi seperti SKKL Rising 8 sangat penting untuk ekonomi digital Indonesia yang berkembang pesat. Kabel bawah laut berfungsi sebagai tulang punggung global internet, memfasilitasi komunikasi internasional dan transfer data, serta mendukung sektor-sektor seperti e-commerce, fintech, layanan kesehatan digital, dan pembelajaran jarak jauh. Sebuah laporan oleh Analysys Mason memproyeksikan bahwa investasi kabel bawah laut dapat meningkatkan jumlah pengguna internet di Indonesia sebesar 35%, mengurangi latensi hingga 14 milidetik, dan meningkatkan bandwidth internet sebesar 34%. Proyek ini juga akan bertindak sebagai jalur alternatif untuk penyedia Layanan Gerbang Akses Internet (NAP) domestik maupun internasional, yang krusial untuk menjaga stabilitas dan keandalan infrastruktur digital.
Namun, tantangan dalam pengembangan dan pemeliharaan infrastruktur kabel laut tetap ada, termasuk biaya tinggi, kompleksitas geografis, dan kerangka regulasi yang rumit yang dapat menunda perbaikan. Insiden seperti kerusakan kabel Jasuka pada September 2021, yang menyebabkan perlambatan internet di kota-kota besar selama sebulan, menyoroti pentingnya redundansi dan kapasitas perbaikan yang efisien. Upaya Triasmitra dengan SKKL Rising 8, yang menggunakan kapal penggelar kabel berbendera Indonesia, CLV Bentang Bahari, diharapkan dapat memperkuat kemandirian operasional dan kapasitas perawatan domestik. Setelah proyek ini, Triasmitra berencana untuk melanjutkan pengembangan SKKL Indonesia Tengah sepanjang 8.732 kilometer, dengan target komersialisasi pada tahun 2027, untuk semakin memperkuat konektivitas di seluruh nusantara.