
Telkomsat, anak perusahaan PT Telkom Indonesia yang bergerak di bidang layanan satelit, mengumumkan kemitraan strategis dengan China Telecom Global (CTG) untuk memperkuat infrastruktur dan layanan internet satelit di seluruh wilayah Indonesia, dengan fokus utama pada percepatan pemerataan akses di daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T). Kolaborasi ini, yang diresmikan dalam beberapa bulan terakhir, bertujuan untuk memanfaatkan teknologi satelit canggih dan kapasitas jaringan global CTG guna mengatasi kesenjangan digital yang persisten di lebih dari 12.500 desa yang belum terjangkau internet serat optik atau seluler 4G/5G. Langkah ini menandai peningkatan signifikan dalam upaya nasional untuk memperluas jangkauan konektivitas dan mendukung agenda transformasi digital Indonesia.
Kerja sama ini berakar pada kebutuhan mendesak akan konektivitas yang andal di daerah 3T, di mana geografi kepulauan Indonesia menjadi tantangan utama bagi pembangunan infrastruktur terestrial. Meskipun pemerintah Indonesia telah gencar membangun jaringan serat optik Palapa Ring dan memperluas cakupan seluler, lebih dari 12.000 desa masih menghadapi kendala akses internet yang memadai. Satelit menjadi solusi paling praktis dan ekonomis untuk menjangkau komunitas terpencil yang sulit dijangkau oleh infrastruktur darat, terutama untuk mendukung sektor-sektor krusial seperti pendidikan, kesehatan, dan administrasi pemerintahan daerah. Telkomsat, sebagai penyedia layanan satelit utama di Indonesia, telah berinvestasi dalam satelit berkapasitas tinggi seperti Satelit Merah Putih 2 (Nusantara H-1R) untuk meningkatkan kapasitas. Namun, kemitraan dengan CTG memungkinkan Telkomsat untuk mengakses portofolio teknologi dan solusi satelit yang lebih luas, termasuk kapasitas satelit tambahan dan keahlian operasional dari salah satu operator telekomunikasi terbesar di dunia.
Implikasi jangka panjang dari kerja sama ini diharapkan mencakup percepatan pembangunan ekonomi lokal dan peningkatan kualitas hidup di daerah 3T. Akses internet yang lebih baik dapat memfasilitasi e-commerce bagi UMKM, mendukung telemedicine, serta menyediakan sumber daya pendidikan digital yang sangat dibutuhkan. Namun, di sisi lain, peningkatan keterlibatan operator telekomunikasi asing, khususnya dari Tiongkok, dalam infrastruktur digital nasional juga memunculkan diskusi mengenai isu kedaulatan data dan keamanan siber. Para pengamat industri dan pakar keamanan siber menyoroti pentingnya kerangka regulasi yang kuat untuk memastikan bahwa transfer teknologi dan operasional mematuhi standar keamanan tertinggi dan tidak mengkompromikan data strategis nasional. Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), telah menyatakan komitmennya untuk memastikan keamanan siber dalam setiap proyek infrastruktur strategis, termasuk yang melibatkan kemitraan internasional. Keberhasilan implementasi proyek ini akan menjadi barometer bagi model kemitraan serupa di masa depan, sekaligus menguji kemampuan Indonesia dalam menyeimbangkan kebutuhan akan teknologi maju dengan kepentingan keamanan nasional di tengah lanskap geopolitik dan teknologi yang terus berkembang.