:strip_icc()/kly-media-production/medias/5401136/original/069644400_1762157936-Samsung_galaxy_s26__Doc.Gizmochina_.jpg)
Samsung menghadapi tantangan serius dalam penetapan harga seri Galaxy S26 yang akan datang, seiring lonjakan signifikan biaya komponen utama akibat krisis chip global yang dipicu oleh permintaan kecerdasan buatan (AI) yang masif. Para analis industri dan laporan pasar mengindikasikan bahwa harga rata-rata penjualan (ASP) smartphone secara global berpotensi naik antara 3 hingga 8 persen pada tahun 2026, dengan perangkat kelas atas seperti Galaxy S26 kemungkinan mengalami kenaikan hingga 10 persen. Situasi ini memaksa produsen ponsel untuk mempertimbangkan kenaikan harga jual, menandai pergeseran fundamental dalam dinamika pasar yang sebelumnya didominasi oleh stabilitas harga.
Krisis semikonduktor, khususnya untuk chip memori seperti DRAM dan NAND, telah memasuki fase kritis. Permintaan yang belum pernah terjadi sebelumnya dari pusat data AI telah mengalihkan sebagian besar kapasitas produksi dari segmen elektronik konsumen. Menurut IDC, ekosistem semikonduktor global mengalami kelangkaan chip memori yang diperkirakan akan berlanjut hingga tahun 2027. Produsen chip besar dunia, termasuk Samsung dan SK Hynix, memprioritaskan pasokan memori bandwidth tinggi (HBM) dan DDR5 untuk server AI, yang menawarkan margin keuntungan jauh lebih besar dibandingkan komponen untuk smartphone. Micron Technology bahkan telah mengurangi fokusnya pada bisnis memori konsumen demi memenuhi kebutuhan pusat data AI.
Dampak langsung terlihat pada peningkatan biaya komponen. Harga DRAM melonjak tajam pada akhir tahun 2025 dan diproyeksikan naik lagi sebesar 20 persen pada awal tahun 2026. Beberapa laporan mencatat kenaikan harga chip memori Samsung mencapai 30 hingga 60 persen antara September dan November 2025. Selain memori, biaya modul kamera, salah satu komponen termahal, naik sekitar 8 persen, dan harga chipset juga meningkat sekitar 12 persen. Secara keseluruhan, biaya material (Bill of Materials/BOM) untuk smartphone kelas bawah telah meningkat 20 hingga 30 persen sejak awal 2025, sementara untuk ponsel kelas menengah dan flagship mengalami kenaikan 10 hingga 15 persen.
Samsung Electronics Indonesia mengakui dinamika harga komponen global ini menjadi faktor penting. MX Product Marketing Senior Manager Samsung Electronics Indonesia, Ilham Indrawan, menyatakan bahwa perusahaan masih melakukan kajian menyeluruh dan belum mengambil keputusan final terkait penyesuaian harga untuk tahun 2026. Ia menambahkan bahwa Samsung tetap berkomitmen untuk menjaga nilai yang diterima konsumen sebagai prioritas utama. Meskipun Samsung dikenal dengan integrasi vertikalnya, di mana perusahaan memproduksi banyak komponen internal, mereka tidak sepenuhnya kebal terhadap kenaikan biaya global. Laporan juga menyebutkan Samsung tengah menghadapi tantangan signifikan dalam menetapkan harga Galaxy S26, mempertimbangkan lonjakan biaya komponen dan tekanan pasar yang kian kuat menjelang peluncuran yang direncanakan pada awal 2026, atau bahkan berpotensi mundur hingga Maret 2026. Seri Galaxy S26 diperkirakan akan tetap menggunakan kombinasi chipset Snapdragon dan Exynos, yang keduanya juga menghadapi peningkatan biaya produksi.
Implikasi jangka panjang dari krisis ini melampaui sekadar kenaikan harga. Firma riset Counterpoint memproyeksikan pengiriman smartphone global akan menurun sebesar 2,1 persen pada tahun 2026, sementara IDC memprediksi penurunan sebesar 0,9 persen, sebagai respons konsumen terhadap harga yang lebih tinggi dan siklus penggantian perangkat yang lebih panjang. Produsen smartphone lainnya, seperti Apple dan Xiaomi, juga telah merasakan dampak serupa dan telah menaikkan harga model flagship mereka atau mengisyaratkan penyesuaian harga. Segmen pasar entry-level diprediksi menjadi yang paling terpukul karena margin keuntungan yang tipis, mendorong beberapa produsen untuk beralih fokus ke perangkat kelas menengah dan premium guna mempertahankan profitabilitas. Kondisi ini menandai berakhirnya era memori dan penyimpanan murah, setidaknya dalam jangka menengah, dengan teknologi yang diperkirakan menjadi lebih mahal pada tahun 2026 karena kendala pasokan daripada pertumbuhan permintaan.