:strip_icc()/kly-media-production/medias/5374025/original/021228500_1759836671-IMG_20251007_150333_037.jpg)
Pertarungan sengit di segmen ponsel Android kelas menengah Indonesia semakin memanas dengan kehadiran seri Oppo A6 dan A6 Pro, yang kini dibanderol mulai dari Rp 1,5 jutaan hingga Rp 4,4 jutaan. Oppo A6x, varian termurah, hadir dengan harga mulai Rp 1.599.000 (4GB/64GB) dan mencapai Rp 2.699.000 (6GB/256GB), sedangkan Oppo A6 ditawarkan seharga Rp 2.899.000 (6GB/128GB) dan Rp 3.299.000 (6GB/256GB). Sementara itu, Oppo A6 Pro dijual mulai Rp 3.799.000 (8GB/128GB) hingga Rp 4.199.000 (8GB/256GB) untuk versi 4G, dan varian 5G-nya mencapai Rp 4.499.000 (8GB/256GB). Peluncuran seri ini pada Desember 2025, dengan masa pra-pemesanan A6 Pro sejak Oktober 2025, menunjukkan upaya strategis Oppo untuk memperkuat dominasinya di segmen yang krusial ini.
Seri Oppo A6 menonjolkan fitur-fitur seperti baterai berkapasitas besar 7.000 mAh (untuk A6 dan A6 Pro 4G), layar 120Hz, serta sertifikasi ketahanan debu dan air IP66 hingga IP69 pada A6 Pro, bahkan standar militer untuk ketahanan guncangan. Oppo A6 ditenagai chipset Qualcomm Snapdragon 685, sementara A6 Pro hadir dengan MediaTek Helio G100 (4G) atau MediaTek Dimensity 6300 (5G). Fitur pengisian daya cepat SUPERVOOC 45W untuk A6 dan 80W untuk A6 Pro juga menjadi nilai jual utama, memungkinkan pengisian daya yang signifikan dalam waktu singkat.
Langkah Oppo ini relevan dengan dinamika pasar smartphone Indonesia sepanjang 2024, di mana segmen kelas menengah (antara Rp 3,2 juta hingga Rp 9,8 juta) mencatat pertumbuhan kuat sebesar 24,9% secara tahunan, dengan Oppo memimpin segmen tersebut. Meskipun pasar keseluruhan menunjukkan pemulihan dengan pertumbuhan 15,5% sepanjang 2024, didorong oleh segmen ultra low-end, kekhawatiran terhadap ketidakpastian ekonomi global masih membayangi.
Di sisi lain, laporan NIQ periode Januari-September 2025 menunjukkan pergeseran minat konsumen Indonesia menuju perangkat kelas menengah hingga premium, di mana penjualan ponsel di atas Rp5 juta mengalami peningkatan. Konsumen semakin memprioritaskan kualitas, relevansi fitur seperti ketahanan air, dan kepercayaan terhadap merek, daripada sekadar harga. Pergeseran ini menciptakan tantangan bagi produsen di segmen harga lebih rendah yang justru mengalami kontraksi.
Meskipun demikian, prospek pasar ponsel global diprediksi akan menyusut pada tahun 2026, sebagian besar disebabkan oleh lonjakan harga komponen memori RAM. Firma riset TrendForce memperkirakan harga DRAM akan naik tajam, menekan biaya produksi dan berpotensi menyebabkan produsen memangkas kapasitas RAM, terutama pada ponsel kelas menengah dan pemula, demi menjaga harga tetap kompetitif. Hal ini bisa berarti bahwa ponsel kelas menengah yang saat ini menawarkan RAM 12GB berpotensi kembali ke konfigurasi 6GB atau 8GB.
Oleh karena itu, penawaran Oppo A6 dan A6 Pro dengan fitur-fitur unggulan dan harga yang kompetitif di kelasnya dapat menjadi strategi krusial untuk mempertahankan pangsa pasar di tengah fluktuasi ekonomi dan proyeksi kenaikan biaya produksi komponen di masa mendatang. Kehadiran varian 5G pada A6 Pro juga menunjukkan antisipasi Oppo terhadap peningkatan pangsa pasar 5G yang signifikan, yang pada 2024 telah mencapai 25,8% dari 17,1% pada tahun sebelumnya, didorong oleh model baru dan penawaran yang semakin terjangkau. Strategi jangka panjang Oppo di Indonesia, sebagaimana disampaikan oleh Head of PR OPPO Indonesia Baskoro Adiwiyono pada Februari 2024, adalah fokus pada pengembangan produk yang relevan dengan kebutuhan pasar dan upaya pemasaran yang sesuai dengan setiap segmen, terutama kelas menengah yang diprediksi masih akan mendominasi. Wakil Presiden Oppo Indonesia, Patrick Owen, pada November 2025 juga menekankan bahwa perusahaan berkomitmen untuk terus menghadirkan inovasi di semua lini produk, dari flagship hingga entry-level, demi mempertahankan kepercayaan lebih dari 740 juta pengguna globalnya.