
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) melaporkan bahwa pemulihan jaringan telekomunikasi di seluruh Provinsi Aceh telah mencapai angka signifikan, mendekati 98 persen pada awal Januari 2026, menyusul gangguan luas akibat bencana alam dan cuaca ekstrem yang melanda wilayah tersebut. Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, pada 10 Januari 2026, memastikan bahwa mayoritas layanan seluler, data, dan internet kini beroperasi normal kembali, dengan prioritas pemulihan diarahkan untuk mendukung aktivitas ekonomi, pendidikan, dan layanan publik.
Pemulihan cepat ini menandai upaya intensif yang dilakukan Komdigi bersama operator telekomunikasi setelah serangkaian banjir yang menyebabkan kerusakan infrastruktur. Pada Desember 2025, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, sempat melaporkan bahwa hanya 52,4 persen dari total 3.414 menara Base Transceiver Station (BTS) di Aceh yang aktif pada 5 Desember 2025, dengan kendala utama pada pasokan listrik dan aksesibilitas. Progres kemudian melonjak menjadi 80,63 persen pada 19 Desember 2025, dan terus meningkat menjadi sekitar 91 persen pada 28 Desember 2025, meskipun beberapa wilayah seperti Aceh Tamiang dan Gayo Lues masih dalam kisaran 60 hingga 80 persen pemulihan pada akhir tahun.
Telkomsel, salah satu operator utama, secara spesifik mengumumkan telah menuntaskan pemulihan 100 persen infrastruktur jaringannya di seluruh 289 kecamatan di Aceh per 27 Desember 2025, dengan Kecamatan Syiah Utama di Kabupaten Bener Meriah menjadi titik terakhir yang berhasil dipulihkan. Secara keseluruhan, Telkom berhasil memulihkan 99,9% jaringannya di Aceh dan Sumatera pada awal Januari 2026. Sementara itu, upaya kolektif pemerintah dan operator mencakup perbaikan infrastruktur fisik, penguatan pasokan listrik dengan bantuan genset dan baterai, serta optimalisasi perangkat pendukung di lapangan. Kementerian Komunikasi dan Digital juga mengerahkan layanan konektivitas darurat berbasis satelit seperti Starlink untuk mendukung komunikasi di fasilitas-fasilitas krusial seperti rumah sakit dan puskesmas di wilayah terdampak.
Ketersediaan jaringan telekomunikasi yang stabil memiliki implikasi krusial bagi Aceh, yang seringkali rentan terhadap bencana alam. Jaringan komunikasi yang andal tidak hanya memfasilitasi koordinasi bantuan dan layanan darurat pascabencana, tetapi juga mendukung keberlanjutan ekonomi digital dan akses informasi bagi masyarakat. Proyek Palapa Ring, yang telah menghubungkan 514 kota/kabupaten di seluruh Indonesia termasuk Sabang di Aceh, menyediakan tulang punggung serat optik nasional yang vital untuk konektivitas pita lebar. Pemulihan yang hampir menyeluruh ini memungkinkan masyarakat untuk kembali beraktivitas normal, mengakses layanan digital, serta mengurangi risiko isolasi informasi selama dan setelah kejadian darurat.
Meski demikian, tantangan tetap ada dalam menjaga stabilitas dan memperkuat infrastruktur di wilayah 1 persen yang masih belum pulih sepenuhnya, terutama di daerah terpencil dengan akses transportasi yang sulit dan keterbatasan pasokan listrik. Komdigi menargetkan pemulihan jaringan telekomunikasi di Aceh dan Sumatera dapat mencapai 100 persen dalam waktu dekat, sekaligus memperkuat kesiapsiagaan jaringan sebagai langkah mitigasi untuk menghadapi potensi gangguan di masa mendatang. Kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, dan operator telekomunikasi terus menjadi kunci untuk memastikan ketahanan infrastruktur digital di seluruh provinsi.